Bersama al-Qur'an (110)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Kedelapanbelas Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Kedekatan Mahasiswa dengan Dosen
Beberapa hari lalu, setelah perkuliahan selesai, mahasiswa pascasarjana IAIN Ternate memberitahu akan mengundang para dosen berbuka puasa bersama. "Tempat dan waktu, infonya akan menyusul" kata mahasiswa. Sekitar jam 17.30, Rabu, 22 Mei 2019 (17 ramadhan) usai mengikuti Rapat MUI Kota di Dhuafa Center, saya menerima telepon. "Insya Allah sekitar jam 18.00, ustadz akan dijemput untuk batal bersama di Mangga Dua Ternate", kata penelepon. Sekitar jam 18.00, mobil warna merah sudah terparkir di depan pagar rumah. Saya segera bergabung dengan beberapa kawan dosen dan dua orang mahasiswa yang sudah berada di mobil. Menjelang berbuka, setelah sepuluh menit tiba di tempat tujuan, saat hidangan dengan menu yang bervariasi sudah siap dinikmati, memori saya berputar begitu cepat mengenang beberapa pengalaman masa lalu ketika masih kuliah di Jakarta dan saat melakukan penelitian disertasi di Mesir. Di Mesir, waktu itu, 2007, bimbingan dari dosen Prof. Dr. Abdul Hay al-Farmawi sudah selesai. Beliau mengundang para mahasiswa (saya bersama beberapa kawan dari Indonesia) makan bersama. Segala sesuatu berkaitan dengan makanan, minuman ditanggung sang guru, pak Prof. Mahasiswa hanya menentukan tempatnya yang waktu itu menggunakan salah satu asrama mahasiswa Indonesia asal Jawa. Sebuah pengalaman menarik yang tidak terlupakan. Acara makan nasi kambing guling dalam satu wadah bersama dosen itu dilaksanakan untuk tetap mengikat silaturrahim antara dosen dan mahasiswa. Kuliah bisa selesai tetapi silaturrahim tetap jalan. Di sela kegiatan, dosen dan mahasiswa saling menukar pengalaman. Tradisi dosen Mesir ini ternyata diterapkan juga dosen-dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bahkan bervariasi. Dr. Ahzami Samiun (pengisi ceramah di salah satu stasiun nasional, Tafsir Kehidupan), setelah menyelesaikan kuliahnya (tafsir tahlili), kami mahasiswanya diajak ke puncak Bogor. Di sana ada acara makan minum ditambah dengan olahraga sepak bola. Dosen lainnya, menutup kuliah (kuliah terakhir dari beliau) di restoran. Waktu itu, restoran Gintung yang dipilih. Semua makanan dan minuman ditanggung dosen. Ternyata, apa yang saya rasakan di Mesir dan Jakarta, kembali berulang di Ternate meski punya perbedaan. Bedanya, pertama, kalau dulu saya masih berstatus mahasiswa. Kedua, acara silaturrahim ini mahasiswa yang menanggung semua. Bahkan dosen-dosen dijemput di rumah tinggal masing-masing.
Dalam perspektif Islam, hubungan antara guru dan murid (dosen dan mahasiswa) telah dipraktekkan oleh nabi saw. Nabi saw ketika menerima wahyu berupa ayat-ayat al-Qur'an tidak untuk dirinya seorang. Ayat-ayat al-Qur'an itu dipahami, diamalkan, dan diajarkan (dijelaskan) kepada para sahabatnya. Bahkan para sahabat sering bertanya kepada nabi tentang berbagai hal berkaitan al-Qur'an. Proses komunikasi antara nabi dengan sahabat tersebut adalah komunikasi antara guru dan murid. Nabi mengajar, menjelaskan sedang sahabat mendengar dan bertanya. Berkaitan hadis, nabi sebagai sumber informasi (matn) menjelaskan berbagai hal. Sahabat yang pertama mendengar berita itu diterima oleh sahabat lain sambung menyambung kepada yang lainnya (sanad) sampai dikumpulkan, disatukan, dibukukan. Proses ini juga terdapat proses belajar mengajar, ada yang menjelaskan dan ada yang menerima penjelasan.
Bagaimana nabi saw berhubungan dengan sahabatnya?. Sebagai manusia pilihan Allah, beliau secara pribadi berakhlak mulia. Terhadap para sahabatnya, nabi memperlakukan dengan cara yang sama. Sehingga para sahabat masing-masing merasa sangat dekat kepada nabi. Nabi rendah hati tidak merasa lebih tinggi dari yang lainnya, beliau duduk bersama sahabat pada tempat duduk yang sama. Kepada sahabatnya, nabi berbagi kegembiraan, kesedihan, berbagi makanan, dan minuman. Nabi juga tidak merasa super di hadapan sahabatnya, ia selalu bermusyawarah dalam berbagai hal. Kemulian akhlak nabi disebutkan dalam al-Qur'an Surah al-Qalam ayat 4 :
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Ketika Aisyah ra ditanya tentang bagaimana akhlak nabi saw, beliau menjawab :
كان خلقه القرآن
Akhlak nabi adalah al-Qur'an.
Dalam al-Qur'an Allah menggambarkan sifat nabi saw yang lembut, suka memaafkan, dan suka berdoa untuk keselamatan, kebaikan sahabat dan ummatnya. Al-Qur'an surah Al-Imran ayat 159 :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita dapat berkata bahwa nabi bergaul dengan sahabatnya penuh keakraban. Keakraban antara guru dan murid, antara dosen dan mahasiswa. Keakraban berdasarkan al-Qur'an yang penuh etika. Meskipun nabi sangat dekat kepada sahabatnya tetapi justru para sahabatnya semakin mencintai, menghormati nabi. Abubakar ashshiddiq rela mengorbankan hartanya yang begitu banyak diserahkan kepada nabi untuk perjuangan nabi saw.
Kebaikan, keteladanan nabi dalam pergaulan membuktikan bahwa nabi adalah manusia paripurna, Insan Kamil.
Semoga bermanfaat.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Kamis, 18 Ramadhan 1440 H/ 23 Mei 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Kedelapanbelas Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Kedekatan Mahasiswa dengan Dosen
Beberapa hari lalu, setelah perkuliahan selesai, mahasiswa pascasarjana IAIN Ternate memberitahu akan mengundang para dosen berbuka puasa bersama. "Tempat dan waktu, infonya akan menyusul" kata mahasiswa. Sekitar jam 17.30, Rabu, 22 Mei 2019 (17 ramadhan) usai mengikuti Rapat MUI Kota di Dhuafa Center, saya menerima telepon. "Insya Allah sekitar jam 18.00, ustadz akan dijemput untuk batal bersama di Mangga Dua Ternate", kata penelepon. Sekitar jam 18.00, mobil warna merah sudah terparkir di depan pagar rumah. Saya segera bergabung dengan beberapa kawan dosen dan dua orang mahasiswa yang sudah berada di mobil. Menjelang berbuka, setelah sepuluh menit tiba di tempat tujuan, saat hidangan dengan menu yang bervariasi sudah siap dinikmati, memori saya berputar begitu cepat mengenang beberapa pengalaman masa lalu ketika masih kuliah di Jakarta dan saat melakukan penelitian disertasi di Mesir. Di Mesir, waktu itu, 2007, bimbingan dari dosen Prof. Dr. Abdul Hay al-Farmawi sudah selesai. Beliau mengundang para mahasiswa (saya bersama beberapa kawan dari Indonesia) makan bersama. Segala sesuatu berkaitan dengan makanan, minuman ditanggung sang guru, pak Prof. Mahasiswa hanya menentukan tempatnya yang waktu itu menggunakan salah satu asrama mahasiswa Indonesia asal Jawa. Sebuah pengalaman menarik yang tidak terlupakan. Acara makan nasi kambing guling dalam satu wadah bersama dosen itu dilaksanakan untuk tetap mengikat silaturrahim antara dosen dan mahasiswa. Kuliah bisa selesai tetapi silaturrahim tetap jalan. Di sela kegiatan, dosen dan mahasiswa saling menukar pengalaman. Tradisi dosen Mesir ini ternyata diterapkan juga dosen-dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bahkan bervariasi. Dr. Ahzami Samiun (pengisi ceramah di salah satu stasiun nasional, Tafsir Kehidupan), setelah menyelesaikan kuliahnya (tafsir tahlili), kami mahasiswanya diajak ke puncak Bogor. Di sana ada acara makan minum ditambah dengan olahraga sepak bola. Dosen lainnya, menutup kuliah (kuliah terakhir dari beliau) di restoran. Waktu itu, restoran Gintung yang dipilih. Semua makanan dan minuman ditanggung dosen. Ternyata, apa yang saya rasakan di Mesir dan Jakarta, kembali berulang di Ternate meski punya perbedaan. Bedanya, pertama, kalau dulu saya masih berstatus mahasiswa. Kedua, acara silaturrahim ini mahasiswa yang menanggung semua. Bahkan dosen-dosen dijemput di rumah tinggal masing-masing.
Dalam perspektif Islam, hubungan antara guru dan murid (dosen dan mahasiswa) telah dipraktekkan oleh nabi saw. Nabi saw ketika menerima wahyu berupa ayat-ayat al-Qur'an tidak untuk dirinya seorang. Ayat-ayat al-Qur'an itu dipahami, diamalkan, dan diajarkan (dijelaskan) kepada para sahabatnya. Bahkan para sahabat sering bertanya kepada nabi tentang berbagai hal berkaitan al-Qur'an. Proses komunikasi antara nabi dengan sahabat tersebut adalah komunikasi antara guru dan murid. Nabi mengajar, menjelaskan sedang sahabat mendengar dan bertanya. Berkaitan hadis, nabi sebagai sumber informasi (matn) menjelaskan berbagai hal. Sahabat yang pertama mendengar berita itu diterima oleh sahabat lain sambung menyambung kepada yang lainnya (sanad) sampai dikumpulkan, disatukan, dibukukan. Proses ini juga terdapat proses belajar mengajar, ada yang menjelaskan dan ada yang menerima penjelasan.
Bagaimana nabi saw berhubungan dengan sahabatnya?. Sebagai manusia pilihan Allah, beliau secara pribadi berakhlak mulia. Terhadap para sahabatnya, nabi memperlakukan dengan cara yang sama. Sehingga para sahabat masing-masing merasa sangat dekat kepada nabi. Nabi rendah hati tidak merasa lebih tinggi dari yang lainnya, beliau duduk bersama sahabat pada tempat duduk yang sama. Kepada sahabatnya, nabi berbagi kegembiraan, kesedihan, berbagi makanan, dan minuman. Nabi juga tidak merasa super di hadapan sahabatnya, ia selalu bermusyawarah dalam berbagai hal. Kemulian akhlak nabi disebutkan dalam al-Qur'an Surah al-Qalam ayat 4 :
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Ketika Aisyah ra ditanya tentang bagaimana akhlak nabi saw, beliau menjawab :
كان خلقه القرآن
Akhlak nabi adalah al-Qur'an.
Dalam al-Qur'an Allah menggambarkan sifat nabi saw yang lembut, suka memaafkan, dan suka berdoa untuk keselamatan, kebaikan sahabat dan ummatnya. Al-Qur'an surah Al-Imran ayat 159 :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Dari apa yang dikemukakan mungkin kita dapat berkata bahwa nabi bergaul dengan sahabatnya penuh keakraban. Keakraban antara guru dan murid, antara dosen dan mahasiswa. Keakraban berdasarkan al-Qur'an yang penuh etika. Meskipun nabi sangat dekat kepada sahabatnya tetapi justru para sahabatnya semakin mencintai, menghormati nabi. Abubakar ashshiddiq rela mengorbankan hartanya yang begitu banyak diserahkan kepada nabi untuk perjuangan nabi saw.
Kebaikan, keteladanan nabi dalam pergaulan membuktikan bahwa nabi adalah manusia paripurna, Insan Kamil.
Semoga bermanfaat.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Kamis, 18 Ramadhan 1440 H/ 23 Mei 2019
Comments
Post a Comment