Bersama al-Qur'an (109)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Ketujuhbelas Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Nuzul al-Qur'an
Senin, 20 Mei 2019 menjelang sore, saya dihubungi pembina Ma'had al-Jami'ah dan meminta kesediaan saya membawakan ceramah pada Peringatan Nuzul al-Qur'an. Tanpa komentar, saya langsung mengiyakan. Peringatan Nuzul al-Qur'an itu diselenggarakan oleh IAIN Ternate, Selasa, tanggal 21 Mei 2019 bertempat di Laboratorium Spritual/mesjid kampus Babussalam IAIN Ternate. Acara dihadiri oleh Rektor, Karo, wakil rektor, pejabat lainnya di lingkungan IAIN, para dosen, para mahasiswa, dan warga masyarakat di sekitar kampus. Rektor dalam sambutannya mengharapkan ibadah puasa yang dijalani berbuah positif, mendorong menjadi pribadi-pribadi yang kokoh menjaga ukhuwah, persatuan, dan bersama-sama memelihara negeri tercinta selalu dalam keadaan kondusif. Aamiin.
Usai sambutan Rektor, MC mempersilahkan penceramah menyampaikan materinya (ada tambahan penjelasan dalam tulisan ini). Setelah hamdalah, penceramah menjelaskan bahwa nuzul al-Qur'an dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, al-Qur'an sebagai wahyu Allah swt diturunkan sekaligus dari
اللوح المحفوظ إليّ بيت العزة
pada malam qadr. Kedua, al-Qur'an diturunkan dari bait al-'Izzah kepada nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril as secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.
Al-Qur'an turun di malam qadr berarti di atas dua puluh ramadhan. Menurut jumhur ulama, turunnya lailatul qadri itu 10 hari di akhir ramadhan di malam ganjil yaitu antara 21, 23, 25, 27, 29. Lalu kenapa nuzul al-qur'an diperingati setiap tanggal 17 ramadhan. Sebahagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan tanggal turunnya al-Qur'an adalah pada fase kedua, yaitu al-Qur'an diturunkan kepada nabi Muhammad saw di bulan ramadhan saat nabi berada di Gua Hira.
Ayat yang pertama turun adalah lima ayat dari Surah al-Alaq. Ayat yang dimulai perintah membaca dengan nama Allah (iqra' bi ismi rabbik). Membaca identik dengan aktifitas, gerak. Menggerakkan daya pikir untuk membaca, mengkaji, meneliti baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Setiap aktifitas yang dilakukan tidak lepas dari nama Allah. Artinya, seorang muslim dalam perspektif al-Qur'an saat melakukan pekerjaan penelitian, kajian, atau aktifitas apapun itu yang melibatkan tenaga dan pikiran selalu berjalan lurus dengan kehendak Allah, tidak keluar dari rel agama, petunjuk al-Qur'an. Jadi, bagi kaum muslim, al-Qur'an bukan sekadar inspirator tetapi menjadi daya dorong yang sangat kuat dalam mengawal setiap langkah, gerak, aktifitas. Itulah sebabnya, seorang muslim selalu merasa nyaman, tidak punya beban, tidak terpengaruh oleh hal yang tidak bermanfaat karena ia sudah disetir oleh kendaraan agama. Dalam salah satu ayat al-Qur'an pada Surah al-Hadid ayat 28 :
وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ
Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan.
Menurut sebahagian ulama, kata nuuran yang ada dalam ayat tidak berarti cahaya dalam arti biasa seperti cahaya lampu, cahaya matahari, tetapi ia berarti hidayah, petunjuk agama yang menjauhkan dari jalan bengkok, buta terhadap kebenaran, gagal paham terhadap nilai-nilai agama. Artinya, ke manapun orang beriman, orang bertaqwa itu pergi selalu dituntun petunjuk agama. Kalau dianalogikan dengan kendaraan maka petunjuk agama itu adalah driver, sopirnya.
Al-Qur'an yang diterima Nabi Muhammad saw di Makkah, Madinah dan sekitarnya secara kronologis, terhitung mulai surah pertama turun sampai surah yang terakhir turun, ditulis dalam satu mushaf, dalam ilmu al-Qur'an disebut susunan al-Qur'an berdasarkan turunnya (ترتيب النزول). Kajian dalam perspektif ini dapat mengungkap banyak hal dari al-Qur'an di antaranya tema- tema dakwah nabi selama menyebarkan dakwahnya. Ada perbedaan bahasa komunikasi yang digunakan nabi ketika berada di Makkah dengan ketika nabi berada di Madinah. Perspektif yang kedua, mushaf al-Qur'an yang berada di tangan kaum muslim saat ini, al-Qur'an berdasarkan susunan mushaf (ترتيب المصحف) yaitu susunan al-Qur'an yang dimulai Surah al-Fatihah dan diakhiri Surah an-Naas. Kajian dalam perspektif ini membuktikan bahwa antara ayat-ayat dan surah-surah al-Qur'an saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, ada kesatuan. Para pengkaji al-Qur'an terus menerus melakukan penelitian dalam dua perspektif tersebut. Selain itu, upaya penafsiran ayat-ayatnya juga semakin berkembang yang melahirkan para mufassir dalam berbagai latar belakang keilmuan.
Mengakhiri ceramah, pertanyaannya adalah bagaimana berinteraksi dengan al-Qur'an. Bagaimana agar al-Qur'an benar-benar berfungsi bagi pribadi-pribadi muslim, maka al-Qur'an tidak hanya dibaca, tetapi dihafal, dipelajari apa arti dan maksud ayat yang dibaca, lalu diamalkan, dan diajarkan, didakwakan. Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang membaca, menghafal al-Qur'an cenderung terjaga kesehatan jasmani dan ruhani. Hatinya tenang, bersih. Hati yang tenang mendorong lahirnya pikiran bersih, tutur kata yang baik. Jika hati, lisan, dan anggota badan bekerjasama dalam berbagai aktifitas tentu akan menghasilkan kadar kesehatan yang baik. Orang yang membaca al-Qur'an, memahami apa yang dibaca, maka ia akan menjadi manusia baru, manusia yang tercerahkan, manusia yang selalu ikhlas, manusia yang kuat, manusia yang tahan banting menghadapi berbagai masalah baik senang maupun yang susah karena selalu bersandar kepada sumber al-Qur'an, Allah swt. Apa alasannya. Ketika kita membaca suatu buku, penulis buku yang kita baca berharap kita bisa memahami isi buku. Biasanya, orang yang sudah membaca buku, buku yang baik, termotivasi untuk menjadi seperti apa yang digambarkan dalam buku. Misalnya, buku berisi perjalanan sukses seorang tokoh. Maka, bagaimana menggapai kesuksesan itulah yang merubah pembaca menjadi energik, berusaha menjadi orang yang sukses, tentu dalam hal yang relevan. Kembali kepada al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kalam Allah. Allah menciptakan manusia. Allah mengetahui apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Karena itulah seorang muslim yang membaca, memahami ayat-ayat yang dibaca akan mengalami perubahan dalam dirinya. Sejauhmana ia berinteraksi dengan al-Qur'an sejauh itu pula perubahan yang akan diperoleh.
Di hari ketujuhbelas puasa hari ini semoga kita bisa meningkatkan hubungan kita dengan al-Qur'an, kita baca, kita pelajari, kita pahami, seberapapun itu sesuai kemampuan, kita amalkan, lalu kita ajarkan. Insya Allah perubahan menjadi lebih baik, lebih tenang, lebih nyaman, lebih sehat, tercerahkan akan menjadi milik kita. Semoga.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Selasa, 17 Ramadhan 1440 H/ 22 Mei 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Ketujuhbelas Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Nuzul al-Qur'an
Senin, 20 Mei 2019 menjelang sore, saya dihubungi pembina Ma'had al-Jami'ah dan meminta kesediaan saya membawakan ceramah pada Peringatan Nuzul al-Qur'an. Tanpa komentar, saya langsung mengiyakan. Peringatan Nuzul al-Qur'an itu diselenggarakan oleh IAIN Ternate, Selasa, tanggal 21 Mei 2019 bertempat di Laboratorium Spritual/mesjid kampus Babussalam IAIN Ternate. Acara dihadiri oleh Rektor, Karo, wakil rektor, pejabat lainnya di lingkungan IAIN, para dosen, para mahasiswa, dan warga masyarakat di sekitar kampus. Rektor dalam sambutannya mengharapkan ibadah puasa yang dijalani berbuah positif, mendorong menjadi pribadi-pribadi yang kokoh menjaga ukhuwah, persatuan, dan bersama-sama memelihara negeri tercinta selalu dalam keadaan kondusif. Aamiin.
Usai sambutan Rektor, MC mempersilahkan penceramah menyampaikan materinya (ada tambahan penjelasan dalam tulisan ini). Setelah hamdalah, penceramah menjelaskan bahwa nuzul al-Qur'an dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, al-Qur'an sebagai wahyu Allah swt diturunkan sekaligus dari
اللوح المحفوظ إليّ بيت العزة
pada malam qadr. Kedua, al-Qur'an diturunkan dari bait al-'Izzah kepada nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril as secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.
Al-Qur'an turun di malam qadr berarti di atas dua puluh ramadhan. Menurut jumhur ulama, turunnya lailatul qadri itu 10 hari di akhir ramadhan di malam ganjil yaitu antara 21, 23, 25, 27, 29. Lalu kenapa nuzul al-qur'an diperingati setiap tanggal 17 ramadhan. Sebahagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan tanggal turunnya al-Qur'an adalah pada fase kedua, yaitu al-Qur'an diturunkan kepada nabi Muhammad saw di bulan ramadhan saat nabi berada di Gua Hira.
Ayat yang pertama turun adalah lima ayat dari Surah al-Alaq. Ayat yang dimulai perintah membaca dengan nama Allah (iqra' bi ismi rabbik). Membaca identik dengan aktifitas, gerak. Menggerakkan daya pikir untuk membaca, mengkaji, meneliti baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Setiap aktifitas yang dilakukan tidak lepas dari nama Allah. Artinya, seorang muslim dalam perspektif al-Qur'an saat melakukan pekerjaan penelitian, kajian, atau aktifitas apapun itu yang melibatkan tenaga dan pikiran selalu berjalan lurus dengan kehendak Allah, tidak keluar dari rel agama, petunjuk al-Qur'an. Jadi, bagi kaum muslim, al-Qur'an bukan sekadar inspirator tetapi menjadi daya dorong yang sangat kuat dalam mengawal setiap langkah, gerak, aktifitas. Itulah sebabnya, seorang muslim selalu merasa nyaman, tidak punya beban, tidak terpengaruh oleh hal yang tidak bermanfaat karena ia sudah disetir oleh kendaraan agama. Dalam salah satu ayat al-Qur'an pada Surah al-Hadid ayat 28 :
وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ
Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan.
Menurut sebahagian ulama, kata nuuran yang ada dalam ayat tidak berarti cahaya dalam arti biasa seperti cahaya lampu, cahaya matahari, tetapi ia berarti hidayah, petunjuk agama yang menjauhkan dari jalan bengkok, buta terhadap kebenaran, gagal paham terhadap nilai-nilai agama. Artinya, ke manapun orang beriman, orang bertaqwa itu pergi selalu dituntun petunjuk agama. Kalau dianalogikan dengan kendaraan maka petunjuk agama itu adalah driver, sopirnya.
Al-Qur'an yang diterima Nabi Muhammad saw di Makkah, Madinah dan sekitarnya secara kronologis, terhitung mulai surah pertama turun sampai surah yang terakhir turun, ditulis dalam satu mushaf, dalam ilmu al-Qur'an disebut susunan al-Qur'an berdasarkan turunnya (ترتيب النزول). Kajian dalam perspektif ini dapat mengungkap banyak hal dari al-Qur'an di antaranya tema- tema dakwah nabi selama menyebarkan dakwahnya. Ada perbedaan bahasa komunikasi yang digunakan nabi ketika berada di Makkah dengan ketika nabi berada di Madinah. Perspektif yang kedua, mushaf al-Qur'an yang berada di tangan kaum muslim saat ini, al-Qur'an berdasarkan susunan mushaf (ترتيب المصحف) yaitu susunan al-Qur'an yang dimulai Surah al-Fatihah dan diakhiri Surah an-Naas. Kajian dalam perspektif ini membuktikan bahwa antara ayat-ayat dan surah-surah al-Qur'an saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya, ada kesatuan. Para pengkaji al-Qur'an terus menerus melakukan penelitian dalam dua perspektif tersebut. Selain itu, upaya penafsiran ayat-ayatnya juga semakin berkembang yang melahirkan para mufassir dalam berbagai latar belakang keilmuan.
Mengakhiri ceramah, pertanyaannya adalah bagaimana berinteraksi dengan al-Qur'an. Bagaimana agar al-Qur'an benar-benar berfungsi bagi pribadi-pribadi muslim, maka al-Qur'an tidak hanya dibaca, tetapi dihafal, dipelajari apa arti dan maksud ayat yang dibaca, lalu diamalkan, dan diajarkan, didakwakan. Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang membaca, menghafal al-Qur'an cenderung terjaga kesehatan jasmani dan ruhani. Hatinya tenang, bersih. Hati yang tenang mendorong lahirnya pikiran bersih, tutur kata yang baik. Jika hati, lisan, dan anggota badan bekerjasama dalam berbagai aktifitas tentu akan menghasilkan kadar kesehatan yang baik. Orang yang membaca al-Qur'an, memahami apa yang dibaca, maka ia akan menjadi manusia baru, manusia yang tercerahkan, manusia yang selalu ikhlas, manusia yang kuat, manusia yang tahan banting menghadapi berbagai masalah baik senang maupun yang susah karena selalu bersandar kepada sumber al-Qur'an, Allah swt. Apa alasannya. Ketika kita membaca suatu buku, penulis buku yang kita baca berharap kita bisa memahami isi buku. Biasanya, orang yang sudah membaca buku, buku yang baik, termotivasi untuk menjadi seperti apa yang digambarkan dalam buku. Misalnya, buku berisi perjalanan sukses seorang tokoh. Maka, bagaimana menggapai kesuksesan itulah yang merubah pembaca menjadi energik, berusaha menjadi orang yang sukses, tentu dalam hal yang relevan. Kembali kepada al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kalam Allah. Allah menciptakan manusia. Allah mengetahui apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Karena itulah seorang muslim yang membaca, memahami ayat-ayat yang dibaca akan mengalami perubahan dalam dirinya. Sejauhmana ia berinteraksi dengan al-Qur'an sejauh itu pula perubahan yang akan diperoleh.
Di hari ketujuhbelas puasa hari ini semoga kita bisa meningkatkan hubungan kita dengan al-Qur'an, kita baca, kita pelajari, kita pahami, seberapapun itu sesuai kemampuan, kita amalkan, lalu kita ajarkan. Insya Allah perubahan menjadi lebih baik, lebih tenang, lebih nyaman, lebih sehat, tercerahkan akan menjadi milik kita. Semoga.
آمين يا رب العٰلمين
والله أعلم بالصواب
Ternate, Selasa, 17 Ramadhan 1440 H/ 22 Mei 2019
Comments
Post a Comment