Bersama al-Qur'an (52)
Bacalah (إقرأ)
"Membaca Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah".
Ayat Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Sedangkan Ayat Kauniyah adalah ayat atau tanda yang tampak di sekeliling yang diciptakan oleh Sang Khaliq, Allah swt. Ayat-ayat kauniyah bisa dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan ciptaan Allah SWT lainnya yang ada di dalam alam ini.
Ayat Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Sedangkan Ayat Kauniyah adalah ayat atau tanda yang tampak di sekeliling yang diciptakan oleh Sang Khaliq, Allah swt. Ayat-ayat kauniyah bisa dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan ciptaan Allah SWT lainnya yang ada di dalam alam ini.
Tulisan yang kita baca kali ini adalah Kuliah Umum dengan judul :
Peran PT Dalam Menjawab Tantangan Umat di Era Globalisasi
Oleh : Prof. Dr.KH. Nazaruddin Umar, MA
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Ternate, 12 September 2017.
Ada beberapa hal yang dijelaskan :
1. Al-Ma'rifah( المعرفة) dan Al-Nakirah (النكرة), A and The.
Dalam kajian bahasa Arab, al-Ma'rifah dan al-Nakirah masuk dalam pembahasan Nahwu. Al-Ma'rifah yang dimaksudkan di sini adalah kata benda yang menggunakan al (ال), dalam bahasa Inggris menggunakan 'the' dan al-Nakirah kata benda tanpa al (ال) dan dalam bahasa Inggris menggunakan 'a'. Al-Ma'rifah (kata benda ma'rifah) mempunyai kandungan makna tertentu sehingga antara pembicara dan pendengar sudah mengetahui apa yang dimaksud. Sedangkan al-Nakirah (kata benda nakirah) adalah kata benda yang belum ditentukan untuk menunjukkan kata benda yang mana, yang bagai mana, adanya dimana, sehingga tidak bisa menyebutkan atau menunjukkan benda tersebut, karena maknanya bersifat umum. Kata buku misalnya, كتاب (kitabun/buku) tanpa al. Dalam bahasa Inggris menggunakan 'a' ( a book). Kitab ini belum diketahui kitab apa, dimana. Artinya, boleh jadi buku sejarah, buku bahasa Indonesia, buku besar, buku catatan, dst. Belum diketahui buku yang mana karena bersifat umum. Inilah yang disebut al-Nakirah. Prof. KH. Nazaruddin Umar, MA (selanjutnya disebut Prof) lanjut menjelaskan kata al-Ma'rifah. Kata benda ma'rifah, kata benda yang menggunakan kata al (ال), dalam bahasa Inggris menggunakan 'the'. Contohnya, buku (كتاب/kitaabun) menjadi الكتاب (al-Kitaabu/the book). Buku yang dimaksudkan di sini sudah jelas, tertentu, yakni buku itu.
Peran PT Dalam Menjawab Tantangan Umat di Era Globalisasi
Oleh : Prof. Dr.KH. Nazaruddin Umar, MA
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Ternate, 12 September 2017.
Ada beberapa hal yang dijelaskan :
1. Al-Ma'rifah( المعرفة) dan Al-Nakirah (النكرة), A and The.
Dalam kajian bahasa Arab, al-Ma'rifah dan al-Nakirah masuk dalam pembahasan Nahwu. Al-Ma'rifah yang dimaksudkan di sini adalah kata benda yang menggunakan al (ال), dalam bahasa Inggris menggunakan 'the' dan al-Nakirah kata benda tanpa al (ال) dan dalam bahasa Inggris menggunakan 'a'. Al-Ma'rifah (kata benda ma'rifah) mempunyai kandungan makna tertentu sehingga antara pembicara dan pendengar sudah mengetahui apa yang dimaksud. Sedangkan al-Nakirah (kata benda nakirah) adalah kata benda yang belum ditentukan untuk menunjukkan kata benda yang mana, yang bagai mana, adanya dimana, sehingga tidak bisa menyebutkan atau menunjukkan benda tersebut, karena maknanya bersifat umum. Kata buku misalnya, كتاب (kitabun/buku) tanpa al. Dalam bahasa Inggris menggunakan 'a' ( a book). Kitab ini belum diketahui kitab apa, dimana. Artinya, boleh jadi buku sejarah, buku bahasa Indonesia, buku besar, buku catatan, dst. Belum diketahui buku yang mana karena bersifat umum. Inilah yang disebut al-Nakirah. Prof. KH. Nazaruddin Umar, MA (selanjutnya disebut Prof) lanjut menjelaskan kata al-Ma'rifah. Kata benda ma'rifah, kata benda yang menggunakan kata al (ال), dalam bahasa Inggris menggunakan 'the'. Contohnya, buku (كتاب/kitaabun) menjadi الكتاب (al-Kitaabu/the book). Buku yang dimaksudkan di sini sudah jelas, tertentu, yakni buku itu.
Substansi al-Ma'rifah, sesuatu yang dikenal bisa bermakna populer, nilai tinggi, wibawa, mulia. Pak Prof mencontohkan ayat :
ذالك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين
(Itulah kitab tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).
Kata kitaab (كتاب) dalam ayat tersebut menggunakan al(ال) yang dimaksud adalah al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab yang mulia, kita petunjuk, kitab pembeda antara yang benar dan yang salah, kitab yang sarat informasi yang dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya.
ذالك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين
(Itulah kitab tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa).
Kata kitaab (كتاب) dalam ayat tersebut menggunakan al(ال) yang dimaksud adalah al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab yang mulia, kita petunjuk, kitab pembeda antara yang benar dan yang salah, kitab yang sarat informasi yang dibutuhkan oleh manusia dalam hidupnya.
Kewibawaan, kemuliaan al-Qur'an, petunjuknya akan memberi manfaat sejauh mana kita berinteraksi dengan al-Qur'an. Pak Prof menjelaskan beberapa kemampuan umat Islam membaca al-Qur'an, 1) How to read (bagaimana membaca). Membaca al-Qur'an tidak sama dengan membaca koran, buku. Al-Qur'an sebagai kitab suci, dibaca sesuai tata cara, tajwid, dan ada etikanya. Bahkan menyentuh al-Qur'an harus dalam keadaan bersih. Surah al-Waqi'ah : 79
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
(tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang bersih, suci).
Bersih, suci, dapat diinterpretasikan dalam beberapa makna. Namun menurut pak Prof, bersih dalam ayat ini dimaknai secara total. Orang yang membaca al-Qur'an, badan harus bersih termasuk semua unsur yang ada di dalamnya. Hatinya harus bersih, pikirannya harus bersih. Orang yang bersih lahir dan batinlah yang ketika berinteraksi dengan al-Qur'an, dapat membacanya dengan baik, akan terinspirasi untuk lebih dekat dengan al-Qur'an, termotivasi untuk untuk membaca pada level kedua, 2) How to learn. Al-Qur'an sebagai kitab suci, sampai saat ini sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia bahkan lokal. Kita dapat membaca terjemahan al-Qur'an tidak kurang dari 140 bahasa, bahkan di percetakan al-Qur'an di Madinah, terpajang buku terjemaal-Qur'an dalam bahasa daerah Mandar, Sulawesi Barat berada pada kelompok bahasa Asia. Tentu saja usaha penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa asing termasuk ke dalam bahasa daerah akan bermunculan di masa datang. Boleh jadi, sudah banyak al-Qur'an terjemahan bahasa-bahasa daerah nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa betapa mudahnya kita mempelajari al-Qur'an. 3). How to understand. Berinteraksi dengan al-Qur'an tidak cukup hanya membacanya, mempelajarinya, tetapi harus memahami maknanya, kandungannya. Usaha memahami kandungan al-Qur'an dari berbagai seginya, tidak pernah berhenti sampai saat ini. Salah satu Kitab yang paling populer di dunia adalah al-Qur'an. Kitab ini tidak hanya dibaca, dikaji, diteliti oleh orang-orang tertentu, tetapi dikaji oleh berbagai kalangan bukan hanya oleh orang Islam tetapi juga non Islam. Karya tafsir dari masa sahabat, taabi'iin, taabi' al-tabi'iin, dari generasi ke generasi sampai hari ini dapat kita baca, kita pelajari. Tafsir karya Ulama nusantara kini juga semakin beragam. 4) How to realize. Tahap keempat interaksi kita dengan al-Qur'an adalah bagaimana merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
(tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang bersih, suci).
Bersih, suci, dapat diinterpretasikan dalam beberapa makna. Namun menurut pak Prof, bersih dalam ayat ini dimaknai secara total. Orang yang membaca al-Qur'an, badan harus bersih termasuk semua unsur yang ada di dalamnya. Hatinya harus bersih, pikirannya harus bersih. Orang yang bersih lahir dan batinlah yang ketika berinteraksi dengan al-Qur'an, dapat membacanya dengan baik, akan terinspirasi untuk lebih dekat dengan al-Qur'an, termotivasi untuk untuk membaca pada level kedua, 2) How to learn. Al-Qur'an sebagai kitab suci, sampai saat ini sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia bahkan lokal. Kita dapat membaca terjemahan al-Qur'an tidak kurang dari 140 bahasa, bahkan di percetakan al-Qur'an di Madinah, terpajang buku terjemaal-Qur'an dalam bahasa daerah Mandar, Sulawesi Barat berada pada kelompok bahasa Asia. Tentu saja usaha penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa asing termasuk ke dalam bahasa daerah akan bermunculan di masa datang. Boleh jadi, sudah banyak al-Qur'an terjemahan bahasa-bahasa daerah nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa betapa mudahnya kita mempelajari al-Qur'an. 3). How to understand. Berinteraksi dengan al-Qur'an tidak cukup hanya membacanya, mempelajarinya, tetapi harus memahami maknanya, kandungannya. Usaha memahami kandungan al-Qur'an dari berbagai seginya, tidak pernah berhenti sampai saat ini. Salah satu Kitab yang paling populer di dunia adalah al-Qur'an. Kitab ini tidak hanya dibaca, dikaji, diteliti oleh orang-orang tertentu, tetapi dikaji oleh berbagai kalangan bukan hanya oleh orang Islam tetapi juga non Islam. Karya tafsir dari masa sahabat, taabi'iin, taabi' al-tabi'iin, dari generasi ke generasi sampai hari ini dapat kita baca, kita pelajari. Tafsir karya Ulama nusantara kini juga semakin beragam. 4) How to realize. Tahap keempat interaksi kita dengan al-Qur'an adalah bagaimana merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
Al-Qur'an adalah himpunan. Al-Qur'an terdiri atas huruf, kata, kalimat, ayat, surah. Komponen, unsur-unsur ini merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Demikian juga dalam kehidupan ini. Pak Prof mencontohkan, mesjid. Mesjid adalah menghimpun berbagai unsur. Sebuah mesjid dapat berdiri kokoh karena ada pasir, semen, air, batu merah. Di dalam sebuah mesjid ada mihrab, lantai, shap untuk Imam dan jamaah. Mesjid juga mempunyai kuba. "Apakah mesjid dapat disebut kalau tidak memiliki toilet ?, tanya pak Prof kepada mahasiswa dan hadirin yang memenuhi Aula IAIN Ternate.
Pak Prof juga menjelaskan perpedaan murid dan thullaab. Mahasiswa IAIN Ternate harus menjadi murid bukan thullaab. Murid adalah mahasiswa yang menggunakan batin, hati nurani. Batin, hati nurani, nilai-nilai kebenaran, kesucian adalah kompas, driver, pengemudi yang selalu menyertai mahasiswa dalam mengarungi dunia akademiknya. Mahasiswa yang menggunakan batinnya akan menjadi ma'rifah, arif, bijaksana, tidak mudah menyalahkan orang lain. Walaupun cukup banyak literatur yang sudah dibaca tetapi selalu bijaksana, menghormati pendapat orang dan tidak pernah menyalahkan, selalu menghargai perbedaan. Sedangkan thullaab adalah mahasiswa yang hanya menggunakan rasio, akalnya. Thullaab adalah mahasiswa yang alim, berilmu. Karena menganggap dirinya sudah berilmu, terkadang menganggap dirinyalah yang paling benar. Akibatnya, ia mudah menyalahkan orang lain, menganggap pendapat orang lain salah, bahkan dapat mengkafirkan mereka yang tidak sependapat dengannya.
Dari hasil Iqra' kita kali ini, kita dapat berkata bahwa :
1. Sebagai muslim yang baik, muslim yang mencintai al-Qur'an, sejatinya kita selalu berinteraksi dengan al-Qur'an. Kita baca, kita pelajari, kita pahami, dan mengamalkan apa yang sudah kita pahami dengan baik. Kita amalkan dalam kehidupan keseharian kita dan mengajarkannya.
2. Setiap kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Apapun kita tidak ada yang sempurna. Karena yang Maha Sempurna hanyalah milik Allah SWT. Di dalam diri kita terhimpun yang baik dan yang tidak baik. Masjid yang kita muliakan ternyata masjid yang baik harus memiliki toilet, WC, tempat pembuangan kotoran yang kecil dan yang besar.
3. Berdasarkan kelemahan dan kekurangan yang dimiliki, kita tidak boleh berhenti belajar. Kita harus terus berbuat, berkarya yang positif dan menjadi orang yang arif, orang yang bijaksana, orang bisa menerima dan menghargai pendapat orang lain dalam semua lini kehidupan.
Tulisan ini seharusnya naik fb 12 September 2017, saat pak Prof berada di IAIN Ternate.
1. Sebagai muslim yang baik, muslim yang mencintai al-Qur'an, sejatinya kita selalu berinteraksi dengan al-Qur'an. Kita baca, kita pelajari, kita pahami, dan mengamalkan apa yang sudah kita pahami dengan baik. Kita amalkan dalam kehidupan keseharian kita dan mengajarkannya.
2. Setiap kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Apapun kita tidak ada yang sempurna. Karena yang Maha Sempurna hanyalah milik Allah SWT. Di dalam diri kita terhimpun yang baik dan yang tidak baik. Masjid yang kita muliakan ternyata masjid yang baik harus memiliki toilet, WC, tempat pembuangan kotoran yang kecil dan yang besar.
3. Berdasarkan kelemahan dan kekurangan yang dimiliki, kita tidak boleh berhenti belajar. Kita harus terus berbuat, berkarya yang positif dan menjadi orang yang arif, orang yang bijaksana, orang bisa menerima dan menghargai pendapat orang lain dalam semua lini kehidupan.
Tulisan ini seharusnya naik fb 12 September 2017, saat pak Prof berada di IAIN Ternate.
والله أعلم بالصواب
Graha Lestari, Makassar
17 September 2017
17 September 2017
Comments
Post a Comment