Bersama al-Qur'an (91)
(إقرأ)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
IAIN Ternate
Memilih Jadi Pemain dari pada Jadi Hakim (Wasit)
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Saat anak baru lahir ke bumi, ia menangis. Tanda bahwa ia normal. Dalam dunia medis, anak yang baru lahir tidak menangis bisa disebabkan ada sumbatan sehingga sulit bernapas dan mengeluarkan suara. Bayi yang baru berada di dunia nyata itu langsung beradaptasi dengan lingkungannya. Atas kuasa Allah, hanya hitungan menit, ada yang langsung disusui oleh ibunya. Meski belum bisa memilih, masih dibantu, diarahkan, tetapi ia sudah dibekali alat yang cukup. Ia memiliki pendengaran, penglihatan dan hati, akal pikiran.
Al-Qur'an surah al-Nahl ayat 78 :
Al-Qur'an surah al-Nahl ayat 78 :
وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya :
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur".
Di usianya yang baru, si bayi baru sebatas tertawa, menangis. Akalnya belum aktif untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika diamati, baru pendengaran dan penglihatannya yang berfungsi. Ia bisa melihat orang yang ada di dekatnya, bisa mendengar suara ibu yang menggendongnya. Hari demi hari, si kecil semakin lincah, menggemaskan. Beranjak ke usia kanak-kanak, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk dirinya. Ia lebih banyak bermain. Secara kasak mata, ia bermain untuk memuaskan dirinya sendiri. Meski tidak dapat digeneralisasi karena banyak anak kecil di tempat lain tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain seperti anak kebanyakan, karena hari-harinya diisi dengan belajar dan menghafal ayat-ayat al-Qur'an sehingga di usia 5-7 tahun sudah menghafal al-Qur'an 30 juz. Memang, di kehidupan nyata ini, selalu ada perbedaan. Buktinya, ketika seseorang beranjak remaja, ada yang suka hidup santai, puas dengan dirinya, menikmati masa mudanya apa adanya. Ada juga yang sudah memiliki kesadaran, mengisi waktu-waktunya dengan sesuatu yang bermanfaat, berkarya, berusaha menjadi lebih baik, ada keinginan untuk berubah. Perbedaan ini berlanjut sampai seseorang menjadi dewasa, berkeluarga. Ada perbedaan usaha, lapangan kerja, jabatan, dan lain-lain.
Dalam al-Qur'an dapat ditemukan beberapa ayat berbicara tentang perbedaan. Di antaranya :
1). Perbedaan Usaha.
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur".
Di usianya yang baru, si bayi baru sebatas tertawa, menangis. Akalnya belum aktif untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jika diamati, baru pendengaran dan penglihatannya yang berfungsi. Ia bisa melihat orang yang ada di dekatnya, bisa mendengar suara ibu yang menggendongnya. Hari demi hari, si kecil semakin lincah, menggemaskan. Beranjak ke usia kanak-kanak, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk dirinya. Ia lebih banyak bermain. Secara kasak mata, ia bermain untuk memuaskan dirinya sendiri. Meski tidak dapat digeneralisasi karena banyak anak kecil di tempat lain tidak memiliki waktu yang cukup untuk bermain seperti anak kebanyakan, karena hari-harinya diisi dengan belajar dan menghafal ayat-ayat al-Qur'an sehingga di usia 5-7 tahun sudah menghafal al-Qur'an 30 juz. Memang, di kehidupan nyata ini, selalu ada perbedaan. Buktinya, ketika seseorang beranjak remaja, ada yang suka hidup santai, puas dengan dirinya, menikmati masa mudanya apa adanya. Ada juga yang sudah memiliki kesadaran, mengisi waktu-waktunya dengan sesuatu yang bermanfaat, berkarya, berusaha menjadi lebih baik, ada keinginan untuk berubah. Perbedaan ini berlanjut sampai seseorang menjadi dewasa, berkeluarga. Ada perbedaan usaha, lapangan kerja, jabatan, dan lain-lain.
Dalam al-Qur'an dapat ditemukan beberapa ayat berbicara tentang perbedaan. Di antaranya :
1). Perbedaan Usaha.
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ
"Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda", (QS Al-Lail : 4).
2). Perbedaan Derajat.
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ ٱلْأَرْضِ
وَ
رَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلْعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
وَ
رَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلْعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌۢ
"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang", (QS Al-An’am : 165).
Ayat ini dimaknai para ulama bahwa manusia berbeda dalam berbagai hal, dalam hal rezeki. Ada yang diberi jabatan tinggi, harta yang banyak, ilmu yang dalam, dan lain-lain. Semua rezeki bila dibarengi dengan iman, digunakan untuk beribadah menjadikannya mulia. Ia diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat. Surah al-Mujadilah ayat 11 menjelaskan :
Ayat ini dimaknai para ulama bahwa manusia berbeda dalam berbagai hal, dalam hal rezeki. Ada yang diberi jabatan tinggi, harta yang banyak, ilmu yang dalam, dan lain-lain. Semua rezeki bila dibarengi dengan iman, digunakan untuk beribadah menjadikannya mulia. Ia diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat. Surah al-Mujadilah ayat 11 menjelaskan :
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dalam ayat yang lain, surah Fathir ayat 28 :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya :
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".
Kedua ayat di atas menyiratkan makna bahwa orang yang berilmu dan beriman adalah orang yang memahami agama, mengenal Allah secara mendalam, selain takut kepada Allah mereka juga ditinggikan derajatnya. Berdasarkan kedua ayat tersebut, mungkin kita bisa berkata bahwa sebagai muslim kita berusaha menjadi orang yang selalu takut kepada Allah, dekat kepada-Nya, fokus melakukan amal-amal kebaikan.
Hari ini saya baca tulisan di beranda fb. Tulisan itu menginspirasi bagaimana menjaga komitmen. Bahagian tulisan yang ditulis oleh Amal Kwider itu adalah :
- رأى رجل امرأة جميلة فقال لها لقد سرق حبك قلبي فأنت أجمل من رأت عيني
فقالت له إن أختي ورائي هي أجمل مني و أحسن مني فنظر الرجل فلم يجد شيئا فقالت المرأة
لو صدقت ما التفت
فقالت له إن أختي ورائي هي أجمل مني و أحسن مني فنظر الرجل فلم يجد شيئا فقالت المرأة
لو صدقت ما التفت
Artinya/maksudnya :
Seorang lelaki melihat (memandang) seorang perempuan cantik yang berada di depannya. "Sesungguhnya kecantikanmu telah mencuri hatiku, kamu adalah wanita paling cantik di mataku", kata laki-laki kepada perempuan yang dikaguminya. "Sesungguhnya saudara perempuan saya yang ada di belakang saya lebih cantik dan lebih baik dari saya", kata perempuan kepada laki-laki. Lelaki itu kemudian memalingkan pandangannya ke belakang wanita itu, tetapi ia tidak melihat ada wanita lain sebagaimana yang dikatakan oleh wanita tersebut. Lalu si wanita berkata kepada si lelaki "seandainya anda sungguh mencintaiku, pasti kamu tetap memandangiku, kamu tidak akan memalingkan pandanganmu".
Seorang lelaki melihat (memandang) seorang perempuan cantik yang berada di depannya. "Sesungguhnya kecantikanmu telah mencuri hatiku, kamu adalah wanita paling cantik di mataku", kata laki-laki kepada perempuan yang dikaguminya. "Sesungguhnya saudara perempuan saya yang ada di belakang saya lebih cantik dan lebih baik dari saya", kata perempuan kepada laki-laki. Lelaki itu kemudian memalingkan pandangannya ke belakang wanita itu, tetapi ia tidak melihat ada wanita lain sebagaimana yang dikatakan oleh wanita tersebut. Lalu si wanita berkata kepada si lelaki "seandainya anda sungguh mencintaiku, pasti kamu tetap memandangiku, kamu tidak akan memalingkan pandanganmu".
Tulisan tersebut mengajarkan kalau kita betul-betul mencintai sesuatu, maka kita tidak akan berpaling ke sesuatu yang lain. Jika kita sungguh mencintai Allah, maka kita berkomitmen, berjanji kepada diri sendiri untuk fokus mencintai Allah dan tidak berpaling kepada selain-Nya. Mungkin dalam hal ini bisa kita gunakan kata pemain dan wasit. Pemain dan Wasit meski ada persamaannya, tetapi perbedaannya lebih tampak. Pemain dan Wasit sama-sama subyek, pelaku, faa'il (فاعل). Perbedaannya, pemain mencari kemenangan, keberhasilan sedang wasit mencari kesalahan pemain. Jika disederhanakan dan dikaitkan dengan realitas sosial di sekitar kita, pemain berusaha fokus, agar bisa mencapai tujuannya sedang wasit mencari kesalahan dan pelanggaran.
Dalam melakoni hidup ini sebaiknya kita berperan sebagai pemain bukan sebagai wasit. Sebagai mukmin, kita fokus berbuat kebaikan, kita fokus mencintai Allah. Orang merasa berilmu misalnya, sudah menghafal al-Qur'an, menghafal hadis, punya jamaah, komunitas, follower tertentu sejatinya fokus berdakwah, mengajarkan ilmunya dan tidak berpaling berperan menjadi wasit yang mencari kesalahan dan kekurangan ulama atau orang lain. Kalau misalnya, berbeda pendapat tidak perlu ngotot mempertahankan pendapatnya dan menyalahkan orang lain. Toh pada akhirnya Allah juga yang akan menilainya. Allah menjelaskan :
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Artinya :
"Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya", (QS Al-Isra’ : 84).
Selain itu, ketika seseorang, orang yang berilmu diwasiti orang lain, tentu juga tidak akan luput dari kesalahan dan kekurangan. Manusia adalah tempat salah dan khilaf, tidak sempurna, semua memiliki kekurangan. Dalam kaitan ini kita patut menghargai para ulama. Biasanya ketika mengakhiri tulisan-tulisan mereka, diakhiri dengan kata :
والله أعلم
(Dan Allah Maha Mengetahui). Kata ini selain sebagai penegasan bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah, juga sikap tawadhu', rendah hati penulisnya.
"Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya", (QS Al-Isra’ : 84).
Selain itu, ketika seseorang, orang yang berilmu diwasiti orang lain, tentu juga tidak akan luput dari kesalahan dan kekurangan. Manusia adalah tempat salah dan khilaf, tidak sempurna, semua memiliki kekurangan. Dalam kaitan ini kita patut menghargai para ulama. Biasanya ketika mengakhiri tulisan-tulisan mereka, diakhiri dengan kata :
والله أعلم
(Dan Allah Maha Mengetahui). Kata ini selain sebagai penegasan bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah, juga sikap tawadhu', rendah hati penulisnya.
Dari bacaan kita hari ini, mungkin kita bisa berkata bahwa kalimat "jika kamu benar mencintaiku tentu kamu tidak akan berpaling dariku" bisa menjadi tolok ukur cinta kita kepada Allah swt, rasa hormat kita kepada sesama. Jika kita mencintai dan selalu mendekatkan diri kepada Allah swt tentulah kita tidak akan berpaling dari-Nya. Kita akan selalu berusaha berbuat baik, mencetak amal-amal positif. Kita tidak akan mengorbankan cinta itu dengan berpaling kepada hal-hal yang tidak bermanfaat yang menjauhkan kita dari-Nya. Jika kita ingin menjaga ukhuwah, persaudaraan, pertemanan di antara kita, tentu kita menjadi pemain yang berkomitmen untuk saling menghormati, saling sharing kebaikan dan tidak berpaling menjadi wasit yang yang mencari kesalahan dan kekurangan masing-masing.
والله أعلم بالصواب
Ternate, Ahad, 24 Februari 2019.
Comments
Post a Comment