Bersama al-Qur'an (99)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Ketujuh Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Tobat dari dosa dan kebaikan
Salah satu kekurangan manusia adalah tidak akan pernah terlepas dari khilaf, melakukan kesalahan dan dosa selama hidupnya. Artinya, setiap orang dalam menjalani kehidupan sepanjang hayatnya akan pernah berbuat salah, keliru, atau lalai terhadap tugas dan tanggung jawab, apakah terhadap dirinya sendiri, orang lain atau kepada Allah swt. Salah satu penyebabnya karena manusia tidak luput dari godaan syaithan yang memang bertugas untuk mengganggu, menghalangi manusia untuk berbuat baik. Karena kelemahan itu maka adalah niscaya jika manusia sering dikalahkan oleh pengaruh syaithan. Manusia pertama yang takluk di hadapan syaithan adalah bapak manusia, nabi Adam as. yang membuatnya di tempatkan di bumi. Ketidakmampuan Adam as menolak godaan syaithan digambarkan dalam al-Qur'an pada surah Thaha ayat 120-121 :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
Artinya : Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ
Artinya : Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
Kedua ayat tersebut menggambarkan bahwa godaan syaithan sangat kuat. Akhirnya Adam tidak bisa mengikuti perintah Allah agar tidak makan buah. Atas perbuatan Adam as itu, ia dikeluarkan dari surga. Surah al-Baqarah ayat 36 menjelaskan :
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Artinya :
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".
Adam as lalu bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Allah lalu menerima tobatnya. Ini dijelaskan ayat 37 dari surah al-Baqarah :
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya :
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Tobat nabi Adam as tersebut menunjukkan bahwa
setiap keburukan, kesalahan, dosa yang dikerjakan oleh manusia harus ditinggalkan, ditobatkan. Tobat tidak berdiri sendiri. Orang yang tobat tidak hanya meninggalkan perbuatan dosa tetapi ia harus melakukan sesuatu yang disukai Allah swt. Allah selalu standby menerima tobat hamba-Nya.
Al-Qur'an pada Surah az-Zumar ayat 53 :
۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat tersebut dapat dipahami sebagai informasi bahwa Allah membuka diri bersedia memaafkan setiap orang yang berdosa dan melakukan kemaksiatan. Dosa- dosa yang dilakukan harus didasari keikhlasan, penyesalan, berhenti melakukan dosa dan bertekad tidak mengulanginya lagi, serta melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh.
Sebahagian ulama berpendapat bahwa bukan hanya perbuatan dosa yang ditobatkan, ditinggalkan, tetapi kebaikan-kebaikan juga harus ditobatkan. Bagaimana penjelasannya ?.
1). Kita sudah melakukan kebaikan tetapi kebaikan itu masih sangat kurang kita lakukan, di bawah standar. Misalnya salat. Kita tidak pernah lalai mengerjakan
salat tetapi kita selalu salat di akhir waktu, selalu ditunda. Orang yang menunda salat termasuk orang yang lalai.
Al-Qur'an mengingatkan dalam surah al-Ma'un ayat 5 :
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Kata lalai (saahuun) dalam ayat ini dimaknai para ahli tafsir yaitu orang yang selalu salat di akhir waktu.
Keterlambatan salat seperti ini harus disadari dan ditobatkan, diganti dari akhir menjadi awal.
2). Kebaikan lain yang perlu ditobatkan adalah kebaikan yang diketahui manfaatnya. Banyak hal dalam pengetahuan kita sesuatu kebaikan tetapi kita tidak lakukan padahal kita mampu melakukannya. Hal ini bisa berkaitan pekerjaan dan tugas di rumah, di kantor, atau di mana saja. Bisa dalam bentuk lisan, tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materi.
Di hari ketujuh puasa hari ini semoga kelalaian, dosa yang pernah dibuat kita tobatkan, kita ganti dengan kebaikan-kebaikan. Kurangnya ibadah, kebaikan yang mungkin terdapat pada diri kita, bisa ditambah, ditingkatkan, diperbaiki kualitasnya. Semoga Allah menerima tobat kita dan senantiasa memberi kekuatan sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik.
Ya Allah kami bermohon dan berlindung kepada-Mu dari kekurangan, keburukan dari diri kami sendiri.
آمين يارب العٰلمين .
والله أعلم بالصواب
Ternate, Ahad, 07 Ramadhan 1440 H/ 12 Mei 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Ketujuh Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Tobat dari dosa dan kebaikan
Salah satu kekurangan manusia adalah tidak akan pernah terlepas dari khilaf, melakukan kesalahan dan dosa selama hidupnya. Artinya, setiap orang dalam menjalani kehidupan sepanjang hayatnya akan pernah berbuat salah, keliru, atau lalai terhadap tugas dan tanggung jawab, apakah terhadap dirinya sendiri, orang lain atau kepada Allah swt. Salah satu penyebabnya karena manusia tidak luput dari godaan syaithan yang memang bertugas untuk mengganggu, menghalangi manusia untuk berbuat baik. Karena kelemahan itu maka adalah niscaya jika manusia sering dikalahkan oleh pengaruh syaithan. Manusia pertama yang takluk di hadapan syaithan adalah bapak manusia, nabi Adam as. yang membuatnya di tempatkan di bumi. Ketidakmampuan Adam as menolak godaan syaithan digambarkan dalam al-Qur'an pada surah Thaha ayat 120-121 :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
Artinya : Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ
Artinya : Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
Kedua ayat tersebut menggambarkan bahwa godaan syaithan sangat kuat. Akhirnya Adam tidak bisa mengikuti perintah Allah agar tidak makan buah. Atas perbuatan Adam as itu, ia dikeluarkan dari surga. Surah al-Baqarah ayat 36 menjelaskan :
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Artinya :
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".
Adam as lalu bertobat dan memohon ampun kepada Allah. Allah lalu menerima tobatnya. Ini dijelaskan ayat 37 dari surah al-Baqarah :
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya :
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
Tobat nabi Adam as tersebut menunjukkan bahwa
setiap keburukan, kesalahan, dosa yang dikerjakan oleh manusia harus ditinggalkan, ditobatkan. Tobat tidak berdiri sendiri. Orang yang tobat tidak hanya meninggalkan perbuatan dosa tetapi ia harus melakukan sesuatu yang disukai Allah swt. Allah selalu standby menerima tobat hamba-Nya.
Al-Qur'an pada Surah az-Zumar ayat 53 :
۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat tersebut dapat dipahami sebagai informasi bahwa Allah membuka diri bersedia memaafkan setiap orang yang berdosa dan melakukan kemaksiatan. Dosa- dosa yang dilakukan harus didasari keikhlasan, penyesalan, berhenti melakukan dosa dan bertekad tidak mengulanginya lagi, serta melakukan kebaikan dengan sungguh-sungguh.
Sebahagian ulama berpendapat bahwa bukan hanya perbuatan dosa yang ditobatkan, ditinggalkan, tetapi kebaikan-kebaikan juga harus ditobatkan. Bagaimana penjelasannya ?.
1). Kita sudah melakukan kebaikan tetapi kebaikan itu masih sangat kurang kita lakukan, di bawah standar. Misalnya salat. Kita tidak pernah lalai mengerjakan
salat tetapi kita selalu salat di akhir waktu, selalu ditunda. Orang yang menunda salat termasuk orang yang lalai.
Al-Qur'an mengingatkan dalam surah al-Ma'un ayat 5 :
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Kata lalai (saahuun) dalam ayat ini dimaknai para ahli tafsir yaitu orang yang selalu salat di akhir waktu.
Keterlambatan salat seperti ini harus disadari dan ditobatkan, diganti dari akhir menjadi awal.
2). Kebaikan lain yang perlu ditobatkan adalah kebaikan yang diketahui manfaatnya. Banyak hal dalam pengetahuan kita sesuatu kebaikan tetapi kita tidak lakukan padahal kita mampu melakukannya. Hal ini bisa berkaitan pekerjaan dan tugas di rumah, di kantor, atau di mana saja. Bisa dalam bentuk lisan, tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materi.
Di hari ketujuh puasa hari ini semoga kelalaian, dosa yang pernah dibuat kita tobatkan, kita ganti dengan kebaikan-kebaikan. Kurangnya ibadah, kebaikan yang mungkin terdapat pada diri kita, bisa ditambah, ditingkatkan, diperbaiki kualitasnya. Semoga Allah menerima tobat kita dan senantiasa memberi kekuatan sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik.
Ya Allah kami bermohon dan berlindung kepada-Mu dari kekurangan, keburukan dari diri kami sendiri.
آمين يارب العٰلمين .
والله أعلم بالصواب
Ternate, Ahad, 07 Ramadhan 1440 H/ 12 Mei 2019
Comments
Post a Comment