Bersama al-Qur'an (126)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Hadiah Buku :
Orangtua yang baik Melahirkan Keturunan yang baik
Grup WhatsApp (WA) saat ini semakin berkembang. Kalau awalnya, grup WA masih terbatas di lingkungan kerja, kantor, kampus, sekolah, kini ia berkembang dengan berbagai jenisnya. Ada Grup Unit Kerja, Grup Organisasi, Grup Diskusi, Grup Keluarga, Grup Pemerhati al-Qur'an, Grup Mengidupkan Sunnah, Grup Kelompok Tugas, Grup Olahraga, Grup Kesehatan, Grup Ikatan Alumni, Grup Perkumpulan Suku tertentu, Grup Bisnis dan seterusnya. Banyaknya grup WA sangat terasa bahwa aplikasi pesan WA menjadi fitur komunikasi yang sangat digemari. Selain itu, ia memiliki manfaat di antaranya memelihara ukhuwah, tidak kehilangan kontak, mendapat informasi baru, menambah pengetahuan dan wawasan, dan sebagai hiburan. Karena itu ada orang yang memiliki grup WA sampai dua puluh.
Beberapa waktu lalu saya diundang menjadi anggota Grup WA yang digagas oleh teman-teman ketika kuliah S2 di IAIN (UIN) Alauddin Makassar Angkatan 1993. Grup ini masuk kategori Grup Reuni yang oleh teman-teman diberi nama Grup WA S2-93 Alauddin. Kebahagiaan tersendiri bisa berkomunikasi dengan kawan-kawan yang sudah lama kehilangan kontak. Ada yang dari Medan, Semarang, Palembang, Ambon, Makassar, Bone, dan saya sendiri dari Ternate dengan latar belakang pengalaman dan jabatan yang berbeda. Selain sebagai dosen, di antara teman-teman ada yang dekan, rektor, ulama, bahkan saat ini ada yang jadi calon rektor, dll. Meski usia grup ini masih baru, pas satu bulan Kamis besok, 13 Juni 2019 tetapi cukup banyak informasi baru dari teman-teman, selain menginspirasi, juga mengedukasi. Satu di antaranya melalui hadiah buku. Salah seorang teman, Dr. KH. Baharuddin HS, M.A membagikan buku biografinya yang ditulis Muhammad Yusuf. Buku berjudul Merawat Silaturrahim Tanpa Batas itu sudah dibagikan secara gratis kepada semua anggota grup termasuk saya. Buku saya terima Selasa, 11 Juni 2019 dari seorang pegawai IAIN Ternate.
Menurut Muhammad Yusuf, buku diluncurkan bertepatan usia Dr. KH. Baharuddin HS, M.A (selanjutnya saya sebut Pak Kyai) memasuki usia ke-70 tahun. Buku setebal 333 halaman tersebut mengungkap jejak perjalanan hidup pak Kyai sejak sebelum menjadi guru, hingga menjadi guru, dosen, ustadz, Kyai sampai hari ini dengan sederet pengalaman dan jabatan yang diemban sebagai ulama hingga menjadi pimpinan pondok pesantren modern IMMIM Makassar, menjadi Ketua MUI Kota Makassar, Rais Syuriah NU Kota Makassar. Penulis buku yang juga sebagai menantu pak Kyai selama tidak kurang dari 13 tahun menjadi keluarga pak Kyai menemukan banyak informasi pada diri pak Kyai berkaitan kepribadian, kesungguhan, sikap rendah hati, serta sikap keterbukaan dan mudah berkomunikasi kepada pihak lain tanpa batas. Seorang budayawan, kolumnis, dan non Muslim, Ishak Ngeljaratan dalam testimoninya di bagian belakang buku menulis : "KH. Baharuddin adalah seorang ulama yang diterima, dihormati, dan bahkan disayangi. Beliau bagaikan sebuah mesjid yang terbuka tempat menunaikan ibadah bagi siapa saja tanpa diskriminasi aliran". Tampaknya, ini kemudian menjadi alasan penulis mengapa buku ini diberi judul "Merawat Silaturrahim Tanpa Batas" (hal. vi-vii).
KH. Baharuddin adalah keluarga ulama. Ayahnya, KH. Abduh Shafa adalah salah seorang ulama Sulawesi Selatan yang berguru langsung kepada ulama kharismatik, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle di Mangkoso Sulawesi Selatan. Sebelum ayahanda pak Kyai, KH. Abduh Shafa ke Mangkoso, beliau belajar agama yang pertama dari ayahnya (kakek pak Kyai), La Husen. Ia juga berguru ke ulama kampung, Watatta. Memasuki usia remaja, Abduh Shafa muda belajar mengkaji kitab-kitab Arab klasik kepada guru, AGH. Abdul Gani. Pengembaraan ilmu agama Abduh Shafa Muda tidak berhenti di sini, beliau melanjutkan untuk menimba ilmu ke kampung Bulu Awampone. Di kampung ini beliau berguru ke Puang Haji Yalla. Abduh Shafa muda mengetahui bahwa di kampung seblah, sekitar 5 km dari Watampone, ada guru Ilyas. Ia pun segera mendapatkan Guru Ilyas dan berguru kepadanya. Guru Ilyas adalah alumnus Madrasah Arabiah Islamiyah (yang kini menjadi Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang). Abduh Shafa muda (KH. Abduh Shafa) sudah memiki banyak ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di kampung. Namun, naluri kyai yang sudah ada dalam dirinya, harus meninggalkan kampung halaman dan istri tercinta, Indare' (Puang Indah) berangkat menuju Mangkoso di Kabupaten Barru untuk berguru langsung kepada AG. KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Keputusan Abduh Shafa ke Mangkoso termasuk pilihan. Jarak rumahnya di Watampone dengan Mangkoso ditempuh selama dua hari dengan jalan kaki. Karena itu, ketika Abduh Shafa akan berangkat ke Mangkoso, ia dibekali istrinya makanan yang dipikul dipundaknya. Dapat dibayangkan bekal makanan untuk dua hari adalah tidak ringan untuk perjalanan jauh, perjalanan lintas kabupaten tanpa menggunakan kendaraan. Saat sibuk-sibuknya belajar di Mangkoso, istrinya melahirkan anak pertama. Abduh Shafa tidak bisa menyaksikan, mendampingi istrinya saat melahirkan anak pertamanya. Sepertinya, ada pertarungan yang sedang terjadi dalam diri Abduh Shafa berkaitan kelahiran anaknya. Tetapi Abduh Shafa tetap tinggal di Mangkoso, meskipun ia sangat mencintai istri dan anaknya (yang kemudian diberi nama Harisah). Pilihannya tetap belajar untuk kepentingan agama dan masyarakat di masa akan datang. Lagi pula, Indare', sepupuh satu kali yang disuntingnya adalah ibu yang baik dan amanah. Dari Mangkoso, sebagai rasa cinta dan tanggung jawab Abduh Shafa terhadap istri dan anaknya, ia mengirim pesan tertulis kepada istrinya, Indare' dengan logat Bugis yang kental :"tapiara madecengngi Anatta, Harisah" (Tolong dipelihara, dirawat dengan baik anak kita, Harisah), Hal. 35-39. Harisah kemudian tumbuh menjadi anak yang baik, remaja yang cerdas, dan menjelma menjadi sosok panutan sebagai Ulama, Kyai yang berilmu yang berakhlak
(الله يرحمه ويففرله).
Anak kedua KH. Abduh Shafa adalah Dr. KH. Baharuddin disusul Prof. Dr. H. Najamuddin HS, M.A, Almarhum Dr. H. Saifuddin, M.A
(الله يرحمه ويففرله).
Ketiganya mengikuti bakat ayahnya sebagai ulama.
Secara pribadi saya merasa dekat dengan mereka. KH. Harisah HS dan Prof. Dr. H. Najamuddin HS. Keduanya adalah guru/dosen saya saat kuliah di Fakultas Adab Jurusan BSA, IAIN Alauddin. Bahkan saya sangat dekat dengan pribadi KH. Harisah. Beberapa kali saya baca khutbah di mesjid KH. Harisah, Mesjid Al-Ihsan (?)Tinumbu, Makassar, beliau selalu mengingatkan saya agar segera mencari pasangan hidup. Memang waktu itu, saya masih sendiri. Pak Kyai Baharuddin adalah teman kuliah S2 di Pascasarjana IAIN (UIN) Alauddin 1993. Mahasiswa Pasca Angkatan 1993 sering ke rumah pak Kyai Baharuddin untuk mendiskusikan berbagai materi kuliah waktu itu. Sedang Dr. H. Saifuddin adik kelas di Pascasarjana IAIN (UIN) Alauddin Makassar.
Alangkah bahagianya KH. Abduh Shafa sebagai orangtua mereka. Orangtua yang berhasil melahirkan para ulama pewaris para nabi. Menurut AG. Dr. KH. Muh. Sanusi Baco, Lc bahwa ulama itu sosok mulia. Para ulama itu tidak mewarisi dan mewariskan harta, tetapi mereka mewarisi dan mewariskan ilmu, keteladanan, dan karya.
AG. Dr. KH. Muh. Sanusi Baco, Lc mengharapkan agar Dr. KH. Baharuddin HS selalu sehat wal afiat dan istiqamah dalam mewaqafkan sebahagian hidupnya untuk agama, mencerahkan, mengedukasi masyarakat. Saat ini negara dan masyarakat membutuhkan panduan para ulama. Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat seperti mengguritanya korupsi, bahaya narkoba, LGBT semakin membutuhkan bimbingan ulama untuk menentukan dan memastikan langkah masyarakat di jalan yang benar (hal. xiii-xv).
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita bisa berkata bahwa orang baik akan melahirkan keturunan yang baik.
Semoga bermanfaat.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Rabu, 12 Juni 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Hadiah Buku :
Orangtua yang baik Melahirkan Keturunan yang baik
Grup WhatsApp (WA) saat ini semakin berkembang. Kalau awalnya, grup WA masih terbatas di lingkungan kerja, kantor, kampus, sekolah, kini ia berkembang dengan berbagai jenisnya. Ada Grup Unit Kerja, Grup Organisasi, Grup Diskusi, Grup Keluarga, Grup Pemerhati al-Qur'an, Grup Mengidupkan Sunnah, Grup Kelompok Tugas, Grup Olahraga, Grup Kesehatan, Grup Ikatan Alumni, Grup Perkumpulan Suku tertentu, Grup Bisnis dan seterusnya. Banyaknya grup WA sangat terasa bahwa aplikasi pesan WA menjadi fitur komunikasi yang sangat digemari. Selain itu, ia memiliki manfaat di antaranya memelihara ukhuwah, tidak kehilangan kontak, mendapat informasi baru, menambah pengetahuan dan wawasan, dan sebagai hiburan. Karena itu ada orang yang memiliki grup WA sampai dua puluh.
Beberapa waktu lalu saya diundang menjadi anggota Grup WA yang digagas oleh teman-teman ketika kuliah S2 di IAIN (UIN) Alauddin Makassar Angkatan 1993. Grup ini masuk kategori Grup Reuni yang oleh teman-teman diberi nama Grup WA S2-93 Alauddin. Kebahagiaan tersendiri bisa berkomunikasi dengan kawan-kawan yang sudah lama kehilangan kontak. Ada yang dari Medan, Semarang, Palembang, Ambon, Makassar, Bone, dan saya sendiri dari Ternate dengan latar belakang pengalaman dan jabatan yang berbeda. Selain sebagai dosen, di antara teman-teman ada yang dekan, rektor, ulama, bahkan saat ini ada yang jadi calon rektor, dll. Meski usia grup ini masih baru, pas satu bulan Kamis besok, 13 Juni 2019 tetapi cukup banyak informasi baru dari teman-teman, selain menginspirasi, juga mengedukasi. Satu di antaranya melalui hadiah buku. Salah seorang teman, Dr. KH. Baharuddin HS, M.A membagikan buku biografinya yang ditulis Muhammad Yusuf. Buku berjudul Merawat Silaturrahim Tanpa Batas itu sudah dibagikan secara gratis kepada semua anggota grup termasuk saya. Buku saya terima Selasa, 11 Juni 2019 dari seorang pegawai IAIN Ternate.
Menurut Muhammad Yusuf, buku diluncurkan bertepatan usia Dr. KH. Baharuddin HS, M.A (selanjutnya saya sebut Pak Kyai) memasuki usia ke-70 tahun. Buku setebal 333 halaman tersebut mengungkap jejak perjalanan hidup pak Kyai sejak sebelum menjadi guru, hingga menjadi guru, dosen, ustadz, Kyai sampai hari ini dengan sederet pengalaman dan jabatan yang diemban sebagai ulama hingga menjadi pimpinan pondok pesantren modern IMMIM Makassar, menjadi Ketua MUI Kota Makassar, Rais Syuriah NU Kota Makassar. Penulis buku yang juga sebagai menantu pak Kyai selama tidak kurang dari 13 tahun menjadi keluarga pak Kyai menemukan banyak informasi pada diri pak Kyai berkaitan kepribadian, kesungguhan, sikap rendah hati, serta sikap keterbukaan dan mudah berkomunikasi kepada pihak lain tanpa batas. Seorang budayawan, kolumnis, dan non Muslim, Ishak Ngeljaratan dalam testimoninya di bagian belakang buku menulis : "KH. Baharuddin adalah seorang ulama yang diterima, dihormati, dan bahkan disayangi. Beliau bagaikan sebuah mesjid yang terbuka tempat menunaikan ibadah bagi siapa saja tanpa diskriminasi aliran". Tampaknya, ini kemudian menjadi alasan penulis mengapa buku ini diberi judul "Merawat Silaturrahim Tanpa Batas" (hal. vi-vii).
KH. Baharuddin adalah keluarga ulama. Ayahnya, KH. Abduh Shafa adalah salah seorang ulama Sulawesi Selatan yang berguru langsung kepada ulama kharismatik, AGH. Abdurrahman Ambo Dalle di Mangkoso Sulawesi Selatan. Sebelum ayahanda pak Kyai, KH. Abduh Shafa ke Mangkoso, beliau belajar agama yang pertama dari ayahnya (kakek pak Kyai), La Husen. Ia juga berguru ke ulama kampung, Watatta. Memasuki usia remaja, Abduh Shafa muda belajar mengkaji kitab-kitab Arab klasik kepada guru, AGH. Abdul Gani. Pengembaraan ilmu agama Abduh Shafa Muda tidak berhenti di sini, beliau melanjutkan untuk menimba ilmu ke kampung Bulu Awampone. Di kampung ini beliau berguru ke Puang Haji Yalla. Abduh Shafa muda mengetahui bahwa di kampung seblah, sekitar 5 km dari Watampone, ada guru Ilyas. Ia pun segera mendapatkan Guru Ilyas dan berguru kepadanya. Guru Ilyas adalah alumnus Madrasah Arabiah Islamiyah (yang kini menjadi Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang). Abduh Shafa muda (KH. Abduh Shafa) sudah memiki banyak ilmu yang diperoleh dari guru-gurunya di kampung. Namun, naluri kyai yang sudah ada dalam dirinya, harus meninggalkan kampung halaman dan istri tercinta, Indare' (Puang Indah) berangkat menuju Mangkoso di Kabupaten Barru untuk berguru langsung kepada AG. KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Keputusan Abduh Shafa ke Mangkoso termasuk pilihan. Jarak rumahnya di Watampone dengan Mangkoso ditempuh selama dua hari dengan jalan kaki. Karena itu, ketika Abduh Shafa akan berangkat ke Mangkoso, ia dibekali istrinya makanan yang dipikul dipundaknya. Dapat dibayangkan bekal makanan untuk dua hari adalah tidak ringan untuk perjalanan jauh, perjalanan lintas kabupaten tanpa menggunakan kendaraan. Saat sibuk-sibuknya belajar di Mangkoso, istrinya melahirkan anak pertama. Abduh Shafa tidak bisa menyaksikan, mendampingi istrinya saat melahirkan anak pertamanya. Sepertinya, ada pertarungan yang sedang terjadi dalam diri Abduh Shafa berkaitan kelahiran anaknya. Tetapi Abduh Shafa tetap tinggal di Mangkoso, meskipun ia sangat mencintai istri dan anaknya (yang kemudian diberi nama Harisah). Pilihannya tetap belajar untuk kepentingan agama dan masyarakat di masa akan datang. Lagi pula, Indare', sepupuh satu kali yang disuntingnya adalah ibu yang baik dan amanah. Dari Mangkoso, sebagai rasa cinta dan tanggung jawab Abduh Shafa terhadap istri dan anaknya, ia mengirim pesan tertulis kepada istrinya, Indare' dengan logat Bugis yang kental :"tapiara madecengngi Anatta, Harisah" (Tolong dipelihara, dirawat dengan baik anak kita, Harisah), Hal. 35-39. Harisah kemudian tumbuh menjadi anak yang baik, remaja yang cerdas, dan menjelma menjadi sosok panutan sebagai Ulama, Kyai yang berilmu yang berakhlak
(الله يرحمه ويففرله).
Anak kedua KH. Abduh Shafa adalah Dr. KH. Baharuddin disusul Prof. Dr. H. Najamuddin HS, M.A, Almarhum Dr. H. Saifuddin, M.A
(الله يرحمه ويففرله).
Ketiganya mengikuti bakat ayahnya sebagai ulama.
Secara pribadi saya merasa dekat dengan mereka. KH. Harisah HS dan Prof. Dr. H. Najamuddin HS. Keduanya adalah guru/dosen saya saat kuliah di Fakultas Adab Jurusan BSA, IAIN Alauddin. Bahkan saya sangat dekat dengan pribadi KH. Harisah. Beberapa kali saya baca khutbah di mesjid KH. Harisah, Mesjid Al-Ihsan (?)Tinumbu, Makassar, beliau selalu mengingatkan saya agar segera mencari pasangan hidup. Memang waktu itu, saya masih sendiri. Pak Kyai Baharuddin adalah teman kuliah S2 di Pascasarjana IAIN (UIN) Alauddin 1993. Mahasiswa Pasca Angkatan 1993 sering ke rumah pak Kyai Baharuddin untuk mendiskusikan berbagai materi kuliah waktu itu. Sedang Dr. H. Saifuddin adik kelas di Pascasarjana IAIN (UIN) Alauddin Makassar.
Alangkah bahagianya KH. Abduh Shafa sebagai orangtua mereka. Orangtua yang berhasil melahirkan para ulama pewaris para nabi. Menurut AG. Dr. KH. Muh. Sanusi Baco, Lc bahwa ulama itu sosok mulia. Para ulama itu tidak mewarisi dan mewariskan harta, tetapi mereka mewarisi dan mewariskan ilmu, keteladanan, dan karya.
AG. Dr. KH. Muh. Sanusi Baco, Lc mengharapkan agar Dr. KH. Baharuddin HS selalu sehat wal afiat dan istiqamah dalam mewaqafkan sebahagian hidupnya untuk agama, mencerahkan, mengedukasi masyarakat. Saat ini negara dan masyarakat membutuhkan panduan para ulama. Berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat seperti mengguritanya korupsi, bahaya narkoba, LGBT semakin membutuhkan bimbingan ulama untuk menentukan dan memastikan langkah masyarakat di jalan yang benar (hal. xiii-xv).
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita bisa berkata bahwa orang baik akan melahirkan keturunan yang baik.
Semoga bermanfaat.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Rabu, 12 Juni 2019
Comments
Post a Comment