Bersama al-Qur'an (165)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Khuthbah Idul Adha :
Manusia Tidak Pernah Luput dari Ujian
Jauh hari sebelum hari raya Idul Adha, melalui WA, saya diminta mengisi khuthbah Idul Adha. Permintaan (undangan) itu berbunyi : "Assalamu Alaikum wr wb. Pak Doktor, boleh baca khuthbah Idul Adha tanggal 11 Agustus 2019 di Masjid al-Bahri Toboko. Wassalam BTM mesjid al-Bahri". Saya mengiyakan permintaan itu, "Insya Allah" jawabku melalui alamat WA yang sama. Ketua BTM mesjid al-Bahri Toboko Pantai, Ternate Maluku Utara sebagai pemohon (pengundang) mengingatkan saya 6 Agustus dan tiga hari sebelum hari H, 08 Agustus 2019. "Assalamu Alaikum Ustadz, jangan lupa khuthbah Idul Adha 1440 H di mesjid al-Bahri Toboko.
Wassalam
Ketua BTM. Salat dimulai jam 07.30 pak Ustadz", sambungnya. Dalam hitungan detik, saya jawab "Insya Allah". Tidak terasa tiga hari sudah lewat, hari minggu tiba. Jam 6.20 pagi saya berangkat menuju mesjid al-Bahri. Sebelum jam 07.00 saya tiba di mesjid. Usai salat sunnat tahiyatal mesjid, baca takbir berjamaah dilanjutkan baca khuthbah.
Berikut ini sebahagian isi khutbah tersebut :
Hari raya Idul Adha mengingatkan kita bahwa setiap orang Islam tidak pernah luput dari ujian. Boleh jadi bentuk ujian itu berbeda antara satu dengan lainnya. Ujian bisa melalui apa yang menjadi kesenangan manusia. Allah swt menjadikan manusia senang pada harta dalam berbagai bentuknya. Karena itu manusia akan diuji melalui hartanya. Manusia juga dihadirkan senang kepada anak sehingga melalui anak pula manusia diuji oleh Allah swt. Al-Qur'an pada Surah at-Taghabun ayat 15 menjelaskan :
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya :
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Ujian melalui harta bisa datang dari beberapa arah. Di antaranya : 1) Cara mendapatkannya. Dalam perspektif Islam, cara memperoleh harta dibangun atas keadilan, jauh dari kedzaliman, tidak merugikan, merusak, dan menyakiti orang lain. 2) Perhatian dan keinginan terhadap harta. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk mencintai harta sangat berlebihan yang hidupnya hanyalah harta mulai dari bangun pagi sampai tidur malam sampai pagi lagi hanya memikirkan harta, dunia. Mereka sangat ambisi, menggenggam dunia dan melupakan akhiratnya. Sebenarnya menjadi orang kaya sangatlah baik dan terhormat karena dengan harta seseorang memiliki peluang besar untuk beribadah, membantu orang-orang lemah, orang-orang yang butuh bantuan, dan memanfaatkan hartanya untuk hal-hal yang baik lainnya bagi kemaslahatan orang banyak. Khalifah Abubakar as-Shiddiq sudah mencontohkannya. Hartanya dengan jumlah yang sangat besar disumbangkan untuk kepentingan Islam.
Ujian kedua melalui anak. Nabi Ibrahim as diuji oleh Allah swt apakah ia lebih mencintai anaknya daripada Allah atau sebaliknya. Bentuk ujiannya adalah nabi Ibrahim as harus menyembelih putranya atas perintah Allah. Putra yang sangat dicintai dan disayangi yang sudah lama ditunggu kelahirannya. Meskipun iblis (syaithan) berusaha membujuk nabi Ibrahim agar tidak melakukan perintah itu, namun Nabi Ibrahim tetap melaksanakannya. Nabi Ibrahim lebih mencintai Allah daripada putranya. Di sisi lain, Ismail sebagai anak yang taat, sabar dengan tulus menyatakan kesiapannya untuk disembelih. Saat eksekusi dimulai, Ismail digantikan oleh seekor kibas atas kehendak Allah swt. Perihal informasi tentang penyembelihan itu diabadikan di dalam al-Qur'an pada Surah as-Saffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya :
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Ketaatan dan kesabaran Ismail as adalah bukti keberhasilan nabi Ibrahim as mendidik anak. Semoga keteladanan itu bisa kita terapkan dalam keluarga kita, mendidik anak-anak dengan baik dan benar karena di sekitar kita betapa banyak anak-anak yang telah menyusahkan bahkan menjerumuskan orangtuanya ke jalan yang tidak terpuji.
Dari apa yang dikemukakan tentusaja kita berharap semoga harta yang sedang dalam penguasaan kita tidak menjatuhkan kita ke dalam jurang penyimpangan. Kita bermohon kepada Allah agar harta itu baik berupa materi, ilmu pengetahuan, tenaga, pikiran, termasuk harta anak dapat dimanfaatkan di jalan-Nya.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Minggu, 11 Agustus 2019 M/10 Dzulhijjah 1440 H
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Khuthbah Idul Adha :
Manusia Tidak Pernah Luput dari Ujian
Jauh hari sebelum hari raya Idul Adha, melalui WA, saya diminta mengisi khuthbah Idul Adha. Permintaan (undangan) itu berbunyi : "Assalamu Alaikum wr wb. Pak Doktor, boleh baca khuthbah Idul Adha tanggal 11 Agustus 2019 di Masjid al-Bahri Toboko. Wassalam BTM mesjid al-Bahri". Saya mengiyakan permintaan itu, "Insya Allah" jawabku melalui alamat WA yang sama. Ketua BTM mesjid al-Bahri Toboko Pantai, Ternate Maluku Utara sebagai pemohon (pengundang) mengingatkan saya 6 Agustus dan tiga hari sebelum hari H, 08 Agustus 2019. "Assalamu Alaikum Ustadz, jangan lupa khuthbah Idul Adha 1440 H di mesjid al-Bahri Toboko.
Wassalam
Ketua BTM. Salat dimulai jam 07.30 pak Ustadz", sambungnya. Dalam hitungan detik, saya jawab "Insya Allah". Tidak terasa tiga hari sudah lewat, hari minggu tiba. Jam 6.20 pagi saya berangkat menuju mesjid al-Bahri. Sebelum jam 07.00 saya tiba di mesjid. Usai salat sunnat tahiyatal mesjid, baca takbir berjamaah dilanjutkan baca khuthbah.
Berikut ini sebahagian isi khutbah tersebut :
Hari raya Idul Adha mengingatkan kita bahwa setiap orang Islam tidak pernah luput dari ujian. Boleh jadi bentuk ujian itu berbeda antara satu dengan lainnya. Ujian bisa melalui apa yang menjadi kesenangan manusia. Allah swt menjadikan manusia senang pada harta dalam berbagai bentuknya. Karena itu manusia akan diuji melalui hartanya. Manusia juga dihadirkan senang kepada anak sehingga melalui anak pula manusia diuji oleh Allah swt. Al-Qur'an pada Surah at-Taghabun ayat 15 menjelaskan :
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya :
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Ujian melalui harta bisa datang dari beberapa arah. Di antaranya : 1) Cara mendapatkannya. Dalam perspektif Islam, cara memperoleh harta dibangun atas keadilan, jauh dari kedzaliman, tidak merugikan, merusak, dan menyakiti orang lain. 2) Perhatian dan keinginan terhadap harta. Islam tidak mengajarkan seseorang untuk mencintai harta sangat berlebihan yang hidupnya hanyalah harta mulai dari bangun pagi sampai tidur malam sampai pagi lagi hanya memikirkan harta, dunia. Mereka sangat ambisi, menggenggam dunia dan melupakan akhiratnya. Sebenarnya menjadi orang kaya sangatlah baik dan terhormat karena dengan harta seseorang memiliki peluang besar untuk beribadah, membantu orang-orang lemah, orang-orang yang butuh bantuan, dan memanfaatkan hartanya untuk hal-hal yang baik lainnya bagi kemaslahatan orang banyak. Khalifah Abubakar as-Shiddiq sudah mencontohkannya. Hartanya dengan jumlah yang sangat besar disumbangkan untuk kepentingan Islam.
Ujian kedua melalui anak. Nabi Ibrahim as diuji oleh Allah swt apakah ia lebih mencintai anaknya daripada Allah atau sebaliknya. Bentuk ujiannya adalah nabi Ibrahim as harus menyembelih putranya atas perintah Allah. Putra yang sangat dicintai dan disayangi yang sudah lama ditunggu kelahirannya. Meskipun iblis (syaithan) berusaha membujuk nabi Ibrahim agar tidak melakukan perintah itu, namun Nabi Ibrahim tetap melaksanakannya. Nabi Ibrahim lebih mencintai Allah daripada putranya. Di sisi lain, Ismail sebagai anak yang taat, sabar dengan tulus menyatakan kesiapannya untuk disembelih. Saat eksekusi dimulai, Ismail digantikan oleh seekor kibas atas kehendak Allah swt. Perihal informasi tentang penyembelihan itu diabadikan di dalam al-Qur'an pada Surah as-Saffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Artinya :
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Ketaatan dan kesabaran Ismail as adalah bukti keberhasilan nabi Ibrahim as mendidik anak. Semoga keteladanan itu bisa kita terapkan dalam keluarga kita, mendidik anak-anak dengan baik dan benar karena di sekitar kita betapa banyak anak-anak yang telah menyusahkan bahkan menjerumuskan orangtuanya ke jalan yang tidak terpuji.
Dari apa yang dikemukakan tentusaja kita berharap semoga harta yang sedang dalam penguasaan kita tidak menjatuhkan kita ke dalam jurang penyimpangan. Kita bermohon kepada Allah agar harta itu baik berupa materi, ilmu pengetahuan, tenaga, pikiran, termasuk harta anak dapat dimanfaatkan di jalan-Nya.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Minggu, 11 Agustus 2019 M/10 Dzulhijjah 1440 H
Comments
Post a Comment