Bersama al-Qur'an (129)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Halal bi Halal IAIN Ternate 2019
Tulisan ini direncanakan dipublish Bersama al-Qur'an (127), 14 Juni 2019, tetapi saat membahas ayat yang dibaca oleh Nurwahidah, mahasiswi pembaca ayat al-Qur'an pada acara Halal bi Halal IAIN (ayat yang dibaca terkait juga dengan masalah infaq), maka pembahasannya mengalir dan terus berlanjut. Sengaja diteruskan karena alasan ingin segera menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada saya. Pertanyaan melalui lini masa saya itu berisi bagaimana pendapat saya tentang infak, sedekah kreatif melalui kotak amal mesjid. Bagaimana cara al-Qur'an mendorong ummat Islam agar mereka tidak pernah absen memasukkan uang berapapun jumlahnya ke kotak amal mesjid yang tampaknya sudah dilalaikan oleh kaum muslimin. Pertanyaan itu disampaikan Kamis, 13 Juni 2019. Maka, tulisan yang awalnya tentang Halal bi Halal berubah arah dan jadilah topik Bersama al-Qur'an (127) itu :
Infaq dan sadaqah :
Alternatif memberdayakan kaum yang lemah. Sedang Bersama al-Qur'an (128) terkait kepergian untuk selamanya, pergi dan tidak akan kembali lagi yaitu berkaitan dengan berpulangnya ke Rahmatullah bapak Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN, Ternate, Dr. H. Yamin Hadad, M.H.I, 14 Juni 2019.
(الله يرحمه ويغفرله). Karena itu acara Halal bi Halal di IAIN Ternate ditulis Bersama al-Qur'an (129) hari ini.
Sudah menjadi tradisi bagi ummat Islam Indonesia, setelah pelaksanaan salat Idulfitri, mereka melaksanakan acara Halal bi Halal yaitu acara silaturrahim dan saling memaafkan. Pelaksanaannya dilakukan di berbagai tempat ; di mesjid, di tempat terbuka, di kantor, sampai ke Istana.
Kamis, 13 Juni 2019. IAIN Ternate melaksanakan acara Halal bi Halal di Lantai II Rektorat IAIN Ternate. Selain rektor, pada acara tersebut hadir Warek, Karo, para Dekan, Direktur Pasca, para dosen dan pegawai di lingkungan IAIN Ternate memadati ruangan.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur'an. Nurwahidah, mahasiswi Prodi IAT, Jurusan Ushuluddin, semester IV yang ditunjuk sebagai pembaca al-Qur'an membacakan ayat 134 pada Surah al-Imran :
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya :
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Sebahagian mufassir menjelaskan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan beberapa sifat orang takwa, ada tiga : Pertama, suka berinfak atas dasar taat kepada Allah. Yaitu orang berinfak baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, dalam kemudahan atau kesulitan. Kedua, adalah menahan amarah (menahan emosi negatif yang ada dalam dirinya) dengan kesabaran. Saat menghadapi suatu masalah diakibatkan orang lain, pada saat yang bersamaan dia bisa berbuat, bertindak, tetapi ia tidak lakukan, ia sabar. Ketiga, memaafkan orang yang berbuat zhalim, salah terhadapnya baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Amal seperti ini termasuk membersihkan diri dengan akhlak mulia, menjauhi akhlak yang buruk. Orang-orang yang melakukan ketiga hal tersebut termasuk berbuat Ihsan yang sangat disukai Allah swt
(ان الله يحب المحسنين).
Setelah pembacaan ayat suci al-Qur'an, sambutan Rektor. Dalam sambutannya, Rektor IAIN Ternate, Dr. H. Samlan Ahmad, M. Pd menyampaikan dua poin penting :
Pertama, pentingnya membangun desa-desa binaan. Sebahagian warga masyarakat yang berada di desa-desa terpencil masih tergolong masyarakat ekonomi lemah. Lembaga berperan penting turut mencarikan solusi dalam upaya pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah tersebut. Cara yang bisa dilakukan melalui desa binaan. Warga masyarakat harus didorong menjadi warga yang mandiri, produktif, berjiwa kewirausahaan. Salah satu alternatifnya menghadirkan para mahasiswa, para pemuda ke lapangan bersama warga masyarakat sebagai Agent of Change. Apa yang disampaikan Rektor mengingatkan kita pidato yang pernah disampaikan oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno : "Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”.
Kedua. Membangun lembaga supaya bisa sejajar dengan lembaga-lembaga lainnya (PTKIN) di Indonesia. Dalam kesempatan terpisah, pak Rektor mengajak Civitas Akademika agar ke depan kita bisa menaikkan status IAIN Ternate menjadi UIN. Karena itu semua warga kampus bekerja sungguh-sungguh untuk kemajuan lembaga. Persaudaraan dipelihara, persatuan dirawat dengan baik. Hindari kata "karena saya". Keberhasilan adalah keberhasilan bersama, keberhasilan kolektif. Nikmat yang paling besar adalah persaudaraan. Menutup sambutannya, Rektor mengutip ayat 103 pada Surah al-Imran :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.
Acara berikutnya, taushiyah tentang Halal bi Halal yang disampaikan oleh Pengasuh Ma'had al-Jami'ah, IAIN Ternate, Ustadz Ahmad Dardiri.
Ustadz Dardiri memulai ceramahnya dengan menjelaskan pengertian Halal bi Halal dari segi bahasa, asal usul awal penggunaannya di Indonesia yang dimulai di zaman Soekarno dan berlanjut sampai hari ini.
Tahun 1948 di dalam negeri sedang terjadi pemberontakan, para elit politik saling menghujat, Indonesia sedang tidak kondusif. Untuk menjaga kedaulatan rakyat waktu itu, atas permintaan Soekarno, KH. Wahab menyarankan agar para elit politik diundang ke istana untuk makan ketupat, silaturrahim, dan saling menghalalkan, saling memaafkan. Dari sinilah awal halal bi halal dicetuskan. Sebuah istilah dan menjadi tradisi khas ummat Islam Indonesia.
Di Jawa, ketupat dimaknai dengan "ngaku lepat” yang bermakna “mengaku bersalah”. Makna ini dilambangkan dalam bentuk makanan ketupat yang siap saji di acara halal bi halal, sesudah Idulfitri. Ketupat berbentuk persegi berbahan dasar beras. Ia dibungkus dengan janur (daun muda pohon kelapa). Janur pembungkus yang dijalin melambangkan belitan dosa dan kesalahan. Karena itulah, ketupat harus dibelah dan isinya akan tampak berwarna putih lambang kesucian dari dosa. Jadi, ketupat mengandung makna ada dosa dan khilaf yang membutuhkan permohonan maaf. Memakan ketupat dapat dimaknai penerimaan dan pemberian maaf. Kata halal bi halal meski sulit dipahami oleh orang Arab, tetapi kata halal ditemukan dalam hadis nabi dari Abi Hurairah diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Redaksi hadis tersebut :
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ
Artinya : Barang siapa pernah berbuat zhalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut.
Di akhir ceramah, ustadz Dardiri mengemukakan, bahwa dalam upaya menjaga nilai-nilai takwa, ada empat pilar yang harus berdiri kokoh pada bangunan ummat Islam : Pertama, al-Mu'ahadah atau MoU dengan sang Khaliq. Kedua, al-Muraqabah, mendekatkan diri kepada Allah. Ketiga, al-Muhasabah, evaluasi diri. Keempat al-Mujahadah, bersungguh-sungguh.
Semoga bermanfaat.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Minggu 16 Juni 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Halal bi Halal IAIN Ternate 2019
Tulisan ini direncanakan dipublish Bersama al-Qur'an (127), 14 Juni 2019, tetapi saat membahas ayat yang dibaca oleh Nurwahidah, mahasiswi pembaca ayat al-Qur'an pada acara Halal bi Halal IAIN (ayat yang dibaca terkait juga dengan masalah infaq), maka pembahasannya mengalir dan terus berlanjut. Sengaja diteruskan karena alasan ingin segera menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada saya. Pertanyaan melalui lini masa saya itu berisi bagaimana pendapat saya tentang infak, sedekah kreatif melalui kotak amal mesjid. Bagaimana cara al-Qur'an mendorong ummat Islam agar mereka tidak pernah absen memasukkan uang berapapun jumlahnya ke kotak amal mesjid yang tampaknya sudah dilalaikan oleh kaum muslimin. Pertanyaan itu disampaikan Kamis, 13 Juni 2019. Maka, tulisan yang awalnya tentang Halal bi Halal berubah arah dan jadilah topik Bersama al-Qur'an (127) itu :
Infaq dan sadaqah :
Alternatif memberdayakan kaum yang lemah. Sedang Bersama al-Qur'an (128) terkait kepergian untuk selamanya, pergi dan tidak akan kembali lagi yaitu berkaitan dengan berpulangnya ke Rahmatullah bapak Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN, Ternate, Dr. H. Yamin Hadad, M.H.I, 14 Juni 2019.
(الله يرحمه ويغفرله). Karena itu acara Halal bi Halal di IAIN Ternate ditulis Bersama al-Qur'an (129) hari ini.
Sudah menjadi tradisi bagi ummat Islam Indonesia, setelah pelaksanaan salat Idulfitri, mereka melaksanakan acara Halal bi Halal yaitu acara silaturrahim dan saling memaafkan. Pelaksanaannya dilakukan di berbagai tempat ; di mesjid, di tempat terbuka, di kantor, sampai ke Istana.
Kamis, 13 Juni 2019. IAIN Ternate melaksanakan acara Halal bi Halal di Lantai II Rektorat IAIN Ternate. Selain rektor, pada acara tersebut hadir Warek, Karo, para Dekan, Direktur Pasca, para dosen dan pegawai di lingkungan IAIN Ternate memadati ruangan.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci al-Qur'an. Nurwahidah, mahasiswi Prodi IAT, Jurusan Ushuluddin, semester IV yang ditunjuk sebagai pembaca al-Qur'an membacakan ayat 134 pada Surah al-Imran :
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya :
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Sebahagian mufassir menjelaskan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan beberapa sifat orang takwa, ada tiga : Pertama, suka berinfak atas dasar taat kepada Allah. Yaitu orang berinfak baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, dalam kemudahan atau kesulitan. Kedua, adalah menahan amarah (menahan emosi negatif yang ada dalam dirinya) dengan kesabaran. Saat menghadapi suatu masalah diakibatkan orang lain, pada saat yang bersamaan dia bisa berbuat, bertindak, tetapi ia tidak lakukan, ia sabar. Ketiga, memaafkan orang yang berbuat zhalim, salah terhadapnya baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Amal seperti ini termasuk membersihkan diri dengan akhlak mulia, menjauhi akhlak yang buruk. Orang-orang yang melakukan ketiga hal tersebut termasuk berbuat Ihsan yang sangat disukai Allah swt
(ان الله يحب المحسنين).
Setelah pembacaan ayat suci al-Qur'an, sambutan Rektor. Dalam sambutannya, Rektor IAIN Ternate, Dr. H. Samlan Ahmad, M. Pd menyampaikan dua poin penting :
Pertama, pentingnya membangun desa-desa binaan. Sebahagian warga masyarakat yang berada di desa-desa terpencil masih tergolong masyarakat ekonomi lemah. Lembaga berperan penting turut mencarikan solusi dalam upaya pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah tersebut. Cara yang bisa dilakukan melalui desa binaan. Warga masyarakat harus didorong menjadi warga yang mandiri, produktif, berjiwa kewirausahaan. Salah satu alternatifnya menghadirkan para mahasiswa, para pemuda ke lapangan bersama warga masyarakat sebagai Agent of Change. Apa yang disampaikan Rektor mengingatkan kita pidato yang pernah disampaikan oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno : "Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”.
Kedua. Membangun lembaga supaya bisa sejajar dengan lembaga-lembaga lainnya (PTKIN) di Indonesia. Dalam kesempatan terpisah, pak Rektor mengajak Civitas Akademika agar ke depan kita bisa menaikkan status IAIN Ternate menjadi UIN. Karena itu semua warga kampus bekerja sungguh-sungguh untuk kemajuan lembaga. Persaudaraan dipelihara, persatuan dirawat dengan baik. Hindari kata "karena saya". Keberhasilan adalah keberhasilan bersama, keberhasilan kolektif. Nikmat yang paling besar adalah persaudaraan. Menutup sambutannya, Rektor mengutip ayat 103 pada Surah al-Imran :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.
Acara berikutnya, taushiyah tentang Halal bi Halal yang disampaikan oleh Pengasuh Ma'had al-Jami'ah, IAIN Ternate, Ustadz Ahmad Dardiri.
Ustadz Dardiri memulai ceramahnya dengan menjelaskan pengertian Halal bi Halal dari segi bahasa, asal usul awal penggunaannya di Indonesia yang dimulai di zaman Soekarno dan berlanjut sampai hari ini.
Tahun 1948 di dalam negeri sedang terjadi pemberontakan, para elit politik saling menghujat, Indonesia sedang tidak kondusif. Untuk menjaga kedaulatan rakyat waktu itu, atas permintaan Soekarno, KH. Wahab menyarankan agar para elit politik diundang ke istana untuk makan ketupat, silaturrahim, dan saling menghalalkan, saling memaafkan. Dari sinilah awal halal bi halal dicetuskan. Sebuah istilah dan menjadi tradisi khas ummat Islam Indonesia.
Di Jawa, ketupat dimaknai dengan "ngaku lepat” yang bermakna “mengaku bersalah”. Makna ini dilambangkan dalam bentuk makanan ketupat yang siap saji di acara halal bi halal, sesudah Idulfitri. Ketupat berbentuk persegi berbahan dasar beras. Ia dibungkus dengan janur (daun muda pohon kelapa). Janur pembungkus yang dijalin melambangkan belitan dosa dan kesalahan. Karena itulah, ketupat harus dibelah dan isinya akan tampak berwarna putih lambang kesucian dari dosa. Jadi, ketupat mengandung makna ada dosa dan khilaf yang membutuhkan permohonan maaf. Memakan ketupat dapat dimaknai penerimaan dan pemberian maaf. Kata halal bi halal meski sulit dipahami oleh orang Arab, tetapi kata halal ditemukan dalam hadis nabi dari Abi Hurairah diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Redaksi hadis tersebut :
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ
Artinya : Barang siapa pernah berbuat zhalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau yang lain, hendaknya meminta orang tersebut menghalalkan dirinya dari perbuatan aniaya tersebut.
Di akhir ceramah, ustadz Dardiri mengemukakan, bahwa dalam upaya menjaga nilai-nilai takwa, ada empat pilar yang harus berdiri kokoh pada bangunan ummat Islam : Pertama, al-Mu'ahadah atau MoU dengan sang Khaliq. Kedua, al-Muraqabah, mendekatkan diri kepada Allah. Ketiga, al-Muhasabah, evaluasi diri. Keempat al-Mujahadah, bersungguh-sungguh.
Semoga bermanfaat.
آمين يارب العٰلمين
والله اعلم بالصواب
Ternate, Minggu 16 Juni 2019
Comments
Post a Comment