Bersama al-Qur'an (150)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Surah Asy-Syuara, Ayat 78-82
Lima ayat pada Surah asy-Syuara ini, dari segi susunannya menggambarkan urutan makna yang serasi, tersusun berdasarkan tahapan nikmat Allah yang diterima oleh manusia mulai dari awal penciptaannya hingga lahir ke bumi, menjalani hidupnya sampai meninggal lalu dibangkitkan untuk menjalani kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Apa yang tergambar dalam ayat-ayat tersebut merupakan perhatian Allah yang dirasakan oleh setiap manusia. Pada ayat pertama (78) mengandung makna bahwa setiap manusia apapun profesinya, tidak dibedakan berapa usianya, apa jenis kelaminnya, dari mana asalnya, apa keyakinannya, tanpa kecuali semuanya berada dalam perhatian Allah, menerima berbagai nikmat dari-Nya. Dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu. Dia menciptakan manusia lalu memberinya petunjuk.
Berkaitan ayat 78 tersebut, dalam berbagai literatur tafsir menjelaskan bahwa Allah membentuk rupa manusia sangat sempurna. Ia (manusia) lalu diberi hidayah berupa panca indera dan yang lainnya untuk digunakan pada kehidupannya di dunia. Jadi, kesempurnaan penciptaan manusia tampaknya boleh dimaknai agar manusia dapat melaksanakan tugas dan amanah yang diemban. Sebagai makhluk, manusia sadar bahwa ia patut berterima kasih kepada sang Khaliq dalam bentuk beribadah kepada-Nya. Sebagai penerima amanah, manusia sadar untuk berkontribusi memelihara alam raya, mewujudkan rasa aman bagi sesama manusia, menjaga kebersihan lingkungan, tempat berpijak, tempat mencari rezeki oleh setiap makhluk penghuni bumi ini. Gambaran tersebut secara singkat terkandung dalam ayat :
الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78)
Artinya :
(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku.
Ayat ini mengandung makna bahwa penciptaan manusia disertai dengan kelengkapan yang dibutuhkan (hidayah). Kelengkapan itu agar manusia bisa memenuhi kebutuhannya selama berada di bumi untuk kelangsungan hidup termasuk kebutuhan makan dan minum.
Manusia dalam menjalani hidupnya, bekerja, dan mengemban amanah, ia butuh energi, kekuatan, power. Maka, pada ayat kedua (79) mengandung makna berbagai fasilitas di bumi adalah untuk kemaslahatan, agar manusia bisa hidup berkelanjutan dalam keadaan sehat, kebutuhan jasmaninya terpenuhi. Coba kita perhatikan alam sekitar begitu suburnya tanah kita, tanah Indonesia. Beragam buah-buahan, biji-bijian, tumbuhan, dan tanaman yang bisa dikonsumsi. Untuk bahan minuman, selain berasal dari buah-buahan, ada air sungai, air laut, air tanah, dan air hujan. Semua itu adalah karunia Allah kepada manusia. Hal ini tergambar pada ayat 79 :
وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ
Artinya :
Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku.
Para ahli tafsir menjelaskan ayat tersebut mengandung makna bahwa bumi, langit dan segala sesuatu yang ada di dalamnya sudah didisain oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia. Allah menurunkan air hujan ke bumi dan dari air hujan itu tumbuh berbagai macam tumbuhan, pepohonan yang menghasilkan berupa buah, makanan untuk bukan saja manusia tetapi juga untuk binatang ternak dan makhluk lainnya.
Ayat ketiga (80) mengandung makna bahwa manusia adalah makhluk lemah baik jasmani maupun ruhani. Artinya, setiap manusia berpeluang besar mengalami sakit, baik kecil atau besar. Apakah itu masuk angin, kurang tidur, tekanan darah, stres, dan lain-lain. Boleh jadi, sakit hati, ria kecil atau besar, lupa diri, lupa orangtua, lupa sahabat, dan seterusnya. Penyakit-penyakit itu tidak ada yang menyembuhkan kecuali Allah swt. Hal ini digambarkan Allah pada ayat 80 :
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Artinya :
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.
Pada ayat keempat (81) sebagai lanjutan ayat sebelumnya mengandung makna bahwa kehidupan manusia di dunia akan diakhiri dengan kematian lalu dihidupkan kembali di akhirat nanti. Kehidupan di dunia adalah tempat menanam kebaikan dan pada kehidupan berikutnya, kehidupan sesudah kematian adalah tempat memetik, menikmati hasil tanaman di bumi (meski hasinya dapat juga dipetik di bumi). Secara singkat hal ini digambarkan ayat 81 :
وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ
Artinya :
Dan Allah akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).
Ayat terakhir, kelima (82) :
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
Artinya :
Dan Allah amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.
Ayat ini mengandung makna bahwa manusia tidak luput dari khilaf dan dosa. Oleh karena itu tidak ada orang yang dapat mengklaim bahwa dirinya tidak punya dosa, paling bersih, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Allah swt. Atas dasar itulah, setiap manusia terutama hamba yang beriman selalu berusaha berbuat baik dan berdoa agar segala khilaf dan dosanya diampuni oleh Allah swt.
Dari apa yang dijelaskan kita dapat berkata bahwa semua kenikmatan yang diterima, dirasakan oleh manusia dari awal pertumbuhannya sampai di hari kebangkitan adalah berasal dari Allah swt.
Beberapa ayat dari Surah asy-Syuara tersebut semoga dapat mengetuk hati. Keimanan, ketakwaan kita kepada-Nya dapat meningkat dan terjaga kualitasnya.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Sabtu, 20 Juli 2019.
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Surah Asy-Syuara, Ayat 78-82
Lima ayat pada Surah asy-Syuara ini, dari segi susunannya menggambarkan urutan makna yang serasi, tersusun berdasarkan tahapan nikmat Allah yang diterima oleh manusia mulai dari awal penciptaannya hingga lahir ke bumi, menjalani hidupnya sampai meninggal lalu dibangkitkan untuk menjalani kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Apa yang tergambar dalam ayat-ayat tersebut merupakan perhatian Allah yang dirasakan oleh setiap manusia. Pada ayat pertama (78) mengandung makna bahwa setiap manusia apapun profesinya, tidak dibedakan berapa usianya, apa jenis kelaminnya, dari mana asalnya, apa keyakinannya, tanpa kecuali semuanya berada dalam perhatian Allah, menerima berbagai nikmat dari-Nya. Dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu. Dia menciptakan manusia lalu memberinya petunjuk.
Berkaitan ayat 78 tersebut, dalam berbagai literatur tafsir menjelaskan bahwa Allah membentuk rupa manusia sangat sempurna. Ia (manusia) lalu diberi hidayah berupa panca indera dan yang lainnya untuk digunakan pada kehidupannya di dunia. Jadi, kesempurnaan penciptaan manusia tampaknya boleh dimaknai agar manusia dapat melaksanakan tugas dan amanah yang diemban. Sebagai makhluk, manusia sadar bahwa ia patut berterima kasih kepada sang Khaliq dalam bentuk beribadah kepada-Nya. Sebagai penerima amanah, manusia sadar untuk berkontribusi memelihara alam raya, mewujudkan rasa aman bagi sesama manusia, menjaga kebersihan lingkungan, tempat berpijak, tempat mencari rezeki oleh setiap makhluk penghuni bumi ini. Gambaran tersebut secara singkat terkandung dalam ayat :
الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78)
Artinya :
(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku.
Ayat ini mengandung makna bahwa penciptaan manusia disertai dengan kelengkapan yang dibutuhkan (hidayah). Kelengkapan itu agar manusia bisa memenuhi kebutuhannya selama berada di bumi untuk kelangsungan hidup termasuk kebutuhan makan dan minum.
Manusia dalam menjalani hidupnya, bekerja, dan mengemban amanah, ia butuh energi, kekuatan, power. Maka, pada ayat kedua (79) mengandung makna berbagai fasilitas di bumi adalah untuk kemaslahatan, agar manusia bisa hidup berkelanjutan dalam keadaan sehat, kebutuhan jasmaninya terpenuhi. Coba kita perhatikan alam sekitar begitu suburnya tanah kita, tanah Indonesia. Beragam buah-buahan, biji-bijian, tumbuhan, dan tanaman yang bisa dikonsumsi. Untuk bahan minuman, selain berasal dari buah-buahan, ada air sungai, air laut, air tanah, dan air hujan. Semua itu adalah karunia Allah kepada manusia. Hal ini tergambar pada ayat 79 :
وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ
Artinya :
Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku.
Para ahli tafsir menjelaskan ayat tersebut mengandung makna bahwa bumi, langit dan segala sesuatu yang ada di dalamnya sudah didisain oleh Allah untuk kelangsungan hidup manusia. Allah menurunkan air hujan ke bumi dan dari air hujan itu tumbuh berbagai macam tumbuhan, pepohonan yang menghasilkan berupa buah, makanan untuk bukan saja manusia tetapi juga untuk binatang ternak dan makhluk lainnya.
Ayat ketiga (80) mengandung makna bahwa manusia adalah makhluk lemah baik jasmani maupun ruhani. Artinya, setiap manusia berpeluang besar mengalami sakit, baik kecil atau besar. Apakah itu masuk angin, kurang tidur, tekanan darah, stres, dan lain-lain. Boleh jadi, sakit hati, ria kecil atau besar, lupa diri, lupa orangtua, lupa sahabat, dan seterusnya. Penyakit-penyakit itu tidak ada yang menyembuhkan kecuali Allah swt. Hal ini digambarkan Allah pada ayat 80 :
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Artinya :
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.
Pada ayat keempat (81) sebagai lanjutan ayat sebelumnya mengandung makna bahwa kehidupan manusia di dunia akan diakhiri dengan kematian lalu dihidupkan kembali di akhirat nanti. Kehidupan di dunia adalah tempat menanam kebaikan dan pada kehidupan berikutnya, kehidupan sesudah kematian adalah tempat memetik, menikmati hasil tanaman di bumi (meski hasinya dapat juga dipetik di bumi). Secara singkat hal ini digambarkan ayat 81 :
وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ
Artinya :
Dan Allah akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).
Ayat terakhir, kelima (82) :
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
Artinya :
Dan Allah amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.
Ayat ini mengandung makna bahwa manusia tidak luput dari khilaf dan dosa. Oleh karena itu tidak ada orang yang dapat mengklaim bahwa dirinya tidak punya dosa, paling bersih, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Allah swt. Atas dasar itulah, setiap manusia terutama hamba yang beriman selalu berusaha berbuat baik dan berdoa agar segala khilaf dan dosanya diampuni oleh Allah swt.
Dari apa yang dijelaskan kita dapat berkata bahwa semua kenikmatan yang diterima, dirasakan oleh manusia dari awal pertumbuhannya sampai di hari kebangkitan adalah berasal dari Allah swt.
Beberapa ayat dari Surah asy-Syuara tersebut semoga dapat mengetuk hati. Keimanan, ketakwaan kita kepada-Nya dapat meningkat dan terjaga kualitasnya.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Sabtu, 20 Juli 2019.
Comments
Post a Comment