Bersama al-Qur'an (137)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Juara 1 MTQ Internasional 2019 :
Salman Amrillah dari Bandung, Indonesia
Iran yang dalam sejarah peradaban Islam dikenal dengan nama Persia terletak di Asia Barat Daya adalah sebuah negara di Timur Tengah. Negeri ini adalah salah satu negara Muslim yang sangat kuat dalam tradisi membumikan al-Qur'an al-Karim. Kitab suci al-Qur'an al-Karim di Iran diposisikan pada tempat yang sangat terhormat. Hal ini terlihat melalui berbagai agenda mencintai al-Qur'an. Mulai dari tradisi membaca secara massal, menghafal ayat-ayatnya, membaguskan bacaannya dengan irama yang indah berdasarkan tajwid dan makhariij al-huruf, pengkajian dan penafsiran al-Qur'an, serta menuangkannya di atas kanvas dalam bentuk lukisan kaligrafi ayat yang eksotis khas Persia yang dicetak begitu indah menghiasi mushaf-mushaf al-Qur'an saat ini.
Tradisi mencintai, membumikan al-Qur'an tersebut dimulai sejak lama mulai dari berbagai lapisan, usia anak-anak sampai dewasa hingga hari ini. Itulah sebabnya negeri ini banyak melahirkan mufassir cilik, penghafal al-Qur'an cilik. Bahkan
saat ini disebutkan ribuan penghafal Al-Qur’an di Iran yang dimulai dari usia balita.
Masih tersimpan dalam memori beberapa waktu lalu viral di TV nasional dan melalui medsos tentang bocah cilik bernama Sayyid Muhammad Husain Thabathabai (5 tahun) yang tidak hanya menghafal al-Qur’an 30 juz secara sempurna namun juga memahami tafsir dari setiap ayatnya. Kecerdasan Qur’ani yang dimiliki itulah, yang membuat mufassir bocah itu meraih gelar doktor honoris causa dalam bidang “Science of the Retention of The Holy Quran.“dari Hijaz College Islamic University di Inggris tahun 2005, lihat buku “Doktor Cilik Sang Mukjizat Abad 20” dengan sub judul “Hafal dan Paham Al-Qur’an di Usia 7 Tahun.
Iran sampai saat ini tetap istiqamah menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur'an setiap tahun yang diikuti para peserta dari berbagai negara di dunia termasuk Indonesia yang selalu mengirim utusannya.
Pada tanggal 8 – 15 April 2019 lalu, di Iran, Salman Amrillah berhasil meraih Juara 1 Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional kategori tilawah tingkat dewasa. Pemuda kelahiran Ciwidey Bandung ini diputuskan sebagai juara dengan nilai tertinggi karena memiliki suara yang bagus dan menguasai berbagai irama lagu, langgam yang dipersyaratkan dalam musabaqah yaitu langgam bayati, nahawan, syikah, dan hijaz. Prestasi yang diraih putra dari pasangan KH. Usman Baihaqi dan Entin Wartini ini tidak instan. Mulai belajar dari kedua orangtua. Pengetahuan seni baca al-Qur'an Salman selalu diasah, ditambah dari pesantren ke pesantren akhirnya ia bisa meraih juara di tingkat kecamatan, kabupaten, dan Propinsi, dan puncaknya, Salman dinobatkan sebagai Juara 1 MTQ Internasional di Teheran Iran setelah mengalahkan para peserta lainnya dari 84 negara.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita dapat berkata bahwa pencapaian sebuah prestasi tidaklah instan. Jika kita menginginkan keluarga kita, anak-anak kita, atau kita sendiri bisa menghafal al-Qur'an, bisa paham isi al-Qur'an, barangkali yang pertama dilakukan adalah menanamkan rasa cinta al-Qur'an kepada diri kita, kepada anak-anak kita, dan kepada yang lainnya.
Semoga bermanfaat
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Sabtu, 06 Juli 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Juara 1 MTQ Internasional 2019 :
Salman Amrillah dari Bandung, Indonesia
Iran yang dalam sejarah peradaban Islam dikenal dengan nama Persia terletak di Asia Barat Daya adalah sebuah negara di Timur Tengah. Negeri ini adalah salah satu negara Muslim yang sangat kuat dalam tradisi membumikan al-Qur'an al-Karim. Kitab suci al-Qur'an al-Karim di Iran diposisikan pada tempat yang sangat terhormat. Hal ini terlihat melalui berbagai agenda mencintai al-Qur'an. Mulai dari tradisi membaca secara massal, menghafal ayat-ayatnya, membaguskan bacaannya dengan irama yang indah berdasarkan tajwid dan makhariij al-huruf, pengkajian dan penafsiran al-Qur'an, serta menuangkannya di atas kanvas dalam bentuk lukisan kaligrafi ayat yang eksotis khas Persia yang dicetak begitu indah menghiasi mushaf-mushaf al-Qur'an saat ini.
Tradisi mencintai, membumikan al-Qur'an tersebut dimulai sejak lama mulai dari berbagai lapisan, usia anak-anak sampai dewasa hingga hari ini. Itulah sebabnya negeri ini banyak melahirkan mufassir cilik, penghafal al-Qur'an cilik. Bahkan
saat ini disebutkan ribuan penghafal Al-Qur’an di Iran yang dimulai dari usia balita.
Masih tersimpan dalam memori beberapa waktu lalu viral di TV nasional dan melalui medsos tentang bocah cilik bernama Sayyid Muhammad Husain Thabathabai (5 tahun) yang tidak hanya menghafal al-Qur’an 30 juz secara sempurna namun juga memahami tafsir dari setiap ayatnya. Kecerdasan Qur’ani yang dimiliki itulah, yang membuat mufassir bocah itu meraih gelar doktor honoris causa dalam bidang “Science of the Retention of The Holy Quran.“dari Hijaz College Islamic University di Inggris tahun 2005, lihat buku “Doktor Cilik Sang Mukjizat Abad 20” dengan sub judul “Hafal dan Paham Al-Qur’an di Usia 7 Tahun.
Iran sampai saat ini tetap istiqamah menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur'an setiap tahun yang diikuti para peserta dari berbagai negara di dunia termasuk Indonesia yang selalu mengirim utusannya.
Pada tanggal 8 – 15 April 2019 lalu, di Iran, Salman Amrillah berhasil meraih Juara 1 Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional kategori tilawah tingkat dewasa. Pemuda kelahiran Ciwidey Bandung ini diputuskan sebagai juara dengan nilai tertinggi karena memiliki suara yang bagus dan menguasai berbagai irama lagu, langgam yang dipersyaratkan dalam musabaqah yaitu langgam bayati, nahawan, syikah, dan hijaz. Prestasi yang diraih putra dari pasangan KH. Usman Baihaqi dan Entin Wartini ini tidak instan. Mulai belajar dari kedua orangtua. Pengetahuan seni baca al-Qur'an Salman selalu diasah, ditambah dari pesantren ke pesantren akhirnya ia bisa meraih juara di tingkat kecamatan, kabupaten, dan Propinsi, dan puncaknya, Salman dinobatkan sebagai Juara 1 MTQ Internasional di Teheran Iran setelah mengalahkan para peserta lainnya dari 84 negara.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita dapat berkata bahwa pencapaian sebuah prestasi tidaklah instan. Jika kita menginginkan keluarga kita, anak-anak kita, atau kita sendiri bisa menghafal al-Qur'an, bisa paham isi al-Qur'an, barangkali yang pertama dilakukan adalah menanamkan rasa cinta al-Qur'an kepada diri kita, kepada anak-anak kita, dan kepada yang lainnya.
Semoga bermanfaat
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Sabtu, 06 Juli 2019
Comments
Post a Comment