Bersama al-Qur'an (92)
(إقرأ)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
IAIN Ternate
Kata "Kafir" yang Mencerdaskan
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Salah satu kitab yang paling populer di dunia, sangat diminati untuk dibaca, dikaji adalah kitab al-Qur'an. Kitab ini tidak hanya dimonopoli oleh orang Islam tetapi juga dikaji oleh non muslim dari waktu ke waktu sampai saat ini. Al-Qur'an telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa internasional bahkan lokal. Salah satu bahasa lokal adalah bahasa daerah Mandar di Sulawesi Barat. Kitab terjemahan al-Qur'an berbahasa Mandar itu dipajang di lemari dalam kelompok bahasa Asia di Percetakan al-Qur'an di Madinah. Mengapa al-Qur'an ? Al-Qur'an dikaji oleh ummat Islam sebagai kitab petunjuk, sumber utama ajaran Islam. Sedang kajian terhadap al-Qur'an yang dilakukan non muslim adalah untuk tujuan ilmu pengetahuan. Al-Qur'an sarat makna, sarat pengetahuan, berisi berbagai hal yang dibutuhkan oleh manusia. Kajian para ulama, cendekiawan terhadap al-Qur'an melahirkan banyak kitab ilmu, ada ilmu fikih, ushul fikih, tauhid, ilmu kalam, bahasa Arab, tafsir, metodologi tafsir, madzhab tafsir, penelitian tafsir, ulum al-Qur'an dan lain-lain dan tumbuh berkesinambungan dari masa ke masa sampai hari ini dan tetap akan berlanjut sepanjang hidup manusia. Kajian terhadap al-Qur'an berdasarkan kapasitas keilmuan para ulama. Perbedaan keilmuan sangat memungkinkan menghasilkan karya yang berbeda. Para ahli tafsir misalnya, sarjana hukum, ahli hukum yang mengkaji al-Qur'an tentu akan berbeda dengan ahli bahasa dan sastera. Ahli hukum akan melahirkan tafsir bercorak hukum, sedang ahli bahasa melahirkan tafsir bercorak bahasa dan sastera. Demikian juga yang lainnya, ulama tasauf (sufi) akan melahirkan tafsir bercorak tasauf. Termasuk kajian tematik dalam bidang sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, matematika, komputer dan lain-lain. Artinya, al-Qur'an terbuka ditafsirkan dan sangat memungkinkan melahirkan karya tafsir yang berbeda, termasuk dalam kajian keislaman lainnya. Perbedaan geografis, tempat tinggal mufassir juga bisa melahirkan karya yang berbeda. Mufassir Indonesia akan berbeda mufassir di Mekkah. Mufassir yang lahir, berada di Mekkah boleh jadi kajiannya terfokus terhadap al-Qur'an dan sunnah secara internal dan tekstual. Oleh karena itu, kelompok ini banyak bersandar kepada perkataan nabi dan sahabat. Sedangkan mufassir di Indonesia selain secara tekstual juga kontekstual. Bagaimana al-Qur'an berbicara tentang kerukunan, persaudaraan, keragaman, semua dikaji dalam perspektif al-Qur'an.
Tradisi halal bi halal yang dilaksanakan baik oleh masyarakat maupun lembaga di Indonesia tidak ada di Mekkah. Karena itu, di Indonesia banyak kajian tentang halal bi halal perspektif al-Qur'an. Perbedaan ini tidak akan pernah berhenti karena ia adalah anugerah Allah swt. Perbedaan adalah disain (design) Allah swt. Seandainya Allah ingin menjadikan manusia sama semua, berpendapat sama sangat mudah bagi Allah, tetapi Allah tidak melakukannya. Al-Qur'an surah Hud ayat 118 :
Tradisi halal bi halal yang dilaksanakan baik oleh masyarakat maupun lembaga di Indonesia tidak ada di Mekkah. Karena itu, di Indonesia banyak kajian tentang halal bi halal perspektif al-Qur'an. Perbedaan ini tidak akan pernah berhenti karena ia adalah anugerah Allah swt. Perbedaan adalah disain (design) Allah swt. Seandainya Allah ingin menjadikan manusia sama semua, berpendapat sama sangat mudah bagi Allah, tetapi Allah tidak melakukannya. Al-Qur'an surah Hud ayat 118 :
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
Artinya :
"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat".
Boleh jadi tujuannya agar kita saling menghargai, menghormati perbedaan, memahami ada kekurangan dan kelebihan, kita belajar. Kita baca al-Qur'an, kita kaji, kita pahami, kita amalkan lalu kita saling berbagi.
"Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat".
Boleh jadi tujuannya agar kita saling menghargai, menghormati perbedaan, memahami ada kekurangan dan kelebihan, kita belajar. Kita baca al-Qur'an, kita kaji, kita pahami, kita amalkan lalu kita saling berbagi.
Salah satu kata yang digunakan al-Qur'an dan saat ini menjadi viral adalah kata "kafir" (kufr). Kata ini dapat dimaknai secara berbeda berdasarkan perbedaan cara pandang atau kacamata yang digunakan. Kata kafir (kufr) secara bahasa berarti tertutup/menutupi (الستر). Al-Qur'an menggunakan kata kuffar (kafir) ditujukan kepada petani karena petani ketika menanam ia menutupi. Biji/bibit yang ditanam ditutupi oleh tanah. Al-Qur'an pada surah al-Hadid ayat 20 :
كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا
Artinya :
... seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Kata kuffar (kafir) dalam ayat 20 tersebut diartikan dengan "para petani". Malam (gelapnya malam) juga disebut kufr karena menutupi. Sama dengan pakaian menutupi tubuh. Al-Qur'an surah An-Naba' ayat 10 :
... seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Kata kuffar (kafir) dalam ayat 20 tersebut diartikan dengan "para petani". Malam (gelapnya malam) juga disebut kufr karena menutupi. Sama dengan pakaian menutupi tubuh. Al-Qur'an surah An-Naba' ayat 10 :
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا
Artinya :
dan Kami jadikan malam sebagai pakaian (penutup).
dan Kami jadikan malam sebagai pakaian (penutup).
Orang yang tertutup terhadap kebenaran yang dibawa nabi Muhammad saw, mengingkarinya adalah kafir lawan dari kata mukmin. Orang yang tertutup terhadap nikmat Allah yang begitu banyak disebut kufr lawan kata syukur. Orang yang ada di dalam kubur juga disebut kufr karena tertutup, tidak bisa melihat
( لا يشاهدون ). Pengembangan makna kafir oleh para ulama misalnya :
1. Kafir munafik lisannya mengakui kebenaran rasul saw tetapi hatinya menolak.
( لا يشاهدون ). Pengembangan makna kafir oleh para ulama misalnya :
1. Kafir munafik lisannya mengakui kebenaran rasul saw tetapi hatinya menolak.
وكفر نفاق: بأن يُقرّ لسانا ويُنكر قلبا.
2. Kafir Inkar mengingkari, tidak mengakui Allah swt, nabi Muhammad saw dan apa yang dibawanya.
ـ وكفر إنكار: بأن لا يعرف الله أصلاً ولا يقر به.
3. Kafir Juhud mengakui dalam hati kebenaran nabi Muhammad saw tetapi mengingkari dengan lisan. Jenis ini sama dengan kekafiran Iblis.
ـ وكفر جحود: بأن يعرفه قلبًا وينكره لسانًا، ككفر إبليس.
Orang kafir (kufr) karena tertutup hatinya tidak akan melihat dan merasakan kebenaran. Hati yang tertutup jika diberi peringatan atau tidak sama saja, ia akan tetap tertutup tidak dapat melihat kebenaran yang disampaikan kepadanya.
Al-Qur'an pada surah al-Baqarah ayat 6 :
Al-Qur'an pada surah al-Baqarah ayat 6 :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Artinya :
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita dapat berkata 1. Bahwa viralnya pembicaraan tentang kata kafir identik dengan viralnya pembicaraan tentang isi al-Qur'an. Sejak munculnya kata kafir di medsos beberapa hari lalu, para cendekiawan muslim, mahasiswa, pengguna medsos, netizen berusaha turut mengambil peran baik melalui komentar, menulis tentang kafir, dan yang terutama adalah banyak kalangan yang ingin mengetahui makna kafir yang sesungguhnya menurut pandangan agama Islam.
2. Dalam perspektif al-Qur'an, kata kafir (kufr) tidak hanya identik, ditujukan kepada non muslim, tetapi juga bisa disandang oleh muslim baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, bahkan oleh ciptaan Allah lainnya.
3. Tulisan, bacaan tentang kafir baik melalui fb, You Tube, video dan lain-lain menjadikan al-Qur'an sebagai bahan kajian yang selalu menarik untuk dibaca, dipelajari, dan dikaji. Kajian tersebut diharapkan dapat mencerdaskan, meningkatkan kecerdasan intelektual dan spritual kita dalam berbangsa dan bernegara, memelihara perbedaan sebagai anugerah dari Allah swt.
2. Dalam perspektif al-Qur'an, kata kafir (kufr) tidak hanya identik, ditujukan kepada non muslim, tetapi juga bisa disandang oleh muslim baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, bahkan oleh ciptaan Allah lainnya.
3. Tulisan, bacaan tentang kafir baik melalui fb, You Tube, video dan lain-lain menjadikan al-Qur'an sebagai bahan kajian yang selalu menarik untuk dibaca, dipelajari, dan dikaji. Kajian tersebut diharapkan dapat mencerdaskan, meningkatkan kecerdasan intelektual dan spritual kita dalam berbangsa dan bernegara, memelihara perbedaan sebagai anugerah dari Allah swt.
والله أعلم بالصواب
Bandara Sultan Hasanuddin, Selasa 05 Maret 2019
Comments
Post a Comment