Bersama al-Qur'an (5)
اقرأ
Bacalah
اقرأ
Bacalah
Wahyu pertama yang diterima Nabi saw diawali dengan perintah membaca (اقرأ) mengisyaratkan bahwa obyek yang dapat dibaca sangat luas meliputi obyek yang tertulis dan obyek yang tidak tertulis. Membaca yang tidak tertulis menggunakan akal,nalar, pikiran. Penelitian terhadap berbagai macam tumbuh-tumbuhan, daun-daunan menghasilkan temuan bahwa sebahagian tumbuh-tumbuhan itu menjadi obat berbagai penyakit. Artinya membaca menggunakan akal, ilmu pengetahuan akan menghasilkan manfaat yang besar bagi manusia.
Ketika berada di pondokan yang juga digunakan sebagai tempat belajar santri Pusat Studi al-Qur'an (PSQ) Jakarta di pondok cabe Tangerang Banten, saya membaca apa yang saya lihat. Mulai dari penjemputan saya menyaksikan bahwa dua sopir yang bertugas saat itu adalah penghafal-penghafal al-Qur'an sekaligus pembimbing bagi santri-santri yang baru datang. Dari hasil bacaan ini saya menemukan bahwa PSQ Jakarta membekali santrinya bukan hanya knowledge, tetapi juga skill and attitude.
Saya lanjutkan bacaan saya sambil memperhatikan beberapa santri sedang duduk di atas sajadah yang didominasi warna merah. Mulut para santri ini terlihat terbuka, kadang terbuka tipis dan kepala bergerak ke kiri dan ke kanan seolah mengikuti irama kata yang terucap. "Mereka sedang menghafal al-Qur'an" bisik seorang santri yang berdiri di samping saya. Jelaslah bagi saya untuk menghafal al-Qur'an harus ada tekad yaitu kemauan yang kuat, ada target, metode, serta ditopang oleh keikhlasan. Boleh jadi dengan cara ini seseorang mudah menghafal al-Qur'an.
Ketika saya masih berusia muda saya selalu bertanya kagum dan sulit menjawab bagaimana Imam Syafii masih usia sangat muda, di usia 7 tahun (menurut suatu sumber) sudah menghafal al-Qur'an. Ia juga menghafal al-Muwaththa kumpulan hadis Imam Malik bin Anas berisi ribuan hadis.
Hari ini kita berbangga ternyata Indonesia juga memiliki seorang Musa di usia 7 tahun sudah menghafal 30 juz al-qur'an. Musa meraih juara 3 musabaqah Hifdzil Qur'an di Mesir beberapa waktu yang lalu . Penghafal al-Qur'an termuda di dunia, 4 setengah tahun berasal dari Mesir.
Memang bila mau menghafal al-Qur'an selain yang sudah disebutkan, harus fokus dan disiplin. Tahun 2011 saya bersama 19 teman dari Indonesia mengikuti kegiatan belajar di Ummul Quro University di Makkah dan melakukan kunjungan ke berbagai tempat bersejarah ke Masjidil Haram, masjid Nabawi, Padang Arafah, Uhud, masjid Kuba, percetakan al-Qur'an. Yang tidak kalah menariknya ketika berkunjung ke salah satu ruangan Masjid al-Haram sebuah ruangan khusus penghafal al-Qur'an. Para pelajar peserta penghafal al-Qur'an berkelompok sekitar 10 kelompok dan setiap kelompok terdiri atas 8-9 orang dan setiap kelompok didampingi oleh seorang Guru Hafidz. Satu di antara Guru Hafidz (pembimbing) berdarah Madura yang sudah lama mukim di Makkah. Ada juga kelompok penghafal al-Qur'an di tempatkan di sebuah hotel. Di sini, hanya membutuhkan waktu 2 bulan sudah bisa menghafal al-Qur'an 30 juz.
Hasil bacaan kita pada hari ini adalah menghafal al-Qur'an bisa diwujudkan. Syaratnya ikhlas, ada tekad, fokus dan disiplin serta yang lainnya sebagai penunjang. Kita berusaha meneladani para penghafal al-Qur'an, paling tidak kita memotivasi anak-anak kita, anak-anak bangsa untuk mencintai al-Qur'an, memahami, mengamalkan dan mengajarkannya.
Wallahu A'lam bishshawab
Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, 3 Mei 2016
Comments
Post a Comment