Bersama al-Qur'an (124)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Merekatkan hati kepada-Nya di Pantai Dato Majene, Sulawesi Barat
Rabu, 01 Syawal 1440 H/05 Juni 2019 M adalah hari bahagia bagi Kaum Muslimin. Hari dimana ummat Islam memproklamasikan kemenangan setelah berhasil memenangkan sebuah pertarungan besar, pertarungan melawan hawa nafsu. Disebut pertarungan besar karena tidak ada pertarungan yang bisa diemenangkan tanpa mengalahkan hawa nafsu, mengendalikan diri terlebih dahulu. Sebuah hadis Nabi :
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهِدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ
Artinya :
Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya).
Di Indonesia, sudah menjadi kebiasaan, setelah berhasil melawan hawa nafsu sebulan penuh di bulan ramadhan yang ditandai dengan salat Idulfitri (عيد الفطر), ummat Islam melakukan silaturrahim antar keluarga, sahabat, tetangga, dan lainnya. Di antaranya, ada juga ziarah ke kubur orangtua, saudara, keluarga, dan kerabat. Tujuannya adalah memboboti keberhasilan menjalankan ibadah puasa. Puasa dengan menahan makan dan minum dan semua yang bisa membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, mendirikan salat, membaca al-Qur'an adalah ibadah vertikal, dari makhluk kepada Sang Khaliq. Sedangkan silaturrahim kepada sesama manusia adalah ibadah horisontal dari manusia ke sesama.
Al-Qur'an Surah al-Imran ayat 112 menjelaskan bahwa orang yang dapat menjaga hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia termasuk orang mulia, beruntung, terlepas dari kehinaan.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
Artinya :
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian, silaturrahim) dengan manusia.
Usai salat Idulfitri dan baca khuthbah dilanjutkan dengan silaturrahim antar keluarga, makan bersama menikmati kuliner khas lebaran ; ketupat, burasa, masakan ayam kuah, ikan bakar - sekitar jam 10 pagi, saya tinggalkan Makassar menuju kampung halaman, Tinambung, Polman, Sulawesi Barat. Dari Tinambung, perjalanan dilanjutkan ke Majene. Di Tinambung dan Majene, melakukan ziarah kubur kedua orangtua, saudara, keluarga, Annangguru (ألله يرحمهم ويغفرلهم).
Meski hanya sehari semalam berada di Tinambung tetapi cukup lama memori menerawang ke mana-mana bahkan jauh ke belakang. Di Tinambunglah ijazah SRN dan PGAN diperoleh. Teringat puluhan tahun silam saat masih usia SD. Teringat teman-teman SRN No 4 yang sering traktir makan nasi ikan kuah, goreng, minum cendol, makan putu manyang, dan makanan khas Mandar lainnya. Teringat teman-teman di PGAN 4 Th Tinambung, sering bareng makan taraqjoq (gorengan singkong halus dibalut terigu dan gula merah) di belakang sekolah. Sungguh kenangan yang menyenangkan. Teringat saat mengumandangkan seruan sahur bersama teman-teman dari menara mesjid raya al-Hurriyyah Tinambung. Saat itu masih menggunakan alat pembesar suara terbuat dari seng berbentuk bundar piramid. Teringat ceramah subuh rutin (kajian tafsir juz Amma) oleh KH. Djalaluddin di mesjid yang sama.
Di Majene ada KH. Muhammad Saleh yang rutin mengadakan pengajian (tasauf) sekali seminggu di rumahnya. Para jamaah dari Tinambung sekitar 8 km dari Majene, menghadiri pengajian dengan kendaraan bendi (dokar), sebahagian naik sepeda. Annangguru Kyai Muhammad Saleh juga melakukan safari dakwah (ceramah keliling) dengan mengunjungi jamaah di berbagai desa. Ada Tandung, Paraq, Paqgiling, Karama, Kandeapi, Limboro, Palece, dll. Safari dakwah dari pak Kyai, selain menyebarkan ilmu secara luas, juga menambah banyak jamaah yang tertarik kajian tasauf. Setelah pak Kyai meninggal, dilanjutkan Annangguru KH (Prof.Dr) Sahabuddin.
Dalam perspektif lain, Majene saat ini selain sebagai kota pendidikan, ia juga sebagai kota wisata Islami. Dusun Pangale, Baurung, Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terletak hanya 1 km dari Banggae, jantung Kabupaten Majene menyimpan sebuah pemandangan alam yang indah megah yaitu Pantai Dato dengan pasir putihnya membentang di bawah tebing dengan formasi batuan tertata indah. Sebuah tempat yang dapat menenangkan hati pengunjungnya, hati yang selalu bertadabbur, mengagungkan asma Allah, hati yang dekat dengan-Nya, Yang Maha Pencipta Keindahan. Keindahan dan kemegahan Pantai Dato Majene oleh pengunjungnya dikenal sebagai Surga Tersembunyi di Sulawesi Barat.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita bisa berkata bahwa mendekatkan diri kepada Allah, selain melalui puasa, salat, silaturrahim, juga dapat dilakukan di mana saja termasuk di pantai. Pantai Dato Majene yang menawarkan panorama alam yang indah, ketenangan, dan kedamaian adalah representasi Allah di muka bumi. Bahkan, sebagai pengunjung, saat berada di lokasi yang dianalogikan sebagai surga yang tersembunyi itu, bersamaan itu pula kita melihat kehadiran Allah, keberadaan Kemahakuasaan-Nya, Maha Pencipta Alam semesta.
Semoga bermanfaat.
آمين يارب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Senin, 10 Juni 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Merekatkan hati kepada-Nya di Pantai Dato Majene, Sulawesi Barat
Rabu, 01 Syawal 1440 H/05 Juni 2019 M adalah hari bahagia bagi Kaum Muslimin. Hari dimana ummat Islam memproklamasikan kemenangan setelah berhasil memenangkan sebuah pertarungan besar, pertarungan melawan hawa nafsu. Disebut pertarungan besar karena tidak ada pertarungan yang bisa diemenangkan tanpa mengalahkan hawa nafsu, mengendalikan diri terlebih dahulu. Sebuah hadis Nabi :
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهِدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ
Artinya :
Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya).
Di Indonesia, sudah menjadi kebiasaan, setelah berhasil melawan hawa nafsu sebulan penuh di bulan ramadhan yang ditandai dengan salat Idulfitri (عيد الفطر), ummat Islam melakukan silaturrahim antar keluarga, sahabat, tetangga, dan lainnya. Di antaranya, ada juga ziarah ke kubur orangtua, saudara, keluarga, dan kerabat. Tujuannya adalah memboboti keberhasilan menjalankan ibadah puasa. Puasa dengan menahan makan dan minum dan semua yang bisa membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, mendirikan salat, membaca al-Qur'an adalah ibadah vertikal, dari makhluk kepada Sang Khaliq. Sedangkan silaturrahim kepada sesama manusia adalah ibadah horisontal dari manusia ke sesama.
Al-Qur'an Surah al-Imran ayat 112 menjelaskan bahwa orang yang dapat menjaga hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia termasuk orang mulia, beruntung, terlepas dari kehinaan.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
Artinya :
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian, silaturrahim) dengan manusia.
Usai salat Idulfitri dan baca khuthbah dilanjutkan dengan silaturrahim antar keluarga, makan bersama menikmati kuliner khas lebaran ; ketupat, burasa, masakan ayam kuah, ikan bakar - sekitar jam 10 pagi, saya tinggalkan Makassar menuju kampung halaman, Tinambung, Polman, Sulawesi Barat. Dari Tinambung, perjalanan dilanjutkan ke Majene. Di Tinambung dan Majene, melakukan ziarah kubur kedua orangtua, saudara, keluarga, Annangguru (ألله يرحمهم ويغفرلهم).
Meski hanya sehari semalam berada di Tinambung tetapi cukup lama memori menerawang ke mana-mana bahkan jauh ke belakang. Di Tinambunglah ijazah SRN dan PGAN diperoleh. Teringat puluhan tahun silam saat masih usia SD. Teringat teman-teman SRN No 4 yang sering traktir makan nasi ikan kuah, goreng, minum cendol, makan putu manyang, dan makanan khas Mandar lainnya. Teringat teman-teman di PGAN 4 Th Tinambung, sering bareng makan taraqjoq (gorengan singkong halus dibalut terigu dan gula merah) di belakang sekolah. Sungguh kenangan yang menyenangkan. Teringat saat mengumandangkan seruan sahur bersama teman-teman dari menara mesjid raya al-Hurriyyah Tinambung. Saat itu masih menggunakan alat pembesar suara terbuat dari seng berbentuk bundar piramid. Teringat ceramah subuh rutin (kajian tafsir juz Amma) oleh KH. Djalaluddin di mesjid yang sama.
Di Majene ada KH. Muhammad Saleh yang rutin mengadakan pengajian (tasauf) sekali seminggu di rumahnya. Para jamaah dari Tinambung sekitar 8 km dari Majene, menghadiri pengajian dengan kendaraan bendi (dokar), sebahagian naik sepeda. Annangguru Kyai Muhammad Saleh juga melakukan safari dakwah (ceramah keliling) dengan mengunjungi jamaah di berbagai desa. Ada Tandung, Paraq, Paqgiling, Karama, Kandeapi, Limboro, Palece, dll. Safari dakwah dari pak Kyai, selain menyebarkan ilmu secara luas, juga menambah banyak jamaah yang tertarik kajian tasauf. Setelah pak Kyai meninggal, dilanjutkan Annangguru KH (Prof.Dr) Sahabuddin.
Dalam perspektif lain, Majene saat ini selain sebagai kota pendidikan, ia juga sebagai kota wisata Islami. Dusun Pangale, Baurung, Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, terletak hanya 1 km dari Banggae, jantung Kabupaten Majene menyimpan sebuah pemandangan alam yang indah megah yaitu Pantai Dato dengan pasir putihnya membentang di bawah tebing dengan formasi batuan tertata indah. Sebuah tempat yang dapat menenangkan hati pengunjungnya, hati yang selalu bertadabbur, mengagungkan asma Allah, hati yang dekat dengan-Nya, Yang Maha Pencipta Keindahan. Keindahan dan kemegahan Pantai Dato Majene oleh pengunjungnya dikenal sebagai Surga Tersembunyi di Sulawesi Barat.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita bisa berkata bahwa mendekatkan diri kepada Allah, selain melalui puasa, salat, silaturrahim, juga dapat dilakukan di mana saja termasuk di pantai. Pantai Dato Majene yang menawarkan panorama alam yang indah, ketenangan, dan kedamaian adalah representasi Allah di muka bumi. Bahkan, sebagai pengunjung, saat berada di lokasi yang dianalogikan sebagai surga yang tersembunyi itu, bersamaan itu pula kita melihat kehadiran Allah, keberadaan Kemahakuasaan-Nya, Maha Pencipta Alam semesta.
Semoga bermanfaat.
آمين يارب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Senin, 10 Juni 2019
Comments
Post a Comment