Bersama al-Qur'an (167)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Manuskrip bukan barang jualan. Ia adalah aset yang harus dijaga, dilestarikan
Maluku Utara yang terkenal dengan nama Maloku Kie Raha dengan empat wilayah kerajaan yaitu Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan menyimpan banyak informasi, cerita, kisah berkaitan ajaran Islam, surat raja, tarekat (tasawuf), hikayat, silsilah, sejarah, hukum waris dan lain-lain. Informasi tersebut terekam, tersimpan dalam berbagai manuskrip di berbagai wilayah yang tersebar di sepuluh kabupaten kota di Maluku Utara. Intelektual masa lalu, menurut Warek I IAIN Ternate, Dr. M. Tahir Sapsuha, M. Ag, harus digali melalui naskah-naskah tradisional. Manuskrip bukan hal kramat. Warek I mewakili Rektor sebelum membuka acara "Sosialisasi Draft
Naskah Akademik Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara" mengharapkan agar kegiatan tersebut memberi manfaat dan menyampaikan terima kasih kepada Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan yang telah memilih IAIN Ternate sebagai tempat pelaksanaan kegiatan. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Ruang Rapat Lt. II IAIN Ternate, Kamis, 15 Agustus 2019 menghadirkan dua nara sumber dari Jakarta dihadiri para peserta dari berbagai unsur. Dari dosen IAIN, UMMU, UNKHAIR, Mahasiswa, Perpustakaan Daerah, Kraton, Tokoh masyarakat, Pemilik Manuskrip, Komunitas Sejarah, dan lainnya.
Relevan dengan yang disampaikan Warek I, nara sumber mengungkapkan bahwa "kearifan lokal, berbagai pengetahuan yang banyak termuat di dalam naskah, manuskrip itu tidak boleh menjadi barang antik, pusaka yang disakralkan tetapi ia harus dapat digali, ditulis kembali, disosialisasikan, disebarluaskan untuk diketahui oleh generasi saat ini, generasi akan datang dan generasi berikutnya, sambung menyambung. Manuskrip antara lain dapat diperoleh di Kraton, Pesantren, Tokoh Masyarakat, Pemilik naskah". Demikian antara lain disampaikan nara sumber pada kegiatan sosialisasi, Dr. Alfan Firmanto (dari Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Pusat) didampingi nara sumber lainnya, Dr. Mu'ziza dari Badan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
Kegiatan sosialisasi menurut nara sumber dilatarbelakangi oleh keinginan dan harapan Menteri Agama kepada Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama
untuk segera menyiapkan naskah akademik terkait pendirian Pusat Kajian Manuskrip Nusantara.
Menurut Menag, tidak semua orang mengetahui dan peduli dengan manuskrip padahal manuskrip memiliki nilai sangat unik, langka dan memiliki makna yang sangat besar. "Mimpi besar kita mewujudkan Pusat Kajian Manuskrip Nusantara," kata Menag dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Jakarta, Sabtu (10/2). Pada kesempatan lain sebagaimana disampaikan Dr. Firmanto, Menteri Agama menegaskan pentingnya kajian manuskrip nusantara. Menurut Menteri : Saat ini nilai-nilai Islam yang dipraktekkan di Nusantara menjadi model keberislaman dunia. Karenanya kajian manuskrip nusantara menjadi sangat penting.
Dr. Firmanto membandingkan dengan negara lain. Di sebuah negara, kata Firmanto menunjuk sebuah negara tertentu, patung yang belum lama dibangun di negara tersebut, dihancurkan, dibom oleh warga yang berbeda keyakinan. Patung yang tadinya berdiri kokoh kemudian menjadi rata dengan tanah. Ini praktek keagamaan yang beraliran keras. Berbeda di Indonesia, ada candi Borobudur, candi Prambanan berdiri kokoh sejak abad silam sampai saat ini. Artinya, Islam masa lalu tidak hadir dalam wujud radikal, aliran garis keras. Islam hadir di Indonesia sejak lama adalah Islam Nusantara, Islam di tengah, Islam Wasathiyah. Islam yang menghadirkan kedamaian.
Karena itu, menurut Dr. Mu'ziza dan Dr. Alfan Firmanto, manuskrip yang masih disimpan oleh warga baik yang ada di Bacan, Hal-Sel maupun yang ada di Maba, Haltim, di Kao, Loloda, dan di beberapa wilayah lainnya hendaknya dapat ditelusuri, didapatkan untuk diarsipkan, didokumentasikan, dikaji sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak. Bahkan Dr. Mu'ziza menyarankan hendaknya ada mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam FUAD, IAIN Ternate melakukan penelitian tentang manuskrip untuk penulisan skripsi.
Dr. Firmanto meyayangkan sikap sebahagian warga mensakralkan manuskrip. Manuskrip disimpan di tempat tertutup. Ia hanya dapat dilihat di waktu tertentu dan sebelum membukanya didahului bacaan doa-doa khusus. Ada juga manuskrip disimpan di dalam bambu, di bergai tempat, digulung sepanjang waktu bertahun-tahun dan ketika bambunya sudah lapuk, manuskrip juga akan lapuk dengan sendirinya. Suatu waktu, lanjut pak Firmanto, manuskrip yang disimpan rapi oleh pemiliknya dicuri oleh anaknya. Manuskrip curian dijual kemudian hasil jualan itu digunakan untuk membeli motor. Ketika sianak mengendarai motornya, di tengah perjalanan, ia ditabrak oleh mobil truck. Nyawa si anak tidak terselamatkan, ia meninggal. Meskipun kematian si anak adalah kehendak Allah disebabkan kelalaian pengemudi truck dan pengendara motor tetapi boleh jadi ada warga yang mengaitkan kematian itu dengan hilangnya manuskrip.
Di sela-sela penjelasannya, Dr. Firmanto mengatakan bahwa secara nasional pemeliharaan, pendokumentasian manuskrip di Indonesia masih lebih baik dari Mesir. Jika kita membutuhkan suatu manuskrip kita bisa dapatkan langsung di Perpustakaan Nasional sedangkan di Mesir harus melalui berbagai tahapan, izin ketat, bahkan dapat berhubungan dengan staf Menteri, sangat sulit (boleh jadi ada pertimbangan lain ?). Namun, satu hal yang menjadi PR bahwa naskah-naskah, manuskrip nusantara banyak berpindah tangan ke pihak lain bahkan sampai ke negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei. Bahkan menurut Dr. Mu'ziza manuskrip nusantara dari Ternate juga dapat ditemukan di beberapa negara lain.
Pada sesi tanya jawab sempat terungkap bahwa untuk menelusuri, membaca, mengkaji, menerjemahkan, mendokumentasikan manuskrip, selain ilmu filologi juga memerlukan keterampilan membaca tulisan Arab, memahami bahasa Arab, bahasa daerah karena banyak manuskrip menggunakan aksara Arab dan Melayu, aksara Jawi. Bentuk-bentuk aksara tersebut merupakan harta kekayaan budaya nusantara.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita dapat berkata bahwa pendokumentasian, penulisan kembali naskah-naskah tradisional, manuskrip adalah sebuah kebutuhan bahkan keharusan. Manuskrip itu tidak boleh punah. Ia harus ditulis ulang, dikaji, diinformasikan isinya agar bermanfaat bagi masyarakat Maluku Utara khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dalam perspektif Islam, tradisi menulis sangat kuat. Ketika al-Qur'an (kalam Allah) secara lafazh dan makna disampaikan kepada nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril, nabi memanggil para sahabat, termasuk Said bin Tsabit untuk menulis wahyu yang diterima Nabi. Demikian seterusnya para sahabat menulis wahyu yang diterima nabi sampai sempurna turunnya wahyu. Jadi, al-Qur'an sudah ditulis seluruhnya sebelum nabi meninggal. Kesimpulannya bahwa dokumentasi al-Qur'an secara tertulis sudah tersimpan dengan baik. Hasilnya, sampai saat ini al-Qur'an terjaga keasliannya. Kita mendapatkan banyak petunjuk dari al-Qur'an. Akan halnya dengan naskah tradisional, naskah kuno, manuskrip nusantara yang sudah terdokumentasi dapat mengungkap para ulama masa silam dari berbagai wilayah nusantara yang disandarkan ke asal masing-masing seperti Abd. Samad al-Falembani, Al-Bantani, Al-Sumatrani, Yusuf al-Makassari, Al-Mandari, dan lain-lain. Manuskrip di Maluku Utara sejatinya lebih banyak digali, didokumentasikan, ditulis ulang agar memberi banyak manfaat kepada masyarakat Maluku Utara, masyarakat Indonesia .
Semoga bermanfaat
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Jumat, 16 Agustus 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Manuskrip bukan barang jualan. Ia adalah aset yang harus dijaga, dilestarikan
Maluku Utara yang terkenal dengan nama Maloku Kie Raha dengan empat wilayah kerajaan yaitu Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan menyimpan banyak informasi, cerita, kisah berkaitan ajaran Islam, surat raja, tarekat (tasawuf), hikayat, silsilah, sejarah, hukum waris dan lain-lain. Informasi tersebut terekam, tersimpan dalam berbagai manuskrip di berbagai wilayah yang tersebar di sepuluh kabupaten kota di Maluku Utara. Intelektual masa lalu, menurut Warek I IAIN Ternate, Dr. M. Tahir Sapsuha, M. Ag, harus digali melalui naskah-naskah tradisional. Manuskrip bukan hal kramat. Warek I mewakili Rektor sebelum membuka acara "Sosialisasi Draft
Naskah Akademik Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan Nusantara" mengharapkan agar kegiatan tersebut memberi manfaat dan menyampaikan terima kasih kepada Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan yang telah memilih IAIN Ternate sebagai tempat pelaksanaan kegiatan. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan di Ruang Rapat Lt. II IAIN Ternate, Kamis, 15 Agustus 2019 menghadirkan dua nara sumber dari Jakarta dihadiri para peserta dari berbagai unsur. Dari dosen IAIN, UMMU, UNKHAIR, Mahasiswa, Perpustakaan Daerah, Kraton, Tokoh masyarakat, Pemilik Manuskrip, Komunitas Sejarah, dan lainnya.
Relevan dengan yang disampaikan Warek I, nara sumber mengungkapkan bahwa "kearifan lokal, berbagai pengetahuan yang banyak termuat di dalam naskah, manuskrip itu tidak boleh menjadi barang antik, pusaka yang disakralkan tetapi ia harus dapat digali, ditulis kembali, disosialisasikan, disebarluaskan untuk diketahui oleh generasi saat ini, generasi akan datang dan generasi berikutnya, sambung menyambung. Manuskrip antara lain dapat diperoleh di Kraton, Pesantren, Tokoh Masyarakat, Pemilik naskah". Demikian antara lain disampaikan nara sumber pada kegiatan sosialisasi, Dr. Alfan Firmanto (dari Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Pusat) didampingi nara sumber lainnya, Dr. Mu'ziza dari Badan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
Kegiatan sosialisasi menurut nara sumber dilatarbelakangi oleh keinginan dan harapan Menteri Agama kepada Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama
untuk segera menyiapkan naskah akademik terkait pendirian Pusat Kajian Manuskrip Nusantara.
Menurut Menag, tidak semua orang mengetahui dan peduli dengan manuskrip padahal manuskrip memiliki nilai sangat unik, langka dan memiliki makna yang sangat besar. "Mimpi besar kita mewujudkan Pusat Kajian Manuskrip Nusantara," kata Menag dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Jakarta, Sabtu (10/2). Pada kesempatan lain sebagaimana disampaikan Dr. Firmanto, Menteri Agama menegaskan pentingnya kajian manuskrip nusantara. Menurut Menteri : Saat ini nilai-nilai Islam yang dipraktekkan di Nusantara menjadi model keberislaman dunia. Karenanya kajian manuskrip nusantara menjadi sangat penting.
Dr. Firmanto membandingkan dengan negara lain. Di sebuah negara, kata Firmanto menunjuk sebuah negara tertentu, patung yang belum lama dibangun di negara tersebut, dihancurkan, dibom oleh warga yang berbeda keyakinan. Patung yang tadinya berdiri kokoh kemudian menjadi rata dengan tanah. Ini praktek keagamaan yang beraliran keras. Berbeda di Indonesia, ada candi Borobudur, candi Prambanan berdiri kokoh sejak abad silam sampai saat ini. Artinya, Islam masa lalu tidak hadir dalam wujud radikal, aliran garis keras. Islam hadir di Indonesia sejak lama adalah Islam Nusantara, Islam di tengah, Islam Wasathiyah. Islam yang menghadirkan kedamaian.
Karena itu, menurut Dr. Mu'ziza dan Dr. Alfan Firmanto, manuskrip yang masih disimpan oleh warga baik yang ada di Bacan, Hal-Sel maupun yang ada di Maba, Haltim, di Kao, Loloda, dan di beberapa wilayah lainnya hendaknya dapat ditelusuri, didapatkan untuk diarsipkan, didokumentasikan, dikaji sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak. Bahkan Dr. Mu'ziza menyarankan hendaknya ada mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam FUAD, IAIN Ternate melakukan penelitian tentang manuskrip untuk penulisan skripsi.
Dr. Firmanto meyayangkan sikap sebahagian warga mensakralkan manuskrip. Manuskrip disimpan di tempat tertutup. Ia hanya dapat dilihat di waktu tertentu dan sebelum membukanya didahului bacaan doa-doa khusus. Ada juga manuskrip disimpan di dalam bambu, di bergai tempat, digulung sepanjang waktu bertahun-tahun dan ketika bambunya sudah lapuk, manuskrip juga akan lapuk dengan sendirinya. Suatu waktu, lanjut pak Firmanto, manuskrip yang disimpan rapi oleh pemiliknya dicuri oleh anaknya. Manuskrip curian dijual kemudian hasil jualan itu digunakan untuk membeli motor. Ketika sianak mengendarai motornya, di tengah perjalanan, ia ditabrak oleh mobil truck. Nyawa si anak tidak terselamatkan, ia meninggal. Meskipun kematian si anak adalah kehendak Allah disebabkan kelalaian pengemudi truck dan pengendara motor tetapi boleh jadi ada warga yang mengaitkan kematian itu dengan hilangnya manuskrip.
Di sela-sela penjelasannya, Dr. Firmanto mengatakan bahwa secara nasional pemeliharaan, pendokumentasian manuskrip di Indonesia masih lebih baik dari Mesir. Jika kita membutuhkan suatu manuskrip kita bisa dapatkan langsung di Perpustakaan Nasional sedangkan di Mesir harus melalui berbagai tahapan, izin ketat, bahkan dapat berhubungan dengan staf Menteri, sangat sulit (boleh jadi ada pertimbangan lain ?). Namun, satu hal yang menjadi PR bahwa naskah-naskah, manuskrip nusantara banyak berpindah tangan ke pihak lain bahkan sampai ke negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei. Bahkan menurut Dr. Mu'ziza manuskrip nusantara dari Ternate juga dapat ditemukan di beberapa negara lain.
Pada sesi tanya jawab sempat terungkap bahwa untuk menelusuri, membaca, mengkaji, menerjemahkan, mendokumentasikan manuskrip, selain ilmu filologi juga memerlukan keterampilan membaca tulisan Arab, memahami bahasa Arab, bahasa daerah karena banyak manuskrip menggunakan aksara Arab dan Melayu, aksara Jawi. Bentuk-bentuk aksara tersebut merupakan harta kekayaan budaya nusantara.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita dapat berkata bahwa pendokumentasian, penulisan kembali naskah-naskah tradisional, manuskrip adalah sebuah kebutuhan bahkan keharusan. Manuskrip itu tidak boleh punah. Ia harus ditulis ulang, dikaji, diinformasikan isinya agar bermanfaat bagi masyarakat Maluku Utara khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dalam perspektif Islam, tradisi menulis sangat kuat. Ketika al-Qur'an (kalam Allah) secara lafazh dan makna disampaikan kepada nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril, nabi memanggil para sahabat, termasuk Said bin Tsabit untuk menulis wahyu yang diterima Nabi. Demikian seterusnya para sahabat menulis wahyu yang diterima nabi sampai sempurna turunnya wahyu. Jadi, al-Qur'an sudah ditulis seluruhnya sebelum nabi meninggal. Kesimpulannya bahwa dokumentasi al-Qur'an secara tertulis sudah tersimpan dengan baik. Hasilnya, sampai saat ini al-Qur'an terjaga keasliannya. Kita mendapatkan banyak petunjuk dari al-Qur'an. Akan halnya dengan naskah tradisional, naskah kuno, manuskrip nusantara yang sudah terdokumentasi dapat mengungkap para ulama masa silam dari berbagai wilayah nusantara yang disandarkan ke asal masing-masing seperti Abd. Samad al-Falembani, Al-Bantani, Al-Sumatrani, Yusuf al-Makassari, Al-Mandari, dan lain-lain. Manuskrip di Maluku Utara sejatinya lebih banyak digali, didokumentasikan, ditulis ulang agar memberi banyak manfaat kepada masyarakat Maluku Utara, masyarakat Indonesia .
Semoga bermanfaat
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Jumat, 16 Agustus 2019
Comments
Post a Comment