Bersama al-Qur'an (132)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari adalah :
Taushiyah pada ta'ziyah hari ke-5, wafatnya Dr. H. Yamin Hadad, M.H.I :
Perjalanan manusia Dianalogikan dengan Perjalanan Tumbuh-tumbuhan
Oleh Dr. M. Djidin, M. Ag
Selasa malam, 18 Juni 2019 hp berdering. Saya tidak bisa langsung jawab karena sedang mengerjakan sesuatu sedang hp tidak berada di dekat. Suara di ujung hp itu meminta kesediaan saya untuk menyampaikan taushiyah, Rabu, 19 Juni 2019 pada ta'ziyah hari kelima wafatnya Dr. H. Yamin Hadad, M.H.I Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Ternate. Permintaan dari Ibu Kabag Kepegawaian itu langsung saya iyakan. Acara ta'ziyah kali ini dilaksanakan oleh IAIN Ternate. Berbagai hal yang dibutuhkan terkait kelancaran acara dimonitor oleh Karo dan Warek II. Kegiatan dijadwal sesudah pulang kantor. Sekitar jam 16.30 acara dimulai. Selain Karo, hadir Warek II dan Warek III, Dekan FUAD, para Wakil Dekan, Direktur Pasca, pejabat lainnya, dosen, pegawai IAIN dan para undangan dari warga setempat dan kerabat almarhum. Taushiyah tersebut direkam kembali dengan tambahan penjelasan melalui tulisan ini sebagai berikut.
Alhamdulillah pada hari ini kita bersyukur kepada Allah swt karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kita bisa hadir di rumah ini, memberikan hiburan (ta'ziyah) kepada keluarga yang ditinggalkan. Istri yang sangat setia dengan penuh kesabaran dan ketabahan mendampingi sang suami baik ketika masih sehat dan sakitnya dari rumah sakit ke rumah sakit, dari Ternate ke Makassar lalu balik lagi ke rumah sakit di Ternate sampai menjelang dan saat wafatnya, beliau tidak pernah jauh, ia selalu berada di samping suami. Semoga kesabaran dan ketabahan itu dibalas Allah, anak-anak almarhum menjadi anak-anak sukses, saleh-salehah berbakti kepada orangtu dan bermanfaat kepada agama, bangsa, dan negara. Aamiin YRA.
Kita juga berharap semoga kehadiran kita di rumah ini kita memperbanyak untuk mengingat kematian yang selalu menginspirasi dan mengedukasi untuk selalu berbuat dan berkarya, beramal positif sebagai bekal untuk akhirat kita. Allah menjelaskan bahwa diciptakannya kematian dan kehidupan adalah karena Allah ingin mengetahui, menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya, yang banyak karya sosialnya.
Al-Qur'an Surah al-Mulk ayat 2 :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya :
Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Allah sangat menghargai hamba-Nya yang berprestasi di bidang kebaikan. Allah akan memberikan reward dan sebaliknya orang yang tidak bisa berbuat apa-apa, terlalu berat timbangan dosa dan kesalahannya akan mendapat punishment. Allah menjelaskan dalam ayat al-Qur'an Surah al-Infithar ayat 13 dan 14 :
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
(13) Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.
وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ
(14) Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.
Dalam ayat yang lain pada Surah al-Qariah ayat 6-11 :
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
(6) Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya.
فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ
(7) maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
(8) Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.
فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
(9) maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Dari beberapa ayat pada Surah al-Qariah tersebut tampak jelas orang yang banyak berbuat kebaikan, amal-amal saleh akan merasakan kebahagiaan karena kelak ia akan menjadi warga surga (sebagai reward). Sebaliknya, orang yang berada dalam kekufuran, kesesatan, tanpa iman akan mendapat punishment, mereka akan menjadi warga neraka.
Bapak, Ibu, Hadirin sekalian
Suatu ketika sahabat Nabi saw berada bersama Nabi saw, seorang laki-laki datang dan bertanya kepada Nabi :
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا
Artinya :
Wahai Rasulallah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?. Nabi menjawab :
نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
Artinya :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti kepada keduanya. Yaitu mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua dan memuliakan teman dekat keduanya.
Oleh karena itu kehadiran kita di tempat ini, selain menghibur kita juga mendoakan almarhum semoga semua ibadahnya diterima Allah dan semua kekhilafan, kesalahannya diampuni oleh-Nya Aamiin YRA.
Bapak, Ibu, Hadirin sekalian
Kematian adalah hal yang biasa. Ia sangat akrab dengan kita. Allah menjelaskan dalam Surah al-An'am ayat 60 :
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya :
Dan Dialah yang menidurkan kalian (manusia) di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kalian pada siang hari untuk disempurnakan umur (kalian) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kalian kembali, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.
Ayat tersebut mengandung makna bahwa ada dua kematian yaitu pertama, kematian kecil. Tidur di waktu malam adalah mati kecil. Karena itu setiap manusia, kita semua setiap hari mengalami mati. Kedua, mati besar, saat datangnya hari kiamat. Ketika tiba waktunya, semua rencana Allah swt sudah terwujud, isi perut bumi, kuburan sudah terisi, semua makhluk sudah tidak ada lagi, maka dengan kekuasaan Allah swt manusia akan dibangkitkan. Manusia yang ada di dalam kubur yang tubuhnya sudah hancur menyatu dengan tanah dan tinggal tulang ekornya yang kecil yang diibaratkan sebesar biji sawi akan dibentuk kembali menjadi utuh. Jadi, manusia dalam hidupnya mengalami dua kematian dan dua kehidupan. Kematian yang pertama saat manusia belum bernyawa. Kematian kedua setelah ia berada di dalam kubur atau ajalnya sudah sampai. Sedang kehidupan pertama, saat manusia bernyawa dan lahir ke bumi sampai hari ini. Kehidupan yang kedua setelah Allah membangkitkan manusia dari kuburnya, di hari kemudian kelak.
Bapak, Ibu, Hadirin sekalian
Apa yang dijelaskan al-Qur'an tentang penciptaan manusia dari awal sampai hidup berketurunan hingga wafatnya dan masuk ke dalam kubur lalu tubuh menjadi hancur dan hanya menyisakan tulang ekor yang kecil. Tulang ekor itu kemudian disempurnakan lagi oleh Allah swt. Kalau bisa dianalogikan dia dibungkus lagi dengan pembungkus sesuai kehendak Allah swt, jadilah ia hidup kembali, hidup yang kekal dan abadi. Sebuah hadis Nabi :
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Setiap anak cucu Adam dimakan tanah kecuali tulang ekor. Dari situlah ia diciptakan dan dari situlah ia disusun (kembali).
Pada dasarnya, proses itu dianalogikan dalam ayat lain sehingga apa yang akan dirasakan manusia di hari kemudian kelak, sebenarnya sudah ada di depan mata kita, kita sudah menyaksikannya saat ini. Di sinilah kemahadahsyatan, kemukjizatan al-Qur'an. Kita perhatikan ayat berikut :
Surah 'Abasa ayat 18-32 :
مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (18) مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (19) ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (20) ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (21) ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (22) كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ (23) فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32)
Artinya :
Dari apakah Allah menciptakan manusia? Dari setetes mani, Allah menciptakannya, lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali, sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, zaitun dan pohon kurma. kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Beberapa ayat pada Surah 'Abasa tersebut menganalogikan proses kejadian manusia sama dengan proses tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, mulai dari awal penciptaannya sampai masuk ke dalam kubur dan tubuhnya hancur menyatu dengan tanah yang hanya menyisakan tulang ekor, yang tampak sebesar biji sawi itu
(حَبَّةِ خَرْدَلٍ )
kemudian dibangkitkan oleh Allah swt dalam keadaan utuh sesuai rencana Allah swt.
Pada ayat berikutnya Allah meminta manusia agar memperhatikan makanannya. Makanan yang sudah siap saji di rumah tidaklah instan. Ada prosesnya. Mulai dari diturunkannya air hujan dari langit mengenai bumi lalu dari air hujan itu tanah menjadi subur. Dari dalam tanah tumbuh biji-bijian, lalu menjadi buah atau berkembang menjadi pohon dan menghasilkan buah dan pohon itu kemudian daunnya berubah warna kuning, tua dan berguguran sampai akirnya pohon tidak bisa bertahan karena akarnya sudah rapuh dan mati. Demikian proses tanaman dari biji mangga misalnya, biji mangga itu akan hancur dan menyisakan sedikit saja untuk tumbuh dan menjadi pohon mangga dengan buah mangga yang utuh lalu mati dan dilanjutkan generasi mangga berikutnya sehingga pada suatu hari nanti semua pohon termasuk mangga akan hancur di hari kiamat besar nanti. Begitulah analogi yang dapat dipahami dari ayat-ayat al-Qur'an tentang penciptaan manusia dari setetes mani sampai berketurunan lalu wafat masuk ke dalam kubur dan hancur kemudian dibangkitkan Allah swt sama dengan tumbuh-tumbuhan dari air hujan menyuburkan tanah dari tanah tumbuh biji-bijian, buah-buahan. Demikian seterusnya setelah pohonnya mati dilanjutkan oleh pohon, tumbuhan berikutnya.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita bisa berkata bahwa semua ciptaan Allah yang ada di sekitar kita adalah guru yang menginspirasi dan mengedukasi agar kita menjadi lebih baik. Semoga.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Kamis, 20 Juni 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari adalah :
Taushiyah pada ta'ziyah hari ke-5, wafatnya Dr. H. Yamin Hadad, M.H.I :
Perjalanan manusia Dianalogikan dengan Perjalanan Tumbuh-tumbuhan
Oleh Dr. M. Djidin, M. Ag
Selasa malam, 18 Juni 2019 hp berdering. Saya tidak bisa langsung jawab karena sedang mengerjakan sesuatu sedang hp tidak berada di dekat. Suara di ujung hp itu meminta kesediaan saya untuk menyampaikan taushiyah, Rabu, 19 Juni 2019 pada ta'ziyah hari kelima wafatnya Dr. H. Yamin Hadad, M.H.I Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Ternate. Permintaan dari Ibu Kabag Kepegawaian itu langsung saya iyakan. Acara ta'ziyah kali ini dilaksanakan oleh IAIN Ternate. Berbagai hal yang dibutuhkan terkait kelancaran acara dimonitor oleh Karo dan Warek II. Kegiatan dijadwal sesudah pulang kantor. Sekitar jam 16.30 acara dimulai. Selain Karo, hadir Warek II dan Warek III, Dekan FUAD, para Wakil Dekan, Direktur Pasca, pejabat lainnya, dosen, pegawai IAIN dan para undangan dari warga setempat dan kerabat almarhum. Taushiyah tersebut direkam kembali dengan tambahan penjelasan melalui tulisan ini sebagai berikut.
Alhamdulillah pada hari ini kita bersyukur kepada Allah swt karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kita bisa hadir di rumah ini, memberikan hiburan (ta'ziyah) kepada keluarga yang ditinggalkan. Istri yang sangat setia dengan penuh kesabaran dan ketabahan mendampingi sang suami baik ketika masih sehat dan sakitnya dari rumah sakit ke rumah sakit, dari Ternate ke Makassar lalu balik lagi ke rumah sakit di Ternate sampai menjelang dan saat wafatnya, beliau tidak pernah jauh, ia selalu berada di samping suami. Semoga kesabaran dan ketabahan itu dibalas Allah, anak-anak almarhum menjadi anak-anak sukses, saleh-salehah berbakti kepada orangtu dan bermanfaat kepada agama, bangsa, dan negara. Aamiin YRA.
Kita juga berharap semoga kehadiran kita di rumah ini kita memperbanyak untuk mengingat kematian yang selalu menginspirasi dan mengedukasi untuk selalu berbuat dan berkarya, beramal positif sebagai bekal untuk akhirat kita. Allah menjelaskan bahwa diciptakannya kematian dan kehidupan adalah karena Allah ingin mengetahui, menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya, yang banyak karya sosialnya.
Al-Qur'an Surah al-Mulk ayat 2 :
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya :
Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Allah sangat menghargai hamba-Nya yang berprestasi di bidang kebaikan. Allah akan memberikan reward dan sebaliknya orang yang tidak bisa berbuat apa-apa, terlalu berat timbangan dosa dan kesalahannya akan mendapat punishment. Allah menjelaskan dalam ayat al-Qur'an Surah al-Infithar ayat 13 dan 14 :
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
(13) Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.
وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ
(14) Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.
Dalam ayat yang lain pada Surah al-Qariah ayat 6-11 :
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ
(6) Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya.
فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ
(7) maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ
(8) Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.
فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
(9) maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Dari beberapa ayat pada Surah al-Qariah tersebut tampak jelas orang yang banyak berbuat kebaikan, amal-amal saleh akan merasakan kebahagiaan karena kelak ia akan menjadi warga surga (sebagai reward). Sebaliknya, orang yang berada dalam kekufuran, kesesatan, tanpa iman akan mendapat punishment, mereka akan menjadi warga neraka.
Bapak, Ibu, Hadirin sekalian
Suatu ketika sahabat Nabi saw berada bersama Nabi saw, seorang laki-laki datang dan bertanya kepada Nabi :
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا
Artinya :
Wahai Rasulallah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?. Nabi menjawab :
نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
Artinya :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti kepada keduanya. Yaitu mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua dan memuliakan teman dekat keduanya.
Oleh karena itu kehadiran kita di tempat ini, selain menghibur kita juga mendoakan almarhum semoga semua ibadahnya diterima Allah dan semua kekhilafan, kesalahannya diampuni oleh-Nya Aamiin YRA.
Bapak, Ibu, Hadirin sekalian
Kematian adalah hal yang biasa. Ia sangat akrab dengan kita. Allah menjelaskan dalam Surah al-An'am ayat 60 :
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya :
Dan Dialah yang menidurkan kalian (manusia) di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kalian pada siang hari untuk disempurnakan umur (kalian) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kalian kembali, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.
Ayat tersebut mengandung makna bahwa ada dua kematian yaitu pertama, kematian kecil. Tidur di waktu malam adalah mati kecil. Karena itu setiap manusia, kita semua setiap hari mengalami mati. Kedua, mati besar, saat datangnya hari kiamat. Ketika tiba waktunya, semua rencana Allah swt sudah terwujud, isi perut bumi, kuburan sudah terisi, semua makhluk sudah tidak ada lagi, maka dengan kekuasaan Allah swt manusia akan dibangkitkan. Manusia yang ada di dalam kubur yang tubuhnya sudah hancur menyatu dengan tanah dan tinggal tulang ekornya yang kecil yang diibaratkan sebesar biji sawi akan dibentuk kembali menjadi utuh. Jadi, manusia dalam hidupnya mengalami dua kematian dan dua kehidupan. Kematian yang pertama saat manusia belum bernyawa. Kematian kedua setelah ia berada di dalam kubur atau ajalnya sudah sampai. Sedang kehidupan pertama, saat manusia bernyawa dan lahir ke bumi sampai hari ini. Kehidupan yang kedua setelah Allah membangkitkan manusia dari kuburnya, di hari kemudian kelak.
Bapak, Ibu, Hadirin sekalian
Apa yang dijelaskan al-Qur'an tentang penciptaan manusia dari awal sampai hidup berketurunan hingga wafatnya dan masuk ke dalam kubur lalu tubuh menjadi hancur dan hanya menyisakan tulang ekor yang kecil. Tulang ekor itu kemudian disempurnakan lagi oleh Allah swt. Kalau bisa dianalogikan dia dibungkus lagi dengan pembungkus sesuai kehendak Allah swt, jadilah ia hidup kembali, hidup yang kekal dan abadi. Sebuah hadis Nabi :
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ مِنْهُ خُلِقَ وَفِيهِ يُرَكَّبُ
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Setiap anak cucu Adam dimakan tanah kecuali tulang ekor. Dari situlah ia diciptakan dan dari situlah ia disusun (kembali).
Pada dasarnya, proses itu dianalogikan dalam ayat lain sehingga apa yang akan dirasakan manusia di hari kemudian kelak, sebenarnya sudah ada di depan mata kita, kita sudah menyaksikannya saat ini. Di sinilah kemahadahsyatan, kemukjizatan al-Qur'an. Kita perhatikan ayat berikut :
Surah 'Abasa ayat 18-32 :
مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ (18) مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (19) ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (20) ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (21) ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ (22) كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ (23) فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32)
Artinya :
Dari apakah Allah menciptakan manusia? Dari setetes mani, Allah menciptakannya, lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali, sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, zaitun dan pohon kurma. kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Beberapa ayat pada Surah 'Abasa tersebut menganalogikan proses kejadian manusia sama dengan proses tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, mulai dari awal penciptaannya sampai masuk ke dalam kubur dan tubuhnya hancur menyatu dengan tanah yang hanya menyisakan tulang ekor, yang tampak sebesar biji sawi itu
(حَبَّةِ خَرْدَلٍ )
kemudian dibangkitkan oleh Allah swt dalam keadaan utuh sesuai rencana Allah swt.
Pada ayat berikutnya Allah meminta manusia agar memperhatikan makanannya. Makanan yang sudah siap saji di rumah tidaklah instan. Ada prosesnya. Mulai dari diturunkannya air hujan dari langit mengenai bumi lalu dari air hujan itu tanah menjadi subur. Dari dalam tanah tumbuh biji-bijian, lalu menjadi buah atau berkembang menjadi pohon dan menghasilkan buah dan pohon itu kemudian daunnya berubah warna kuning, tua dan berguguran sampai akirnya pohon tidak bisa bertahan karena akarnya sudah rapuh dan mati. Demikian proses tanaman dari biji mangga misalnya, biji mangga itu akan hancur dan menyisakan sedikit saja untuk tumbuh dan menjadi pohon mangga dengan buah mangga yang utuh lalu mati dan dilanjutkan generasi mangga berikutnya sehingga pada suatu hari nanti semua pohon termasuk mangga akan hancur di hari kiamat besar nanti. Begitulah analogi yang dapat dipahami dari ayat-ayat al-Qur'an tentang penciptaan manusia dari setetes mani sampai berketurunan lalu wafat masuk ke dalam kubur dan hancur kemudian dibangkitkan Allah swt sama dengan tumbuh-tumbuhan dari air hujan menyuburkan tanah dari tanah tumbuh biji-bijian, buah-buahan. Demikian seterusnya setelah pohonnya mati dilanjutkan oleh pohon, tumbuhan berikutnya.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita bisa berkata bahwa semua ciptaan Allah yang ada di sekitar kita adalah guru yang menginspirasi dan mengedukasi agar kita menjadi lebih baik. Semoga.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Kamis, 20 Juni 2019
Comments
Post a Comment