Bersama al-Qur'an (90)
(إقرأ)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
IAIN Ternate
Menumbuhkan kesadaran, Meningkatkan rasa cinta
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Ayat kauniah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Disadari atau tidak, semua makhluk di bumi termasuk manusia tidak pernah terpisah dari Penciptanya, yang dalam istilah agama Islam disebut Sang Khaliq, Allah swt. Dialah Allah Yang Maha Pemelihara, Maha Melihat, Maha Pemberi rezeki, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Di setiap tempat dan waktu, Allah selalu bersama makhluk-Nya, hamba-Nya. Dia hadir melalui rahmat, hidayah, dan sifat rahman-Nya. Setiap muslim ketika mengerjakan pekerjaan yang baik diawali bacaan
بسم الله الرحمن الرحيم
(dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang). Maksudnya, setiap saat, sifat rahman Allah selalu hadir bersama hamba-Nya. Contohnya, laut yang luas menjadi sarana perhubungan. Manusia berjalan di atasnya dengan kapal laut, kapal penyeberangan, feri, speed, dan kendaraan laut lainnya. Semuanya dapat dilakukan karena di sana ada Allah. Allah hadir dengan kekuasaan-Nya. Allahlah Yang Maha Kuasa menundukkan, menjinakkan laut untuk memudahkan kapal dan perahu berlayar di atasnya. Di laut, ada berbagai jenis ikan disediakan Allah untuk kebutuhan manusia dan masih banyak nikmat lainnya sebagai rezeki dari Allah.
Al-Qur'an Surah al-Nahl ayat 14 :
بسم الله الرحمن الرحيم
(dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang). Maksudnya, setiap saat, sifat rahman Allah selalu hadir bersama hamba-Nya. Contohnya, laut yang luas menjadi sarana perhubungan. Manusia berjalan di atasnya dengan kapal laut, kapal penyeberangan, feri, speed, dan kendaraan laut lainnya. Semuanya dapat dilakukan karena di sana ada Allah. Allah hadir dengan kekuasaan-Nya. Allahlah Yang Maha Kuasa menundukkan, menjinakkan laut untuk memudahkan kapal dan perahu berlayar di atasnya. Di laut, ada berbagai jenis ikan disediakan Allah untuk kebutuhan manusia dan masih banyak nikmat lainnya sebagai rezeki dari Allah.
Al-Qur'an Surah al-Nahl ayat 14 :
وَهُوَ ٱلَّذِى سَخَّرَ ٱلْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا۟ مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا۟ مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى ٱلْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya :
"Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur".
Di langit juga demikian. Dari langit, Allah turunkan air hujan lalu dengan air hujan itu mengenai bumi. Dari dalam bumi, tumbuh biji-bijian, berbagai tumbuhan kemudian menjadi pepohonan dengan buah yang berbeda-beda baik dari segi warna dan rasa.
Al-Qur'an Surah Ibrahim ayat 32 :
"Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur".
Di langit juga demikian. Dari langit, Allah turunkan air hujan lalu dengan air hujan itu mengenai bumi. Dari dalam bumi, tumbuh biji-bijian, berbagai tumbuhan kemudian menjadi pepohonan dengan buah yang berbeda-beda baik dari segi warna dan rasa.
Al-Qur'an Surah Ibrahim ayat 32 :
اَللّٰہُ الَّذِیۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ
Artinya :
"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu".
Allah menundukkan langit agar manusia bisa berjalan di atasnya melalui pesawat untuk mencari rezeki. Di daratan dan di pegunungan juga sama. Di sana ada sifat rahman Allah. Bumi dihamparkan, gunung diletakkan, serta langit ditinggikan sebagai tempat manusia mencari rezeki. Pada diri manusia di setiap gerak dan langkahnya juga ada Allah. Allah yang menciptakan manusia dengan sempurna, Allah yang memberi batasan umur, kemampuan, lalu memberi petunjuk. Al-Qur'an Surah Thaha ayat 50 :
"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu".
Allah menundukkan langit agar manusia bisa berjalan di atasnya melalui pesawat untuk mencari rezeki. Di daratan dan di pegunungan juga sama. Di sana ada sifat rahman Allah. Bumi dihamparkan, gunung diletakkan, serta langit ditinggikan sebagai tempat manusia mencari rezeki. Pada diri manusia di setiap gerak dan langkahnya juga ada Allah. Allah yang menciptakan manusia dengan sempurna, Allah yang memberi batasan umur, kemampuan, lalu memberi petunjuk. Al-Qur'an Surah Thaha ayat 50 :
رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ
Artinya :
"Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.
Bagi manusia, semua pemberian itu menjadi bekal dalam beraktifitas, bekerja dan berkarya.
"Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.
Bagi manusia, semua pemberian itu menjadi bekal dalam beraktifitas, bekerja dan berkarya.
Orang yang dekat kepada Allah melalui amal ibadahnya mengekspresikan begitu dekatnya Allah swt. dengan beberapa ungkapan sbb :
1. مارأيت شيأ إلا ورأيت الله قبله
2. مارأيت شيأ إلا ورأيت الله معه
3. مارأيت شيأ إلا ورأيت الله بعده
4. مارأيت شيأ إلا ورأيت الله فيه
2. مارأيت شيأ إلا ورأيت الله معه
3. مارأيت شيأ إلا ورأيت الله بعده
4. مارأيت شيأ إلا ورأيت الله فيه
Maksudnya :
1. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah sebelumnya.
2. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah bersamanya.
3. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah sesudahnya.
4. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah di dalamnya.
1. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah sebelumnya.
2. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah bersamanya.
3. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah sesudahnya.
4. Saya tidak melihat sesuatu kecuali saya melihat Allah di dalamnya.
Jika kita ingin menyederhanakan pemahaman kita berkaitan keempat ungkapan tersebut, mungkin kita bisa berkata bahwa orang-orang yang dekat kepada Allah sangat merasakan dekatnya Allah swt.
Contohnya, ketika ia melihat sesuatu ada empat kedekatan. Sebelum melihat sesuatu, ia telah melihat kebesaran Allah sebagai Sang Khaliq dengan segala kesempurnaan-Nya. Kedua, saat melihat sesuatu ia melihat kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta dalam waktu yang bersamaan. Ketiga, di balik yang ia lihat di sana ada kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta dengan segala sifat kemuliaan-Nya.
Keempat, ketika melihat sesuatu, ia melihat kebesaran Allah ada di dalamnya.
Contohnya, ketika ia melihat sesuatu ada empat kedekatan. Sebelum melihat sesuatu, ia telah melihat kebesaran Allah sebagai Sang Khaliq dengan segala kesempurnaan-Nya. Kedua, saat melihat sesuatu ia melihat kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta dalam waktu yang bersamaan. Ketiga, di balik yang ia lihat di sana ada kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta dengan segala sifat kemuliaan-Nya.
Keempat, ketika melihat sesuatu, ia melihat kebesaran Allah ada di dalamnya.
Manusia adalah
Makhluk yang tidak hanya sempurna penciptaannya, dia juga makhluk yang mulia. Kemuliaan manusia bukan karena bentuk dan rupanya, tetapi manusia mulia karena
pandai memanfaatkan kehadiran Allah pada dirinya. Ia mulia karena pandai berterima kasih. Kepandaian inilah tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Kemampuan manusia bersyukur karena melalui akal, pikiran, dan hatinya. Itulah sebabnya ketika manusia tidak lagi menggunakan akal, nuraninya, maka pada saat yang sama ia tidak lagi menyandang kemuliaan tetapi boleh jadi sama dengan binatang bahkan lebih rendah dari binatang. Ia tidak menggunakan akal pikirannya, yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan, segala cara dihalalkan, tidak ada lagi pemisah antara yang hak dan yang benar, dunia menjadi idola sedang akhirat dianggap kuno dan tidak gaul.
Al-Qur'an Surah al-A'raf ayat 179 :
Makhluk yang tidak hanya sempurna penciptaannya, dia juga makhluk yang mulia. Kemuliaan manusia bukan karena bentuk dan rupanya, tetapi manusia mulia karena
pandai memanfaatkan kehadiran Allah pada dirinya. Ia mulia karena pandai berterima kasih. Kepandaian inilah tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Kemampuan manusia bersyukur karena melalui akal, pikiran, dan hatinya. Itulah sebabnya ketika manusia tidak lagi menggunakan akal, nuraninya, maka pada saat yang sama ia tidak lagi menyandang kemuliaan tetapi boleh jadi sama dengan binatang bahkan lebih rendah dari binatang. Ia tidak menggunakan akal pikirannya, yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan, segala cara dihalalkan, tidak ada lagi pemisah antara yang hak dan yang benar, dunia menjadi idola sedang akhirat dianggap kuno dan tidak gaul.
Al-Qur'an Surah al-A'raf ayat 179 :
لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ
Artinya :
Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Kecintaan Allah kepada manusia begitu besar. Allah memberikan banyak fasilitas untuk manusia bahkan alam dan isinya diciptakan untuk manusia.
Al-Qur'an Surah al-Baqarah ayat 29 :
Al-Qur'an Surah al-Baqarah ayat 29 :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
Artinya :
"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu".
Bumi dengan berbagai macam isinya diperuntukkan kepada manusia untuk kelangsungan hidupnya, selain sebagai sarana untuk mewujudkan kedamaian di permukaan bumi. Manusia ada untuk kebaikan. Kebaikan untuk manusia demi mewujudkan kebaikan-kebaikan dalam berbagai bentuknya. Pendek kata, bahwa tujuan manusia hadir di bumi adalah untuk diuji, sejauhmana ibadah, karyanya apakah ia mampu menjadi yang terbaik, memanfaatkan fasisilitas yang sudah diterima dari Allah swt.
Al-Qur'an Surah al-Mulk ayat 2 :
"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu".
Bumi dengan berbagai macam isinya diperuntukkan kepada manusia untuk kelangsungan hidupnya, selain sebagai sarana untuk mewujudkan kedamaian di permukaan bumi. Manusia ada untuk kebaikan. Kebaikan untuk manusia demi mewujudkan kebaikan-kebaikan dalam berbagai bentuknya. Pendek kata, bahwa tujuan manusia hadir di bumi adalah untuk diuji, sejauhmana ibadah, karyanya apakah ia mampu menjadi yang terbaik, memanfaatkan fasisilitas yang sudah diterima dari Allah swt.
Al-Qur'an Surah al-Mulk ayat 2 :
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
Artinya :
Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Manusia diuji bagaimana ia beribadah secara vertikal dan horisontal. Secara vertikal dalam bentuk memelihara hubungan dengan Sang Khaliq dan secara horisontal memelihara hubungan dengan sesama manusia dan alam sekitar. Menjalin hubungan dengan Allah tentulah dengan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Menjaga hubungan dengan sesama manusia melalui persaudaraan baik persaudaraan karena sama agama, sama negara, sama-sama manusia, sama sebagai makhluk Allah. Dengan kata lain, persaudaraan harus selalu ada siapapun ia. Itulah Islam. Karena itu manusia selalu harus saling menghargai, saling menyayangi karena Allah termasuk menghormati diri sendiri. Bekerja, berkarya, menjadi PNS, tentara, polisi, pedagang, petani, nelayan, atau pekerjaan apa saja yang halal adalah wujud hormat kepada diri pribadi. Manusia ingin menjadi lebih baik. Tujuannya ? Ya, kembali lagi, untuk beribadah kepada-Nya. Harta, jabatan, ilmu semua kemampuan dan fasilitas yang dimiliki adalah jembatan menuju Allah swt.
Rumah yang indah di dunia adalah rumah sementara dan rumah yang sesungguhnya adalah di sana, kembali kepada Allah swt, Sang Pencipta. Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un ( Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya).
Rumah yang indah di dunia adalah rumah sementara dan rumah yang sesungguhnya adalah di sana, kembali kepada Allah swt, Sang Pencipta. Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un ( Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya).
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita bisa berkata bahwa yang paling utama diperioritaskan adalah urusan agama. Agama adalah lebih mulia dari segalanya. Seseorang yang bekerja keras, berusaha untuk selalu berkarya positif, menjadi pejabat, pengusaha yang sukses, menjadi mahasiswa yang berperestasi seharusnya menjadi bahagian dari agama. Artinya, semua itu menjadi perantara, tangga untuk bermikraj kepada Allah swt. Moga kedekatan Allah, kecintaan Allah terhadap hamba-Nya dengan berbagai kenikmatan yang tidak dapat dihitung, kecintaan yang lebih besar dari cinta hamba terhadap Rabbnya mendorong untuk menumbuhkan kesadaran dan meningkatkan rasa cinta kita kepada-Nya. Sebagai manusia yang lemah, tempat khilaf dan kekurangan, kita saling mengingatkan, kita gunakan akal pikiran, hati nurani sebagaimana tuntunan agama untuk menjaga komunikasi dengan Allah secara vertikal, memelihara komunikasi dengan sesama manusia dan makhluk lainnya secara horisontal sebagai upaya meningkatkan cinta kita kepada Allah. Aamiin YRA.
والله أعلم بالصواب
Ternate, Rabu, 20 Februari 2019
Comments
Post a Comment