Bersama al-Qur'an (134)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Tafsir al-Qur'an
Selasa, 25 Juni 2019 saya dihubungi Harian Pagi Malut Post Ternate. Pesan melalui WA itu berisi permintaan kepada saya kalau bisa mengirim tulisan ke redaksi terkait Mata Kuliah yang diajarkan di IAIN Ternate. Tanpa pikir panjang saya mulai memainkan Hp. Tulisan ini adalah naskah yang sudah dikirim ke Malut Pos dan dimuat hari ini Rabu, 26 Juni 2019 pada Rubrik Akademika hal 15.
Al-Qur'an al-Karim adalah kalam Allah terdiri dari 114 Surah, lebih dari enam ribu ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril dengan berbahasa Arab dan beribadah bagi yang membacanya. Al-Qur'an al-Karim berisi pedoman, petunjuk yang akan menuntun, mengantar manusia meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena itu, walau bersifat umum, tidak rinci, al-Qur'an sangat sarat informasi yang dibutuhkan oleh manusia. Baik informasi berkaitan idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Dalam bahasa agamanya ada aqidah, syariah, akhlak (Akhlak kepada Allah, kepada sesama manusia, kepada alam). Sebagai pedoman, maka al-Qur'an diharapkan dapat dibaca, dipelajari, diterjemahkan, dipahami makna dan kandungannya untuk diterapkan, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur'an tidak boleh menjadi barang antik, asesoris, hiasan yang dipajang di dalam lemari yang tidak pernah dibuka karena ia tidak akan memberikan pencerahan, tidak akan menginspirasi, dan mengedukasi. Itulah sebabnya mengapa al-Qur'an sejak turunnya di masa Nabi saw sampai kepada masa sahabat, tabi'in, tabi 'ut-tabi'in dan berlanjut ke generasi berikutnya dan seterusnya, al-Qur'an terpelihara sangat baik melalui hafalan dan tulisan. Atas dasar ini, ummat Islam meyakini bahwa al-Qur'an pada masa Nabi persis sama dengan al-Qur'an pada masa ini. Tidak ada tambahan dan pengurangan huruf. Meskipun pada masa Nabi sampai pada masa beberapa sahabat, al-Qur'an tanpa tanda baca tetapi tidak dianggap mengurangi, karena seluruh ayat al-Qur'an dihafal oleh para sahabat. Selain itu, Nabi adalah penjelas pertama dan utama isi al-Qur'an.
Kandungan al-Qur'an dijelaskan oleh Nabi kepada para sahabat. Para sahabat di sisi lain, terus menerus melakukan pengkajian terhadap al-Qur'an dilanjutkan generasi berikutnya dan seterusnya. Lahirlah kemudian berbagai macam ilmu seperti fikih, ushul fikih, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur'an di antaranya ilmu Munasabah, ilmu Asbab an-Nuzul, ilmu Qiraat, Tafsir al-Qur'an, Metodologi Tafsir, Ilmu Ma'an al-Qur'an dan lain-lain.
Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur'an bermanfaat untuk mengetahui, memahami sisi-sisi al-Qur'an baik dari sisi eksternal maupun dari sisi internalnya. Sisi eksternal al-Qur'an adalah kajian yang berada di luar teks, ayat-ayatnya, misalnya sejarah al-Qur'an. Sedang sisi internalnya berkaitan dengan kajian terhadap ayat-ayatnya, termasuk dalam perspektif ini adalah tafsir al-Qur'an. Tafsir al-Qur'an adalah hasil pemahaman para ulama tafsir (mufassir). Dengan modal pengetahuan yang seharusnya dimiliki oleh mufassir, para mufassir dengan latar belakang ilmu yang dikuasai bersungguh-sungguh mengkaji, memahami al-Qur'an dan mengeluarkan makna-makna yang dikandungnya sesuai kemampuan para mufassir. Saat ini kajian terhadap al-Qur'an tidak dimonopoli oleh orang Islam karena pengkajian terhadap al-Qur'an juga dilakukan oleh non Muslim.
Ayat-ayat al-Qur'an yang jumlahnya lebih dari enam ribu adalah salah satu sisi internal yang menjadi obyek pembahasan para ulama, mufassir. Seorang mufassir dalam upaya memahami ayat-ayat al-Qur'an sangat mungkin berbeda hasil penafsirannya dengan mufassir lainnya. Paling tidak ada dua alasan, pertama, faktor dari dalam dan kedua, faktor dari luar. Faktor dari dalam berkaitan langsung dengan ayat-ayat al-Qur'an sedang faktor dari luar berkaitan dengan latar belakang keilmuan mufassir dan wilayah geografis dimana sang mufassir berada.
Dari faktor luar, seorang ulama di bidang hukum ketika menafsirkan al-Qur'an akan berbeda dengan mufassir ahli bahasa yang berusaha mengkaji ayat-ayat al-Qur'an dari segi bahasa. Demikian ulama Ahli tasauf, Antropolog, sosiolog, dan lain-lain ketika menafsirkan al-Qur'an akan melahirkan karya-karya tafsir yang beragam. Atas dasar inilah, dalam banyak produk tafsir kita temukan beberapa kitab tafsir yang berbeda, di antaranya, kitab tafsir Ahkam al-Qur'an yaitu tafsir dalam perspektif hukum, tafsir al-Kasysyaf tafsir dalam perspektif bahasa, dan tafsir al-Qusyairy tafsir dalam perspektif tasawuf.
Dari segi geografis, dapat disebutkan mufassir yang tinggal di Makkah misalnya, akan mungkin berbeda dengan hasil penafsiran dengan mufassir Indonesia. Di Indonesia, ada kitab tafsir Wawasan al-Qur'an yang berbicara tentang berbagai hal ke-Indonesia-an yang tentu tidak akan sama dengan tafsir yang lahir di Mekkah, yang lebih fokus terhadap penafsiran yang bersifat tekstual. Bahkan di Indonesia, sudah populer Islam nusantara dan Islam berkemajuan. Kedua istilah ini juga termasuk metode, cara memandang, memahami agama, tradisi, lingkungan, sebagaimana lahirnya perbedaan cara memahami al-Qur'an. Nama apapun yang disandarkan kepada Islam selama tidak bertentangan dengan al-Qur'an, hadis Nabi sah saja. Sama halnya dengan nama yang bisa disandang al-Qur'an cukup banyak dan boleh jadi tidak terbatas. Itulah luasnya kandungan al-Qur'an sebagaimana luasnya kandungan Islam.
Dari sisi internal, ayat al-Qur'an sangat terbuka ditafsirkan. Cukup banyak lafadz yang digunakan al-Qur'an bermakna ganda. Memungkinkan al-Qur'an ditafsirkan berbeda.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah keberuntungan bagi ummat. Karena dengan beragamnya pengetahuan yang dimiliki, seseorang tidak akan mengkultuskan pendapatnya atau pendapat gurunya, madzhabnya. Ia tidak akan menganggap pendapatnya atau kelompoknya yang paling benar dan menyalahkan pendapat orang lain bahkan mengkafirkan pihak lain yang tidak sependapat dengannya. Tetapi sebaliknya, ia berlapang dada, rendah hati, dan selalu belajar menghormati pendapat orang lain. Karena tidak ada orang yang bisa memastikan bahwa pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur'an persis sama dan sebangun apa yang dipahami oleh Allah swt. Manusia dengan berbagai syarat yang dipenuhi sebagai mufassir, hanya berusaha memahami dengan sungguh-sungguh ayat-ayat al-Qur'an dan menjelaskan kandungannya dengan bimbingan al-Qur'an dan hadis shahih dan sekali lagi tidak lepas dari unsur manusianya.
Al-Qur'an sebagai kitab sarat makna, berisi informasi yang dinilai meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, menjadi salah satu daya tarik al-Qur'an. Ia hadir untuk kepentingan manusia, tidak terbatas hanya kepada komunitas tertentu saja tetapi bagi seluruh alam. Itulah sebabnya al-Qur'an tidak akan pernah berhenti dikaji, dipahami kandungannya, dari masa ke masa sampai bumi ini masih berpenghuni manusia. Semakin banyak ditafsirkan oleh ahli yang berbeda latar belakang keilmuannya, al-Qur'an akan semakin menunjukkan jati dirinya. Semakin digali semakin keluar mutiara-mutiara pengetahuan yang mencerahkan.
Semoga bermanfaat.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Rabu, 26 Juni 2019.
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Tafsir al-Qur'an
Selasa, 25 Juni 2019 saya dihubungi Harian Pagi Malut Post Ternate. Pesan melalui WA itu berisi permintaan kepada saya kalau bisa mengirim tulisan ke redaksi terkait Mata Kuliah yang diajarkan di IAIN Ternate. Tanpa pikir panjang saya mulai memainkan Hp. Tulisan ini adalah naskah yang sudah dikirim ke Malut Pos dan dimuat hari ini Rabu, 26 Juni 2019 pada Rubrik Akademika hal 15.
Al-Qur'an al-Karim adalah kalam Allah terdiri dari 114 Surah, lebih dari enam ribu ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril dengan berbahasa Arab dan beribadah bagi yang membacanya. Al-Qur'an al-Karim berisi pedoman, petunjuk yang akan menuntun, mengantar manusia meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena itu, walau bersifat umum, tidak rinci, al-Qur'an sangat sarat informasi yang dibutuhkan oleh manusia. Baik informasi berkaitan idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Dalam bahasa agamanya ada aqidah, syariah, akhlak (Akhlak kepada Allah, kepada sesama manusia, kepada alam). Sebagai pedoman, maka al-Qur'an diharapkan dapat dibaca, dipelajari, diterjemahkan, dipahami makna dan kandungannya untuk diterapkan, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur'an tidak boleh menjadi barang antik, asesoris, hiasan yang dipajang di dalam lemari yang tidak pernah dibuka karena ia tidak akan memberikan pencerahan, tidak akan menginspirasi, dan mengedukasi. Itulah sebabnya mengapa al-Qur'an sejak turunnya di masa Nabi saw sampai kepada masa sahabat, tabi'in, tabi 'ut-tabi'in dan berlanjut ke generasi berikutnya dan seterusnya, al-Qur'an terpelihara sangat baik melalui hafalan dan tulisan. Atas dasar ini, ummat Islam meyakini bahwa al-Qur'an pada masa Nabi persis sama dengan al-Qur'an pada masa ini. Tidak ada tambahan dan pengurangan huruf. Meskipun pada masa Nabi sampai pada masa beberapa sahabat, al-Qur'an tanpa tanda baca tetapi tidak dianggap mengurangi, karena seluruh ayat al-Qur'an dihafal oleh para sahabat. Selain itu, Nabi adalah penjelas pertama dan utama isi al-Qur'an.
Kandungan al-Qur'an dijelaskan oleh Nabi kepada para sahabat. Para sahabat di sisi lain, terus menerus melakukan pengkajian terhadap al-Qur'an dilanjutkan generasi berikutnya dan seterusnya. Lahirlah kemudian berbagai macam ilmu seperti fikih, ushul fikih, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur'an di antaranya ilmu Munasabah, ilmu Asbab an-Nuzul, ilmu Qiraat, Tafsir al-Qur'an, Metodologi Tafsir, Ilmu Ma'an al-Qur'an dan lain-lain.
Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur'an bermanfaat untuk mengetahui, memahami sisi-sisi al-Qur'an baik dari sisi eksternal maupun dari sisi internalnya. Sisi eksternal al-Qur'an adalah kajian yang berada di luar teks, ayat-ayatnya, misalnya sejarah al-Qur'an. Sedang sisi internalnya berkaitan dengan kajian terhadap ayat-ayatnya, termasuk dalam perspektif ini adalah tafsir al-Qur'an. Tafsir al-Qur'an adalah hasil pemahaman para ulama tafsir (mufassir). Dengan modal pengetahuan yang seharusnya dimiliki oleh mufassir, para mufassir dengan latar belakang ilmu yang dikuasai bersungguh-sungguh mengkaji, memahami al-Qur'an dan mengeluarkan makna-makna yang dikandungnya sesuai kemampuan para mufassir. Saat ini kajian terhadap al-Qur'an tidak dimonopoli oleh orang Islam karena pengkajian terhadap al-Qur'an juga dilakukan oleh non Muslim.
Ayat-ayat al-Qur'an yang jumlahnya lebih dari enam ribu adalah salah satu sisi internal yang menjadi obyek pembahasan para ulama, mufassir. Seorang mufassir dalam upaya memahami ayat-ayat al-Qur'an sangat mungkin berbeda hasil penafsirannya dengan mufassir lainnya. Paling tidak ada dua alasan, pertama, faktor dari dalam dan kedua, faktor dari luar. Faktor dari dalam berkaitan langsung dengan ayat-ayat al-Qur'an sedang faktor dari luar berkaitan dengan latar belakang keilmuan mufassir dan wilayah geografis dimana sang mufassir berada.
Dari faktor luar, seorang ulama di bidang hukum ketika menafsirkan al-Qur'an akan berbeda dengan mufassir ahli bahasa yang berusaha mengkaji ayat-ayat al-Qur'an dari segi bahasa. Demikian ulama Ahli tasauf, Antropolog, sosiolog, dan lain-lain ketika menafsirkan al-Qur'an akan melahirkan karya-karya tafsir yang beragam. Atas dasar inilah, dalam banyak produk tafsir kita temukan beberapa kitab tafsir yang berbeda, di antaranya, kitab tafsir Ahkam al-Qur'an yaitu tafsir dalam perspektif hukum, tafsir al-Kasysyaf tafsir dalam perspektif bahasa, dan tafsir al-Qusyairy tafsir dalam perspektif tasawuf.
Dari segi geografis, dapat disebutkan mufassir yang tinggal di Makkah misalnya, akan mungkin berbeda dengan hasil penafsiran dengan mufassir Indonesia. Di Indonesia, ada kitab tafsir Wawasan al-Qur'an yang berbicara tentang berbagai hal ke-Indonesia-an yang tentu tidak akan sama dengan tafsir yang lahir di Mekkah, yang lebih fokus terhadap penafsiran yang bersifat tekstual. Bahkan di Indonesia, sudah populer Islam nusantara dan Islam berkemajuan. Kedua istilah ini juga termasuk metode, cara memandang, memahami agama, tradisi, lingkungan, sebagaimana lahirnya perbedaan cara memahami al-Qur'an. Nama apapun yang disandarkan kepada Islam selama tidak bertentangan dengan al-Qur'an, hadis Nabi sah saja. Sama halnya dengan nama yang bisa disandang al-Qur'an cukup banyak dan boleh jadi tidak terbatas. Itulah luasnya kandungan al-Qur'an sebagaimana luasnya kandungan Islam.
Dari sisi internal, ayat al-Qur'an sangat terbuka ditafsirkan. Cukup banyak lafadz yang digunakan al-Qur'an bermakna ganda. Memungkinkan al-Qur'an ditafsirkan berbeda.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah keberuntungan bagi ummat. Karena dengan beragamnya pengetahuan yang dimiliki, seseorang tidak akan mengkultuskan pendapatnya atau pendapat gurunya, madzhabnya. Ia tidak akan menganggap pendapatnya atau kelompoknya yang paling benar dan menyalahkan pendapat orang lain bahkan mengkafirkan pihak lain yang tidak sependapat dengannya. Tetapi sebaliknya, ia berlapang dada, rendah hati, dan selalu belajar menghormati pendapat orang lain. Karena tidak ada orang yang bisa memastikan bahwa pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur'an persis sama dan sebangun apa yang dipahami oleh Allah swt. Manusia dengan berbagai syarat yang dipenuhi sebagai mufassir, hanya berusaha memahami dengan sungguh-sungguh ayat-ayat al-Qur'an dan menjelaskan kandungannya dengan bimbingan al-Qur'an dan hadis shahih dan sekali lagi tidak lepas dari unsur manusianya.
Al-Qur'an sebagai kitab sarat makna, berisi informasi yang dinilai meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, menjadi salah satu daya tarik al-Qur'an. Ia hadir untuk kepentingan manusia, tidak terbatas hanya kepada komunitas tertentu saja tetapi bagi seluruh alam. Itulah sebabnya al-Qur'an tidak akan pernah berhenti dikaji, dipahami kandungannya, dari masa ke masa sampai bumi ini masih berpenghuni manusia. Semakin banyak ditafsirkan oleh ahli yang berbeda latar belakang keilmuannya, al-Qur'an akan semakin menunjukkan jati dirinya. Semakin digali semakin keluar mutiara-mutiara pengetahuan yang mencerahkan.
Semoga bermanfaat.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Rabu, 26 Juni 2019.
Comments
Post a Comment