Bersama al-Qur'an (9)
اقرأ
Bacalah "Akar"
اقرأ
Bacalah "Akar"
Objek bacaan kita pada hari ini adalah obyek tidak tertulis yaitu "akar". Akar adalah bagian pangkal tumbuhan pada batang yang berada dalam tanah dan tumbuh menuju pusat bumi. Ia berfungsi sebagai jangkar untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya tumbuhan di tempat hidupnya.
Kalau kita simak dengan teliti, akar jenis ini terletak jauh di dalam tanah. Ia bersembunyi, tidak menampakkan diri ke permukaan, tetapi peranannya sungguh besar. Pohon tidak akan berdiri kokoh tanpa dukungan akar. Pohon kurma misalnya (yang sudah kita baca, bersama al-Qur'an ke-8) termasuk pohon tahan banting. Daya hidup, daya tahan yang ada di pohon kurma sangat ditentukan oleh akar. Kalau akar melemah maka pohon akan melemah seiring dengan melemahnya akar. Kalau akar sudah tidak berfungsi maka pengaruhnya sangat besar. Bukan hanya pohonnya yang merasakan akibatnya, tetapi tidak lagi berbuah, daunnya semuanya akan gugur. Tidak ada lagi buah kurma yang bisa dipetik, tidak ada lagi buah yang bisa dimakan dan tidak ada lagi buah yang bisa dijadikan minuman yang lezat. Semua itu karena ketiadaan akar. Dengan demikian akar adalah pondasi yang memperkokoh berdirinya tumbuhan. Akar adalah ruhnya.
Sifat akar ini sungguh terhormat. Manusia yang bersifat seperti akar adalah tipe manusia yang mulia. Manusia seperti ini adalah orang yang sangat berjasa terhadap banyak orang tetapi kebaikan-kebaikan yang dilakukan disembunyikan, ditutupi seperti akar menyembunyikan dirinya jauh ke dalam tanah.
Mungkin kita boleh berkata bahwa orang yang berbuat baik, banyak berjasa kepada orang lain dan menyembunyikan kebaikannya termasuk orang yang ikhlas. Sebuah kisah tentang seorang ibu yang ikhlas. Kita sebut nama ibu ini, Nashirah. Ibu Nashirah dulunya seorang pelayan, pembantu di sebuah rumah milik pengusaha kaya. Ibu Nashirah walaupun seorang pembantu tetapi ia cerdas, selalu berpikir positif, ingin mandiri. Ternyata, keinginannya ada titik terang. Ia dipercaya majikannya mengelola Cafe/rumah makan dan ibu Nashirah memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar management. Alkisah, ibu Nashirah kemudian menjadi pengusaha yang mandiri. Dan ia tidak lagi menjadi pembantu rumah tangga. Ibu Nashirah sudah tinggal di rumah sendiri. Suatu ketika, ibu Nashirah mendengar informasi bahwa mantan majikannya jatuh sakit dan tidak lagi mengurusi perusahaannya. Sang majikan jatuh miskin. Melihat kenyataan ini, secara diam-diam Ibu Nashirah mentransfer uang dalam jumlah besar ke rekening mantan majikannya, dan ini dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Cerita ini diangkat dari serial Bollywood, Uttaran. Ibu Nashirah adalah Damini ibu Ichcha).
Substansi yang dapat dibaca dalam kisah ini adalah perbuatan baik yang disembunyikan sebagaimana yang dicontohkan oleh ibu Nashirah atau Damini.
Dalam perspektif Islam menyembunyikan perbuatan baik yang dilakukan bukan karena suatu faktor tetapi semata-mata karena Allah dapat disebut dengan ikhlas.
Ikhlas artinya bersih dan tulus dalam melakukan sesuatu, tanpa adanya harapan untuk mendapatkan imbalan dan balasan dari apa yang dikerjakannya itu, selain mengharapkan rida Allah SWT. semata. Ikhlas atau tidaknya seseorang dalam melakukan suatu perbuatan sangat tergantung pada niatnya. Adapun niat itu tempatnya di dalam hati, sehingga keikhlasan seseorang sukar untuk diketahui. Namun demikian, dapat dilihat dari sikap perilaku, ucapan dan tindakannya.
Dalam perspektif Islam menyembunyikan perbuatan baik yang dilakukan bukan karena suatu faktor tetapi semata-mata karena Allah dapat disebut dengan ikhlas.
Ikhlas artinya bersih dan tulus dalam melakukan sesuatu, tanpa adanya harapan untuk mendapatkan imbalan dan balasan dari apa yang dikerjakannya itu, selain mengharapkan rida Allah SWT. semata. Ikhlas atau tidaknya seseorang dalam melakukan suatu perbuatan sangat tergantung pada niatnya. Adapun niat itu tempatnya di dalam hati, sehingga keikhlasan seseorang sukar untuk diketahui. Namun demikian, dapat dilihat dari sikap perilaku, ucapan dan tindakannya.
Kata yang bermakna ikhlas dalam berbagai bentuknya 31 kali diulangi dalam al-Qur'an. Berbagai penafsiran terhadap beberapa ayat tersebut dimaknai antara lain adalah pertama, tauhid, mengesakan Allah SWT. Kedua, penyucian. Kedua makna ini menyatu dalam makna kemurnian, kesucian. Mengesakan Allah dalam beribadah, bermuamalah dan dalam bentuk-bentuk amal lainnya berarti berkomunikasi dengan siapa saja baik secara vertikal kepada Allah SWT maupun secara horisontal kepada sesama manusia semata-semata karena Allah SWT. Sedangkan penyucian dapat dikaitkan dengan orang yang hatinya suci dari noda dan dosa sehingga mereka menjadi hamba yang bersih dan kekasih Allah SWT.
Ikhlas atau hati yang bersih sangat besar peranannya dalam suatu ibadah, baik ibadah dalam arti khusus maupun umum. Faktor keikhlasan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan suatu perbuatan itu dapat diterima atau ditolak oleh Allah.
Ikhlas adalah kemudi amal saleh. Kalau ikhlas dianalogikan dengan akar maka mungkin kita dapat berkata bahwa ikhlas memperkokoh profesionalisme. Kinerja seorang pegawai misalnya, ditentukan oleh keikhlasannya. Seorang PNS yang bekerja apa adanya, malas, tidak disiplin boleh jadi karena tidak ikhlas. Dengan demikian orang yang tidak ikhlas hasil kerjanya sudah tentu tidak berkualitas. Bahkan nilainya tidak ada di sisi Allah SWT. Mari kita perhatikan ayat dan hadis berikut :
Ikhlas adalah kemudi amal saleh. Kalau ikhlas dianalogikan dengan akar maka mungkin kita dapat berkata bahwa ikhlas memperkokoh profesionalisme. Kinerja seorang pegawai misalnya, ditentukan oleh keikhlasannya. Seorang PNS yang bekerja apa adanya, malas, tidak disiplin boleh jadi karena tidak ikhlas. Dengan demikian orang yang tidak ikhlas hasil kerjanya sudah tentu tidak berkualitas. Bahkan nilainya tidak ada di sisi Allah SWT. Mari kita perhatikan ayat dan hadis berikut :
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan (mu) untuk-Nya.” [QS. Az Zumar : 2]
Kemudian Rasulullah bersabda :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. [HR. Abu Dawud dan Nasa’i]
Hasil bacaan kita pada hari ini, mungkin kita dapat berkata bahwa alangkah indah dan mulianya kalau kita bisa menjadi akar yang selalu menyembunyikan diri walaupun ia berjasa cukup besar. Artinya, apapun yang kita lakukan alangkah mulianya jika semua aktifitas kita didasari niat yang baik dan ikhlas karena Allah SWT. Insya Allah jika kita ikhlas kita bisa membangun sebuah bangunan yang kokoh, kuat apakah itu bangunan Claaning Service, pegawai, dosen, pejabat, TNI, polisi, pengusaha, dan sederet bangunan lainnya. Sebaliknya jika tidak, bangunan itu bisa goyang dan akhirnya roboh. Sekedar mengingatkan amal yang tidak diterima oleh Allah SWT (kasus amal yang tidak beriman) digambarkan oleh al-Qur'an oleh Allah sebagai amal هبأ منثورا /bagaikan debu yang beterbangan.
Wallahu a'lam BI al-shawab
Ternate, 07 Mei 2016
Ternate, 07 Mei 2016
Comments
Post a Comment