Bersama al-Qur'an (111)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Kesembilanbelas Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Meningkatkan Pengawasan terhadap Hawa nafsu
Untuk meraih suatu kesuksesan, seseorang akan berusaha menjauhi apa saja yang bisa menghalangi untuk mencapainya. Puasa ramadhan yang sedang dilaksanakan ummat Islam saat ini bertujuan menjadi orang yang bersih dari segala dosa, menjadi manusia bermartabat, menjadi orang mulia, yaitu meraih derajat muttaqin. Muttaqin adalah derajat yang sungguh mulia. Beberapa penjelasan ayat al-Quran:
1. Orang bertakwa diberi jalan keluar dari segala urusannya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."
(Qs. at-Talaq: 2)
2. Diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
"Dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."
(Qs. at-Talaq: 3)
3. Diberi kemudahan dalam segala urusannya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."
(Qs. at-Talaq: 4)
4. Kesalahannya dihapus dan dilipat gandakan pahalanya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya."
(Qs. at-Talaq: 5)
Dalam ayat lain menjelaskan bahwa surga disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Allah berfirman :
۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa". (Qs. al-Imran : 133)
Salah satu penghalang meraih derajat takwa adalah hawa nafsu. Nafsu yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah nafsu ammarah bissui, nafsu yang mengajak, mengantar seseorang berbuat dosa. Orang yang dikuasai, dikendalikan nafsu ammarah bissui tidak dapat melaksanakan kewajiban puasa dengan optimal, tidak mampu mendirikan salat tarawih, salat malam dengan baik. Bahkan boleh jadi melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Karena nafsu ammarah bissui akan selalu mendorongnya untuk melakukan dosa dan hal-hal yang tidak terpuji. Oleh karena itu, orang mukmin yang sedang berpuasa tidak akan memberikan kesempatan nafsu ammarah bissui sebagai pengendali karena dapat merusak rencana, dapat menggagalkan usaha mencapai takwa. Bukannya menjadi muttaqin malah selama berpuasa hanya lapar dan haus yang diperoleh.
Untuk menangkal nafsu ammarah bissui, pengawasan terhadap nafsu ini dijaga ketat. Setiap mukmin yang sedang berpuasa sejatinya bergandengan tangan dengan nafsu muthmainnah. Nafsu muthmainnalah yang dijadikan sebagai kompasnya, sebagai pengemudinya. Ke manapun ia pergi dan di mana saja ia berada, harus selalu bersama nafsu muthmainnah. Nafsu muthmainnah yang dimaksudkan di sini adalah nafsu yang baik yang selalu mengajak berbuat baik, nafsu yang selalu berada dalam ketaatan kepada Allah, nafsu yang selalu mulia, nafsu yang tenang. Seorang mukmin yang dikendalikan oleh nafsu muthmainnah, maka hatinya, pendengarannya, penglihatannya selalu dalam penjagaan Allah swt. Dan nafsu muthmainnah selalu berdzikir mengingat Allah dan beristighfar tiada henti.
Dari beberapa penjelasan yang dikemukakan, sebagai orang mukmin yang mendambakan derajat takwa, tentusaja kita tidak berbeda pendapat bahwa untuk meraih posisi yang sangat terhormat itu, kita akan berusaha menghalangi nafsu ammarah bissui dengan jalan tidak memberinya kesempatan sedikitpun. Kita tutup jalannya dengan melakukan kebaikan tidak terputus, kebaikan dalam berbagai bentuknya, sekecil apapun karena boleh jadi ia sangat bernilai di sisi Allah. Nafsu muthmainnah sebagai pengemudi yang selalu mengantar dalam kehidupan ini. Dengan demikian ramadhan sungguh-sungguh akan membakar dosa-dosa, membersihkan sifat tidak terpuji kita, menemani meraih kemuliaan malam qadr, dan di akhir ramadhan kita resmi menyandang muttaqin. Semoga,
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Jumat, 19 Ramadhan 1440 H/ 24 Mei 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Kesembilanbelas Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Meningkatkan Pengawasan terhadap Hawa nafsu
Untuk meraih suatu kesuksesan, seseorang akan berusaha menjauhi apa saja yang bisa menghalangi untuk mencapainya. Puasa ramadhan yang sedang dilaksanakan ummat Islam saat ini bertujuan menjadi orang yang bersih dari segala dosa, menjadi manusia bermartabat, menjadi orang mulia, yaitu meraih derajat muttaqin. Muttaqin adalah derajat yang sungguh mulia. Beberapa penjelasan ayat al-Quran:
1. Orang bertakwa diberi jalan keluar dari segala urusannya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar."
(Qs. at-Talaq: 2)
2. Diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ
"Dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."
(Qs. at-Talaq: 3)
3. Diberi kemudahan dalam segala urusannya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."
(Qs. at-Talaq: 4)
4. Kesalahannya dihapus dan dilipat gandakan pahalanya.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
"Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya."
(Qs. at-Talaq: 5)
Dalam ayat lain menjelaskan bahwa surga disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Allah berfirman :
۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa". (Qs. al-Imran : 133)
Salah satu penghalang meraih derajat takwa adalah hawa nafsu. Nafsu yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah nafsu ammarah bissui, nafsu yang mengajak, mengantar seseorang berbuat dosa. Orang yang dikuasai, dikendalikan nafsu ammarah bissui tidak dapat melaksanakan kewajiban puasa dengan optimal, tidak mampu mendirikan salat tarawih, salat malam dengan baik. Bahkan boleh jadi melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Karena nafsu ammarah bissui akan selalu mendorongnya untuk melakukan dosa dan hal-hal yang tidak terpuji. Oleh karena itu, orang mukmin yang sedang berpuasa tidak akan memberikan kesempatan nafsu ammarah bissui sebagai pengendali karena dapat merusak rencana, dapat menggagalkan usaha mencapai takwa. Bukannya menjadi muttaqin malah selama berpuasa hanya lapar dan haus yang diperoleh.
Untuk menangkal nafsu ammarah bissui, pengawasan terhadap nafsu ini dijaga ketat. Setiap mukmin yang sedang berpuasa sejatinya bergandengan tangan dengan nafsu muthmainnah. Nafsu muthmainnalah yang dijadikan sebagai kompasnya, sebagai pengemudinya. Ke manapun ia pergi dan di mana saja ia berada, harus selalu bersama nafsu muthmainnah. Nafsu muthmainnah yang dimaksudkan di sini adalah nafsu yang baik yang selalu mengajak berbuat baik, nafsu yang selalu berada dalam ketaatan kepada Allah, nafsu yang selalu mulia, nafsu yang tenang. Seorang mukmin yang dikendalikan oleh nafsu muthmainnah, maka hatinya, pendengarannya, penglihatannya selalu dalam penjagaan Allah swt. Dan nafsu muthmainnah selalu berdzikir mengingat Allah dan beristighfar tiada henti.
Dari beberapa penjelasan yang dikemukakan, sebagai orang mukmin yang mendambakan derajat takwa, tentusaja kita tidak berbeda pendapat bahwa untuk meraih posisi yang sangat terhormat itu, kita akan berusaha menghalangi nafsu ammarah bissui dengan jalan tidak memberinya kesempatan sedikitpun. Kita tutup jalannya dengan melakukan kebaikan tidak terputus, kebaikan dalam berbagai bentuknya, sekecil apapun karena boleh jadi ia sangat bernilai di sisi Allah. Nafsu muthmainnah sebagai pengemudi yang selalu mengantar dalam kehidupan ini. Dengan demikian ramadhan sungguh-sungguh akan membakar dosa-dosa, membersihkan sifat tidak terpuji kita, menemani meraih kemuliaan malam qadr, dan di akhir ramadhan kita resmi menyandang muttaqin. Semoga,
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Jumat, 19 Ramadhan 1440 H/ 24 Mei 2019
Comments
Post a Comment