Bersama al-Qur'an (54)
Bacalah (إقرأ)
"Membaca Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah".
Ayat Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Sedangkan Ayat Kauniyah adalah ayat atau tanda yang tampak di sekeliling yang diciptakan oleh Sang Khaliq, Allah swt. Ayat-ayat kauniyah bisa dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan ciptaan Allah SWT lainnya yang ada di dalam alam ini.
Ayat Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Sedangkan Ayat Kauniyah adalah ayat atau tanda yang tampak di sekeliling yang diciptakan oleh Sang Khaliq, Allah swt. Ayat-ayat kauniyah bisa dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan ciptaan Allah SWT lainnya yang ada di dalam alam ini.
Saat membuka fb, saya terkejut membaca tulisan Ahmad M. Sewang (Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA), minggu, 07 Oktober 2017 dengan judul "IN MEMORIAM DR. KH. MOCHTAR HUSEIN".
Saya terkejut karena minggu, 24 September 2017, Dr. KH. Mochtar Husein merayakan hari ulang tahun perkawinannya ke-50. Walau melalui foto, untuk pertama kalinya saya lihat wajah beliau setelah puluhan tahun.
Sudah sangat lama ingin melihat beliau, ingin berkomunikasi dengan beliau. Dan Alhamdulillah pada 24 September itu saya bisa lihat fotonya yang diposting bapak Prof.Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA saat hari ulang tahun perkawinan emas Dr. KH. Mochtar Husein.
Usai melihat foto itu, selain mengenang jasa-jasa beliau, juga sebagai ucapan terimakasih saya kepada beliau sebagai guru kami yang sangat inspiratif, saya menulis mengekspresikan perasaan saya kepada beliau, usai menatap fotonya, melalui kolom, status Ketua DPP IMMIM di Makassar, Sul-Sel, Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, MA, 24 September 2017.
Tulisan itu saya copy kembali di kolom ini dengan beberapa tambahan sebagai bahan bacaan kita kali ini.
Subhanallah walhamdulillah (سبحان الله و الحمد لله), pertanyaan saya yang sudah tersimpan lama, hari ini sudah ketemu jawabannya. Pertanyaan saya itu berkaitan keberadaan Bapak Dr. KH. Mochtar Husein. Beliau saat masih aktif sebagai dosen senior IAIN Alauddin adalah salah satu dosen idola, selain penulis, pengisi tetap pada kolom Mimbar Jumat Harian Pedoman Rakyat terbit di Makassar, beliau juga muballigh kondang pada masanya. Selain itu, sebagai orangtua, ayah dari anak-anaknya, beliau adalah bapak yang sangat berhasil mendidik anak. Dalam IN MEMORIAM DR. KH. MOCHTAR HUSEIN (2), Ahmad M. Sewang menulis bahwa Mochtar Husein dengan seorang istri memiliki tujuh orang anak yang semuanya berhasil dalam studi dan sudah punya pekerjaan terhormat. Sebahagian di antaranya, menyelesaikan studi di luar negeri dan bertugas di sana. Anak sulungnya, Dr. Muhammad Iqbal Mochtar yang saat masih kuliah di Makassar, tulisan-tulisannya sering dimuat di Harian Pedoman Rakyat, bertugas sebagai dokter di Qatar, Dr. Ir. Zulkifli Mochtar bekerja sebagai engineering di Jepang dan mempersunting wanita Jepang, Zulfikar Mochtar menjabat sebagai deputi Dirjen Perikanan dan Kelautan. Anak bungsunya, Dr. Zainal Arifin Mochtar. Moderator pada debat calon presiden dan wakil presiden 2014 ini adalah dosen dan Ketua Pukat UGM Yogyakarta. Anaknya yang lain ada yang berprofesi sebagai dokter dan kontraktor di dalam negeri.
Keberhasilan pak Mochtar Husein, menurut Ahmad M. Sewang, orang yang sangat dekat dengan beliau, yang dulu sebagai mahasiswa emasnya, bahwa pak Mochtar Husein menerapkan pendidikan disiplin yang dimulai dari dalam rumah. Di rumah, kata Ahmad M. Sewang, guru besar sejarah peradaban Islam UINAM, "Mochtar Husein menuntun anak-anaknya salat berjamaah antara maghrib dan Isya sambil memberi kultum dan membaca al-Qur'an berjamaah". Selain itu, pak Mochtar Husein di dalam rumah, sangat menjaga makanan yang dikonsumsi oleh semua anggota keluarga, syaratnya halaalan thayyibah.
Saya merasa dekat dengan beliau, selain guru kami, saya juga mengajar di tempat beliau mengajar di MAN (SPIAIN) di Jalan Sumba Makassar.
Diskusi-diskusi ilmiah yang beliau pimpin dan dilaksanakan di rumah tinggal beliau di depan Stadion Olahraga Mattoanging (kini Andi Mattalatta) selalu saya hadiri.
Diskusi-diskusi ilmiah yang beliau pimpin dan dilaksanakan di rumah tinggal beliau di depan Stadion Olahraga Mattoanging (kini Andi Mattalatta) selalu saya hadiri.
Bapak Dr. KH. Mochtar Husein ketika menyampaikan ide, gagasan, ceramah selalu aktual. Saya masih ingat betul ketika memulai baca khuthbah, sesudah hamdalah, kalimat pembuka yang beliau garis bawahi kurang lebih adalah bahwa materi khuthbah sejatinya mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan selama satu minggu berjalan. Termasuk di dalamnya topik khuthbah yang relevan dengan persoalan sosial kemasyarakatan yang sedang dibicarakan pada kurung waktu tersebut. Dengan nada suara yang khas, materi khutbah tidak panjang tetapi tuntas membuat jamaah sangat menikmatinya.
Saya selalu berusaha tidak absen membaca tulisannya yang dimuat setiap hari Jumat di Harian Pedoman Rakyat (sudah tidak terbit),
mengikuti khuthbahnya di berbagai mesjid di Makassar dari Mesjid Raya ke mesjid Pasar Butung. Termasuk mengikuti ceramahnya ba'da maghrib di mesjid raya sekali seminggu karena beberapa penceramah digilir dan masing-masing dapat jadwal ceramah sekali. Di antaranya KH. Sanusi Baco, Lc, Drs. Husain Laewang, KH. Ali Ba'bud, KH. Bakri Wahid, BA, Drs. Dahlan Yusuf, KH. Jabbar Asiri. Kegiatan ceramah ini diselenggarakan oleh Pengurus Mesjid Raya Makassar.
mengikuti khuthbahnya di berbagai mesjid di Makassar dari Mesjid Raya ke mesjid Pasar Butung. Termasuk mengikuti ceramahnya ba'da maghrib di mesjid raya sekali seminggu karena beberapa penceramah digilir dan masing-masing dapat jadwal ceramah sekali. Di antaranya KH. Sanusi Baco, Lc, Drs. Husain Laewang, KH. Ali Ba'bud, KH. Bakri Wahid, BA, Drs. Dahlan Yusuf, KH. Jabbar Asiri. Kegiatan ceramah ini diselenggarakan oleh Pengurus Mesjid Raya Makassar.
Sebagai idola, saya selalu berpikir kapan juga saya bisa menulis di koran dan bisa berkhuthbah seperti pak Mochtar Husein. Pikiran saya itu muncul beberapa puluh tahun silam saat saya duduk di kelas 1 SPIAIN Makassar. Akhirnya saya kursus wartawan tertulis "MEKAR". Dari sini saya mulai belajar menulis, dan tahun berikutnya, saya mengirim berbagai tulisan ke Harian Pedoman Rakyat. Ketika kuliah di Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) dan Akademi Bahasa Asing, ABA Atmajaya Jurusan Bahasa Inggris, tulisan-tulisan yang saya kirim tentang remaja, resensi, komentar sinetron, dan tulisan olahraga mulai dimuat berurutan sesuai kolom yang ada.
Berdasarkan tulisan-tulisan itu, Bapak Verdy R. Baso, Redaktur Olahraga Harian Pedoman Rakyat (PR) memanggil saya bergabung di Harian Pedoman Rakyat. Tugas saya menulis berita kota setiap hari, lebih banyak lebih bagus. Selain berita kota, saya aktif menulis di kolom olahraga terutama berkaitan Kes. Makassar Utama, Bima Kencana Galatama.
Berdasarkan tulisan-tulisan itu, Bapak Verdy R. Baso, Redaktur Olahraga Harian Pedoman Rakyat (PR) memanggil saya bergabung di Harian Pedoman Rakyat. Tugas saya menulis berita kota setiap hari, lebih banyak lebih bagus. Selain berita kota, saya aktif menulis di kolom olahraga terutama berkaitan Kes. Makassar Utama, Bima Kencana Galatama.
Suatu malam, TVRI menyiarkan langsung laporan pandangan mata pertandingan sepakbola yang diselenggarakan di India. Tim nasional waktu itu diwakili Niac Mitra Surabaya, yang salah seorang pemainnya, Yusuf Malle dari Makassar. Pertandingan sangat seru ditambah dengan komentator, Sambas. Dengan suara yang khas, Sambas membawa penonton seolah-olah sedang berada di India menyaksikan langsung pertandingan.
Dengan kemenangan Indonesia yang dicetak Yusuf Malle, saya tidak bisa menahan kegembiraan, saya pun mengambil mesin ketik manual, menulis kembali jalannya pertandingan. Alangkah gembiranya hati ini, di pagi hari, esoknya, tulisan itu dimuat Harian Pedoman Rakyat.
Dengan kemenangan Indonesia yang dicetak Yusuf Malle, saya tidak bisa menahan kegembiraan, saya pun mengambil mesin ketik manual, menulis kembali jalannya pertandingan. Alangkah gembiranya hati ini, di pagi hari, esoknya, tulisan itu dimuat Harian Pedoman Rakyat.
Mimpi saya agar bisa menulis di koran (surat kabar) menjadi kenyataan, walau masih tahap pemula. Kesempatan berkhuthbah waktu itu saya juga tidak sia-siakan ketika teman di SPIAIN, Abd. Jabbar mengajak saya berkhuthbah di Sungguminasa. Abd. Jabbar (Drs. H. Abd. Jabbar) ini adalah anaknya Imam besar di Sungguminasa yang kemudian menggantikan bapaknya beberapa periode. Dengan kedekatan ini saya selalu diundang baca khuthbah, terakhir ketika saya sedang kuliah S2 di IAIN Alauddin (kini UINAM).
Saat cinta saya ke koran dan khuthbah semakin dalam, saya diperhadapkan kepada dua pilihan. Pak Verdy meminta pendapat saya apakah saya tetap di Harian Pedoman sementara guru saya, orangtua saya, ARG. Prof. Dr. KH. Sahabuddin اللهم اغفر له (waktu itu beliau belum guru besar, adalah Dekan di IAIN Ambon) memanggil saya ke Ambon untuk menjadi dosen. Akhirnya pilihan saya jatuh ke IAIN. Alasannya sederhana, di IAIN kita bisa menulis dan baca khuthbah.
Apa yang saya alami, rasakan dan saya ungkapkan di dalam tulisan ini tidak terlepas dari keteladanan, jasa bapak Dr. KH. Mochtar Husein yang sangat inspiratif dan saya idolakan.
Saat saya berada di Ternate, saya tidak lagi mengetahui keberadaan Dr. KH. Mochtar Husein. Alhamdulillah hari ini (24 September) Prof. H. Ahmad M. Sewang mengangkat beritanya.
Terimakasih bapak Dr. KH. Mochtar Husein, moga sehat dan selalu dalam lindungan-Nya. Kepada bapak Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, penulis yang sangat produktif, sarat berbagai kegiatan, di Indonesia dan di luar negeri, atas infonya, kami sampaikan terimakasih.
Ternyata, setelah kerinduan saya terobati, walau hanya lewat foto, Allah SWT memanggil Dr. KH. Mochtar Husein, Sabtu Sore, 07 Oktober 2017.
إنا لله و إنا اليه راجعون
اللهم اغفر له اللهم ثبته.
اللهم اغفر له اللهم ثبته.
Dari tulisan tersebut, kita mungkin bisa berkata bahwa :
1. Semua yang bernyawa cepat atau lambat pasti akan meninggalkan dunia ini. Allah berfirman : QS. Ali 'Imran ayat 185 :
1. Semua yang bernyawa cepat atau lambat pasti akan meninggalkan dunia ini. Allah berfirman : QS. Ali 'Imran ayat 185 :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ
Artinya : Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan
mati.
berjiwa akan merasakan
mati.
2. Mewujudkan keluarga yang baik, menjadikan anak-anak yang saleh dan sukses, banyak dipengaruhi dari cara orangtua menerapkan pendidikan terhadap anak-anaknya. Sebagai orang muslim, sangatlah tepat jika kita bisa makan bersama dengan anak-anak disesuaikan waktu yang disepakati, dirangkaikan nasehat masa depan (kultum) ditambah dengan tadarus al-Qur'an berjamaah. Firman Allah, QS. Thaha : 132 .وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا .
Artinya : Dan
perintahkanlah kepada
keluargamu mendirikan
shalat dan bersabarlah
kamu dalam
mengerjakannya.
3. Untuk mewujudkan mimpi, cita-cita, tidak sama membalikkan tangan, memerlukan waktu, kesabaran, kesungguhan, dan tekad. Kita harus berusaha walau akhirnya Allah yang memutuskan.
الإنسان بالتفكير والله بالتدبير
Dalam al-Qur'an : QS. Al-Baqarah : 45.
واستعينوا بالصبر و الصلاة
Artinya :
Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.
4. Dalam melakoni hidup ini, kita tidak sendiri. Ada orangtua, guru/dosen, dan lainnya yang turut berperan. Oleh karena itu, sungguh mulia bila kita tidak melupakan jasa orang lain.
Dalam al-Qur'an : Surah al-Baqarah : 237 :
وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَلاَ تَنسَوُاْ الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
perintahkanlah kepada
keluargamu mendirikan
shalat dan bersabarlah
kamu dalam
mengerjakannya.
3. Untuk mewujudkan mimpi, cita-cita, tidak sama membalikkan tangan, memerlukan waktu, kesabaran, kesungguhan, dan tekad. Kita harus berusaha walau akhirnya Allah yang memutuskan.
الإنسان بالتفكير والله بالتدبير
Dalam al-Qur'an : QS. Al-Baqarah : 45.
واستعينوا بالصبر و الصلاة
Artinya :
Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.
4. Dalam melakoni hidup ini, kita tidak sendiri. Ada orangtua, guru/dosen, dan lainnya yang turut berperan. Oleh karena itu, sungguh mulia bila kita tidak melupakan jasa orang lain.
Dalam al-Qur'an : Surah al-Baqarah : 237 :
وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَلاَ تَنسَوُاْ الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Memaafkan itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
والله اعلم بالصواب
Ternate, Selasa, 10 Oktober 2017
Ternate, Selasa, 10 Oktober 2017
Comments
Post a Comment