Bersama al-Qur'an (102)
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Kesepuluh Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Mengukur Kedekatan Kita kepada Sang Khaliq
Setiap orang yang beriman yang sedang berpuasa tanpa kecuali berkeyakinan dalam hati bahwa ia mencintai Allah, memuliakan-Nya, menaati-Nya. Meskipun ada perintah untuk berbakti, menaati-Nya, seorang mukmin tanpa diminta atau diperintah, sejatinya mewajibkan dirinya untuk menghormati, mencintai, dan mengagungkan Allah Yang Maha Agung, mensucikan asma Allah Yang Maha Tinggi. Dialah Allah Sang Pencipta Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi rezeki tanpa henti memberi perhatian, pemeliharaan, memenuhi kebutuhan hamba-Nya.
Bukti kebesaran dan perhatian Allah sangat nyata. Kehadiran manusia di bumi diciptakan oleh Allah dengan perantaraan orangtua dititip di dalam rahim ibu. Sejak di dalam rahim, Allah sudah menjaga si calon bayi sampai keluar ke bumi. Ia diberi pendengaran, penglihatan dan akal untuk berpikir. Mulai dari menyusui menjadi anak-anak, remaja, dewasa sampai berkeluarga dan berketurunan, Allah terus memberi rezeki, memberi fasilitas sesuai yang dibutuhkan oleh manusia. Bahkan seluruh alam ini diperuntukkan kepada manusia.
Sejenak kita berpikir, memperhatikan makanan yang sudah siap saji di rumah. Tidak ada yang instan. Nasi, gorengan pisang, ubi jalar, singkong dan beragam lauknya berasal dari suatu proses. Allah menurunkan air hujan dari langit. Lalu ia turun ke bumi. Bumi, tanah yang tadinya kering menjadi basah, subur yang kemudian mengeluarkan berbagai tumbuh-tumbuhan. Dari tumbuh-tumbuhan inilah kemudian melahirkan tanaman, pohon yang bermacam-macam, beragam buah, biji lalu diolah menjadi makanan bahkan banyak jenis buah bisa langsung disantap. Manusia diciptakan berbeda-beda, bersuku-suku dan membutuhkan pekerjaan yang berbeda-beda pula. Allah mendisain alam ini agar manusia bisa bekerja sesuai pilihan dan letak geografis tempat tinggalnya. Allah menentukan jenis tanah di bumi sehingga pohon, tanaman tertentu sangat cocok di wilayah tertentu dan tidak subur di tempat yang lain. Allah menundukkan alam, menundukkan laut agar manusia dapat memanfaatkan air laut, bisa makan daging segar berupa ikan, bisa mengeluarkan perhiasan darinya. Allah juga membatasi umur, kemampuan manusia. Karena itu Allah menciptakan malam untuk beristirahat dan siang untuk bekerja, siang yang terang dengan sinar mataharinya. Semua itu adalah bukti perhatian dan kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Oleh karena itu tidak ada alasan yang bisa diterima oleh akal sehat untuk tidak mencintai, menghormati Allah, mengikuti perintah-Nya. Pertanyaannya, sejauh manakah kedekatan kita kepada-Nya ? Tentu jawabannya kembali kepada pribadi masing-masing. Al-Qur'an memberikan gambaran bahwa seorang muslim dalam melaksanakan ajaran agama, ada tiga golongan : 1) zhalim, 2) pertengahan dan 3) bersegera. Al-Qur'an pada Surah Fathir ayat 32 :
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya : Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.
Di antara ahli tafsir ada yang menafsirkan ayat : 1) Zhaalimun linafsihi adalah orang yang melalaikan sebahagian yang diperintahkan dan mengerjakan sebahagian yang dilarang. Ada juga yang memaknai keburukannya lebih banyak dari kebaikannya. 2). Muqtashidun atau pertengahan. Yaitu mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Tetapi adakalanya meninggalkan yang sunnat dan mengerjakan yang makruh. Ada yang memaknai keburukannya tidak lebih banyak dan kebaikannya juga tidak banyak. Ada di tengah-tengah. 3) Saabiqun bi al-khairaat yaitu orang mengerjakan semua yang diperintahkan, meninggalkan semua yang dilarang. Ia juga mengerjakan yang sunnat dan meninggalkan yang makruh. Ia bersungguh-sungguh mengerjakan amal-amal saleh.
Berdasarkan penjelasan, tafsir ayat, sebahagian ulama membagi kelompok kedekatan hamba kepada Sang Khalik kepada tiga golongan yaitu :
1). Sangat dekat kepada Allah. Yaitu mereka yang sangat taat kepada Allah. Mereka mengerjakan semua perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, mengerjakan yang sunnat serta meninggalkan yang makruh dan yang diharamkan, yang dilarang.
2). Tidak terlalu dekat kepada Allah, tidak juga terlalu jauh, ada di tengah.
3). Kurang dekat kepada Allah. Lalai terhadap sebahagian perintah Allah. Ia masih mengerjakan yang dilarang.
Di hari kesepuluh puasa hari ini, sebagai mukmin yang baik, kita sadar akan kebesaran dan perhatian Allah terhadap hamba-Nya, maka patut kiranya kita semua selalu berusaha menakar kecintaan, kedekatan kita kepada-Nya. Semakin dekat kepada Allah berarti kita semakin cinta kepada-Nya. Semakin cinta kepada Allah akan berkorelasi dengan cinta, kedekatan, dan kasih sayang kita kepada sesama dan lingkungan sekitar. Semoga.
آمين يارب العٰلمين .
والله أعلم بالصواب
Ternate, Rabu, 10 Ramadhan 1440 H/ 15 Mei 2019
(إقرأ)
M. Djidin
IAIN Ternate
Hari Kesepuluh Puasa
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniyah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini.
Bacaan kita hari ini :
Mengukur Kedekatan Kita kepada Sang Khaliq
Setiap orang yang beriman yang sedang berpuasa tanpa kecuali berkeyakinan dalam hati bahwa ia mencintai Allah, memuliakan-Nya, menaati-Nya. Meskipun ada perintah untuk berbakti, menaati-Nya, seorang mukmin tanpa diminta atau diperintah, sejatinya mewajibkan dirinya untuk menghormati, mencintai, dan mengagungkan Allah Yang Maha Agung, mensucikan asma Allah Yang Maha Tinggi. Dialah Allah Sang Pencipta Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi rezeki tanpa henti memberi perhatian, pemeliharaan, memenuhi kebutuhan hamba-Nya.
Bukti kebesaran dan perhatian Allah sangat nyata. Kehadiran manusia di bumi diciptakan oleh Allah dengan perantaraan orangtua dititip di dalam rahim ibu. Sejak di dalam rahim, Allah sudah menjaga si calon bayi sampai keluar ke bumi. Ia diberi pendengaran, penglihatan dan akal untuk berpikir. Mulai dari menyusui menjadi anak-anak, remaja, dewasa sampai berkeluarga dan berketurunan, Allah terus memberi rezeki, memberi fasilitas sesuai yang dibutuhkan oleh manusia. Bahkan seluruh alam ini diperuntukkan kepada manusia.
Sejenak kita berpikir, memperhatikan makanan yang sudah siap saji di rumah. Tidak ada yang instan. Nasi, gorengan pisang, ubi jalar, singkong dan beragam lauknya berasal dari suatu proses. Allah menurunkan air hujan dari langit. Lalu ia turun ke bumi. Bumi, tanah yang tadinya kering menjadi basah, subur yang kemudian mengeluarkan berbagai tumbuh-tumbuhan. Dari tumbuh-tumbuhan inilah kemudian melahirkan tanaman, pohon yang bermacam-macam, beragam buah, biji lalu diolah menjadi makanan bahkan banyak jenis buah bisa langsung disantap. Manusia diciptakan berbeda-beda, bersuku-suku dan membutuhkan pekerjaan yang berbeda-beda pula. Allah mendisain alam ini agar manusia bisa bekerja sesuai pilihan dan letak geografis tempat tinggalnya. Allah menentukan jenis tanah di bumi sehingga pohon, tanaman tertentu sangat cocok di wilayah tertentu dan tidak subur di tempat yang lain. Allah menundukkan alam, menundukkan laut agar manusia dapat memanfaatkan air laut, bisa makan daging segar berupa ikan, bisa mengeluarkan perhiasan darinya. Allah juga membatasi umur, kemampuan manusia. Karena itu Allah menciptakan malam untuk beristirahat dan siang untuk bekerja, siang yang terang dengan sinar mataharinya. Semua itu adalah bukti perhatian dan kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya. Oleh karena itu tidak ada alasan yang bisa diterima oleh akal sehat untuk tidak mencintai, menghormati Allah, mengikuti perintah-Nya. Pertanyaannya, sejauh manakah kedekatan kita kepada-Nya ? Tentu jawabannya kembali kepada pribadi masing-masing. Al-Qur'an memberikan gambaran bahwa seorang muslim dalam melaksanakan ajaran agama, ada tiga golongan : 1) zhalim, 2) pertengahan dan 3) bersegera. Al-Qur'an pada Surah Fathir ayat 32 :
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya : Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.
Di antara ahli tafsir ada yang menafsirkan ayat : 1) Zhaalimun linafsihi adalah orang yang melalaikan sebahagian yang diperintahkan dan mengerjakan sebahagian yang dilarang. Ada juga yang memaknai keburukannya lebih banyak dari kebaikannya. 2). Muqtashidun atau pertengahan. Yaitu mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Tetapi adakalanya meninggalkan yang sunnat dan mengerjakan yang makruh. Ada yang memaknai keburukannya tidak lebih banyak dan kebaikannya juga tidak banyak. Ada di tengah-tengah. 3) Saabiqun bi al-khairaat yaitu orang mengerjakan semua yang diperintahkan, meninggalkan semua yang dilarang. Ia juga mengerjakan yang sunnat dan meninggalkan yang makruh. Ia bersungguh-sungguh mengerjakan amal-amal saleh.
Berdasarkan penjelasan, tafsir ayat, sebahagian ulama membagi kelompok kedekatan hamba kepada Sang Khalik kepada tiga golongan yaitu :
1). Sangat dekat kepada Allah. Yaitu mereka yang sangat taat kepada Allah. Mereka mengerjakan semua perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya, mengerjakan yang sunnat serta meninggalkan yang makruh dan yang diharamkan, yang dilarang.
2). Tidak terlalu dekat kepada Allah, tidak juga terlalu jauh, ada di tengah.
3). Kurang dekat kepada Allah. Lalai terhadap sebahagian perintah Allah. Ia masih mengerjakan yang dilarang.
Di hari kesepuluh puasa hari ini, sebagai mukmin yang baik, kita sadar akan kebesaran dan perhatian Allah terhadap hamba-Nya, maka patut kiranya kita semua selalu berusaha menakar kecintaan, kedekatan kita kepada-Nya. Semakin dekat kepada Allah berarti kita semakin cinta kepada-Nya. Semakin cinta kepada Allah akan berkorelasi dengan cinta, kedekatan, dan kasih sayang kita kepada sesama dan lingkungan sekitar. Semoga.
آمين يارب العٰلمين .
والله أعلم بالصواب
Ternate, Rabu, 10 Ramadhan 1440 H/ 15 Mei 2019
Comments
Post a Comment