Bersama al-Qur'an (49)
(إقرأ)
Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an.
Ayat kauniah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling kita yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di alam ini.
Ayat kauniah adalah ayat
atau tanda yang wujud di sekeliling kita yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di alam ini.
"Membaca Foto Kenangan"
Sebenarnya foto ini diambil 2007 ketika kami melakukan penelitian disertasi tafsir di Universitas Al-Azhar dan beberapa lembaga di Kairo Mesir. Sebuah peristiwa yang akan selalu dikenang.
Kenangan itu terutama tertuju kepada teman yang sedang merangkul saya dengan erat, seperti tampak dalam foto, rangkulan persaudaraan dari sahabat Dr. Aksin Wijaya, teman sepenelitian, sekamar di kosan Tajammu' Awal, di pinggiran kota Kairo, Mesir. Sahabat yang berjasa mengantar saya menjadi doktor ini, kini, sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo Jawa Timur.
Kemudian saya membayangkan beberapa ulama, guru besar di Mesir yang cukup berjasa dalam perjalanan akademik kami. Di antaranya, Prof. Dr. Hassan Hanafi (Guru Besar Filsafat), Prof. Dr. Jamal Mustafa Abdul Hamid al-Najjar (Guru Besar Ilmu Tafsir), Prof. Dr. Abdul Hay al-Farmawi (Guru Besar Tafsir) اللهم اغفر له. Prof. Dr. Muhammad Daud (Guru Besar di bidang Bahasa).
Mereka, guru-guru besar ini adalah pembimbing kami selama melakukan penelitian di Mesir.
Mereka, guru-guru besar ini adalah pembimbing kami selama melakukan penelitian di Mesir.
Sebelum perkuliahan, pertemuan tatap muka dimulai, dibuat jadwal untuk disepakati terkait tempat dan waktu pertemuan selama 4 bulan berada di Mesir. Kemudian disepakatilah beberapa tempat di antaranya di Universitas al-Azhar, Asrama Mahasiswa Indonesia Mesir, Rumah Kediaman Prof. Dr. Hassan Hanafi, Pesantren di Giza, dan Cairo University sebagai tambahan. Para guru besar, pembimbing kami sangat ikhlas, disiplin, dan dermawan.
Di setiap jadwal pertemuan yang disepakati boleh dikatakan para dosen selalu tepat waktu. Hal tersebut memaksa kami untuk disiplin, mengatur jam berangkat kuliah yang menghabiskan waktu lebih dari satu jam, bahkan dua jam untuk sampai di tempat kuliah, dengan menyambung-nyambung kendaraan.
Suatu ketika, saat Prof. Mustafa al-Najjar sedang membimbing mahasiswa pascasarjana, di salah satu ruang kelas di Universitas al-Azhar, kami datang. Kami memperlihatkan diri sebagai isyarat bahwa kami sudah siap dibimbing. Gayung bersambut, pak Prof memberi isyarat bahwa kami dipersilahkan masuk lalu duduk di dekat beliau. Ini dapat dipahami bahwa Prof memenuhi janjinya, tepat waktu.
Lain lagi dengan Prof. Abdul Hay al-Farmawy, ulama tafsir maudhu'iy yang sangat sederhana. Beliau mengajar kami dengan menggunakan beberapa asrama mahasiswa Indonesia. Pak Prof sangat menghargai waktu, selalu tepat waktu. Beliau sangat enjoy dengan mobil yang dikemudikannya sendiri. Saat penutupan kuliah beliau mengundang kami makan bersama dalam satu wadah dengan menu nasi kambing. Pesannya, mahasiswa itu harus dekat dengan ulama, orang yang berilmu. Selain itu, beliau juga mengajak kami mengikuti kuliah-kuliah tafsirnya yang rutin dilaksanakan sesudah maghrib.
Lain lagi dengan Prof. Abdul Hay al-Farmawy, ulama tafsir maudhu'iy yang sangat sederhana. Beliau mengajar kami dengan menggunakan beberapa asrama mahasiswa Indonesia. Pak Prof sangat menghargai waktu, selalu tepat waktu. Beliau sangat enjoy dengan mobil yang dikemudikannya sendiri. Saat penutupan kuliah beliau mengundang kami makan bersama dalam satu wadah dengan menu nasi kambing. Pesannya, mahasiswa itu harus dekat dengan ulama, orang yang berilmu. Selain itu, beliau juga mengajak kami mengikuti kuliah-kuliah tafsirnya yang rutin dilaksanakan sesudah maghrib.
Berbeda dengan Prof. Al-Farmawy, Prof. Hassan Hanafi, mengajar di rumahnya dan mengajak kami ke kampusnya, Cairo Univerrsity. Di kampus ini suasananya sama dengan PT di Indonesia. Laki-laki dan perempuan kuliah bersama dalam satu kelas yang sama. Berbeda dengan di Universitas al-Azhar, mahasiswa terpisah dari mahasiswi.
Sebagaimana yang lainnya, Prof. Hassan Hanafi juga sangat disiplin. Kami menyaksikan dan merasakan sendiri hal itu. Saat mahasiswa mempresentasikan proposal masing-masing, pak Prof sangat memperhatikan kalimat per kalimat dan mengevaluasinya dengan sangat teliti.
Kalau di Giza kami dibimbing Prof Daud. Guru besar bahasa ini, selain pimpinan pesantren, beliau juga guru tarekat. Sebelum dan sesudah kuliah kami disuguhi makanan dan minuman aneka rupa.
Kalau di Giza kami dibimbing Prof Daud. Guru besar bahasa ini, selain pimpinan pesantren, beliau juga guru tarekat. Sebelum dan sesudah kuliah kami disuguhi makanan dan minuman aneka rupa.
Membaca foto dapat menginspirasi seseorang, terutama bagi si pemilik foto untuk mengungkap atau menyampaikan pesan yang ada di balik foto. Kalau boleh kita berkata, foto adalah dokumen yang syarat informasi.
Foto seperti tampak oleh pembaca sebagaimana telah dikemukakan adalah foto penulis saat berada di Mesir. Berfoto di depan patung besar, Sphinx, patung singa berkepala manusia, patung monumental, patung kerajaan pertama yang benar-benar kolosal di Mesir, dikenal sebagai The Great Sphinx of Giza, merupakan sphinx terbesar dan paling terkenal. Sphinx ini terletak di dataran tinggi Giza, di pinggiran Kairo dan merupakan bagian dari kompleks piramida kuno Giza. Sphinx Giza, yang memiliki panjang 73,5 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 20 meter merupakan struktur batu tunggal terbesar di dunia. Menurut sebuah sumber patung ini dibangun sekitar 4.600 tahun yang lalu. Karya monumental ini mendorong kita untuk membaca ulang beberapa ayat al-Qur'an yang menggambarkan kemampuan dan keahlian manusia membuat karya monumental sebagai bukti kebesaran Allah SWT, kebenaran al-Qur'an. Surah al-Fajr : 6-9 menginformasikan :
(6). أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum `Aad?,
(7). إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ
(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,
(8). الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ
yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,
(9). وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ
dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum `Aad?,
(7). إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ
(yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,
(8). الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ
yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,
(9). وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ
dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.
Berkaitan dengan karya-karya monumental pada masa Fir'aun Sepeti piramida, patung Sphinx yang masih berdiri kokoh di Mesir sudah digambarkan al-Qur'an. Di antara ayat itu, surah al-Qashash, 38 :
فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا
فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا
Artinya : Fir'aun berkata : Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi.
Sebahagian ahli tafsir memahami ayat ini menunjukkan rahasia dari teknologi konstruksi yang digunakan di masa Fir'aun untuk bangunan tinggi sebuah monumen seperti disebutkan, "buatkanlah untukku bangunan yang tinggi". Teknik ini didasarkan pada lumpur dan panas seperti dalam ayat: “Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat".
Sebahagian ahli tafsir memahami ayat ini menunjukkan rahasia dari teknologi konstruksi yang digunakan di masa Fir'aun untuk bangunan tinggi sebuah monumen seperti disebutkan, "buatkanlah untukku bangunan yang tinggi". Teknik ini didasarkan pada lumpur dan panas seperti dalam ayat: “Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat".
والله اعلم باالصواب
Ternate, 20 Agustus 2017
Comments
Post a Comment