Bersama al-Qur'an (151)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Dua Macam Rezeki :
Sebuah Perspektif
Rezeki dapat dimaknai dengan karunia Allah yang diberikan kepada manusia yang dapat bermanfaat bagi kehidupannya dan lingkungannya dalam pengertian yang luas. Rezeki tidak hanya terbatas kepada harta, ia bisa berupa kesehatan, istri, keluarga. Bahkan iman, ilmu, amal saleh juga termasuk rezeki dari Allah swt.
Dalam sebuah perspektif, rezeki dapat dibagi menjadi dua macam yaitu rezeki sementara dan rezeki permanen. Ia disebut sementara karena bisa berubah, berkurang, bertambah, dan hilang. Ia juga disebut permanen karena tidak bersifat sementara. Rezeki permanen dinikmati tidak hanya di sini, di dunia ini tetapi juga dirasakan di sana, di akhirat.
Pertama, Rezeki sementara yaitu rezeki yang dimiliki saat ini dan kapan saja bisa berpindah atau kembali kepada Allah sebagai pemiliknya, kapan Allah menghendakinya. Rezeki yang masuk dalam kategori ini di antaranya :
1). Kesehatan. Fisik yang sehat adalah rezeki yang bersifat sementara. Suatu waktu nanti kondisi kesehatan akan mengalami penurunan. Boleh jadi karena faktor usia atau faktor manusianya yang tidak menjaga kesehatan. Suatu saat nanti, ia sepenuhnya kembali kepada Allah, saat ajal telah tiba. 2). Keluarga. Keluarga juga termasuk rezeki yang tidak tetap. Kalau Allah menghendaki banyak kemungkinan bisa terjadi. Suatu keluarga bisa berpisah karena perceraian, berpisah tempat, atau berpisah karena kematian dan lain-lain.
3). Harta. Harta sebagai rezeki yang bersifat sementara sangat mudah bagi Allah merubah, memindahkan, mengurangi, dan menghilangkannya. Berbagai peristiwa sering terjadi di depan mata. Harta hilang karena gempa, seperti yang terjadi di Kabupaten Hal-Sel, Propinsi Maluku Utara beberapa hari yang lalu. Harta juga bisa hilang karena kebakaran, dan lain-lain. 4). Kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah kenikmatan merupakan rezeki pemberian Allah bersifat sementara. Tidak ada orang sepanjang hidupnya bahagia terus menerus. Mungkin ia pernah kesal, kecewa. Ia merasa bahagia karena hartanya banyak, ia memiliki jabatan penting tetapi boleh saja suatu waktu pikirannya terganggu, terbebani karena memikirkan harta dan amanah yang diembannya. Atau suatu hari ia naik pesawat dan cuaca tidak kondusif, sangat buruk dan pada saat yang bersamaan, pikirannya menjadi terganggu, merasa khawatir jangan sampai terjadi sesuatu di luar kemampuannya. Artinya, ia merasa tidak tenang, kebahagiaan yang dirasakan sebelumnya tiba-tiba hilang, hatinya resah, gelisah.
Kedua, Rezeki yang permanen (tetap). Rezeki permanen adalah rezeki yang melekat sampai hari kebangkitan, manfaatnya dirasakan di dunia dan di akhirat. Rezeki yang masuk kategori ini adalah amal saleh, amal ketaatan menjalankan salat malam, salat dhuha, menghormati kedua orangtua dan menaatinya, menghafal dan membaca al-Qur'an, khusyu dalam salat, bersedekah, berakhlak mulia, dzikir kepada Allah, silaturrahim, dan lain-lain. Kemampuan melakukan semua amalan itu dengan ikhlas adalah merupakan nikmat yang sangat mulia, rezeki yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Kenikmatannya tidak hanya dirasakan di dunia tetapi ia akan setia menemani sampai ke dalam kubur sampai pada hari dibangkitkannya manusia. Oleh ulama, inilah yang disebut rezeki yang permanen.
Kita berusaha mensyukuri semua rezeki itu, semoga rezeki kita selalu lapang, kita diberi kekuatan untuk merawatnya dan mengoptimalkan pemanfaatannya.
Al-Qur'an pada Surah Saba ayat 39 :
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Artinya :
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
Dari apa yang dikemukakan kita bisa berkata bahwa rezeki Allah bagi manusia sangat banyak dan sangat luas. Dalam perspektif Islam, rezeki yang diberikan Allah itu sejatinya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dijaga sungguh-sungguh.
Kita berusaha dan berdoa semoga semua rezeki dari Allah itu yang ada dan sedang bersama kita menjadi jembatan penghubung tanpa hambatan antara kita dengan Allah, antara hamba dengan Sang Khaliq, Allah Yang Maha Pemberi rezeki. Ia menjadi penghubung keberkahan antara kita dengan sesama dan lingkungan. Semoga kita menjadi golongan yang dicintai-Nya.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Minggu, 21 Juli 2019.
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Dua Macam Rezeki :
Sebuah Perspektif
Rezeki dapat dimaknai dengan karunia Allah yang diberikan kepada manusia yang dapat bermanfaat bagi kehidupannya dan lingkungannya dalam pengertian yang luas. Rezeki tidak hanya terbatas kepada harta, ia bisa berupa kesehatan, istri, keluarga. Bahkan iman, ilmu, amal saleh juga termasuk rezeki dari Allah swt.
Dalam sebuah perspektif, rezeki dapat dibagi menjadi dua macam yaitu rezeki sementara dan rezeki permanen. Ia disebut sementara karena bisa berubah, berkurang, bertambah, dan hilang. Ia juga disebut permanen karena tidak bersifat sementara. Rezeki permanen dinikmati tidak hanya di sini, di dunia ini tetapi juga dirasakan di sana, di akhirat.
Pertama, Rezeki sementara yaitu rezeki yang dimiliki saat ini dan kapan saja bisa berpindah atau kembali kepada Allah sebagai pemiliknya, kapan Allah menghendakinya. Rezeki yang masuk dalam kategori ini di antaranya :
1). Kesehatan. Fisik yang sehat adalah rezeki yang bersifat sementara. Suatu waktu nanti kondisi kesehatan akan mengalami penurunan. Boleh jadi karena faktor usia atau faktor manusianya yang tidak menjaga kesehatan. Suatu saat nanti, ia sepenuhnya kembali kepada Allah, saat ajal telah tiba. 2). Keluarga. Keluarga juga termasuk rezeki yang tidak tetap. Kalau Allah menghendaki banyak kemungkinan bisa terjadi. Suatu keluarga bisa berpisah karena perceraian, berpisah tempat, atau berpisah karena kematian dan lain-lain.
3). Harta. Harta sebagai rezeki yang bersifat sementara sangat mudah bagi Allah merubah, memindahkan, mengurangi, dan menghilangkannya. Berbagai peristiwa sering terjadi di depan mata. Harta hilang karena gempa, seperti yang terjadi di Kabupaten Hal-Sel, Propinsi Maluku Utara beberapa hari yang lalu. Harta juga bisa hilang karena kebakaran, dan lain-lain. 4). Kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah kenikmatan merupakan rezeki pemberian Allah bersifat sementara. Tidak ada orang sepanjang hidupnya bahagia terus menerus. Mungkin ia pernah kesal, kecewa. Ia merasa bahagia karena hartanya banyak, ia memiliki jabatan penting tetapi boleh saja suatu waktu pikirannya terganggu, terbebani karena memikirkan harta dan amanah yang diembannya. Atau suatu hari ia naik pesawat dan cuaca tidak kondusif, sangat buruk dan pada saat yang bersamaan, pikirannya menjadi terganggu, merasa khawatir jangan sampai terjadi sesuatu di luar kemampuannya. Artinya, ia merasa tidak tenang, kebahagiaan yang dirasakan sebelumnya tiba-tiba hilang, hatinya resah, gelisah.
Kedua, Rezeki yang permanen (tetap). Rezeki permanen adalah rezeki yang melekat sampai hari kebangkitan, manfaatnya dirasakan di dunia dan di akhirat. Rezeki yang masuk kategori ini adalah amal saleh, amal ketaatan menjalankan salat malam, salat dhuha, menghormati kedua orangtua dan menaatinya, menghafal dan membaca al-Qur'an, khusyu dalam salat, bersedekah, berakhlak mulia, dzikir kepada Allah, silaturrahim, dan lain-lain. Kemampuan melakukan semua amalan itu dengan ikhlas adalah merupakan nikmat yang sangat mulia, rezeki yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Kenikmatannya tidak hanya dirasakan di dunia tetapi ia akan setia menemani sampai ke dalam kubur sampai pada hari dibangkitkannya manusia. Oleh ulama, inilah yang disebut rezeki yang permanen.
Kita berusaha mensyukuri semua rezeki itu, semoga rezeki kita selalu lapang, kita diberi kekuatan untuk merawatnya dan mengoptimalkan pemanfaatannya.
Al-Qur'an pada Surah Saba ayat 39 :
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Artinya :
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
Dari apa yang dikemukakan kita bisa berkata bahwa rezeki Allah bagi manusia sangat banyak dan sangat luas. Dalam perspektif Islam, rezeki yang diberikan Allah itu sejatinya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, dijaga sungguh-sungguh.
Kita berusaha dan berdoa semoga semua rezeki dari Allah itu yang ada dan sedang bersama kita menjadi jembatan penghubung tanpa hambatan antara kita dengan Allah, antara hamba dengan Sang Khaliq, Allah Yang Maha Pemberi rezeki. Ia menjadi penghubung keberkahan antara kita dengan sesama dan lingkungan. Semoga kita menjadi golongan yang dicintai-Nya.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Minggu, 21 Juli 2019.
Comments
Post a Comment