Bersama al-Qur'an (46)
Bacalah (إقرأ)
"Membaca Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah".
Ayat Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Sedangkan Ayat Kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah swt. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini.
"Ayam Mengeram"
Teman-teman fb yang berbahagia, hari ini saya mengajak kita semua untuk membaca "Ayam yang Sedang Mengerami Telurnya". Allah swt menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia. Semua ciptaan Allah mengandung pelajaran yang bermanfaat bagi orang yang menggunakan pikirannya.
Beberapa pelajaran tersebut sebagai berikut :
Proses Pengeraman :
1. Telur-telur yang akan dierami diletakkan, diatur sebelum didekami,
diduduki (perencanaan yang baik)
2. Saat ayam mulai mengerami, duduk mendekami untuk memanasi
telurnya, Ia mulai mengurangi gerakan (disiplin)
3. Ayam sangat disiplin memanaskan telurnya. Ia tidak meninggalkan
telur-telur itu membuatnya tidak punya banyak kesempatan mencari
makan sehingga berat badannya berkurang (pengorbanan).
4. Telur-telur yang dierami dibolak-balik hingga panasnya merata (adil,
tidak diskriminatif).
5. Selama 3 minggu sekitar 21 hari, ayam mengerami telurnya dengan
penuh kesabaran (kesabaran)
6. Meninggalkan telur busuk yang tidak jadi dan merawat anak-
anak ayam yang sudah jadi walaupun hanya satu atau dua ekor (arif,
sadar dan realistis)
7. Si induk ayam melindungi anak-anaknya yang baru lahir. Jika ada
seseorang yang berusaha mendekati atau menyentuhnya, si induk
ayam akan melawannya (melindungi).
8. Induk ayam menyatukan anak-anaknya ke manapun ia pergi. Jika
ada salah satu dari anak ayam itu keluar dari barisan, si induk ayam
akan memanggil dan mencarinya (persatuan).
9. Si induk ayam tidak akan melepaskan, meninggalkan anak-anaknya
sebelum mereka bisa mandiri, mencari makan sendiri, bisa
melindungi dirinya sendiri (Bimbingan).
Proses Pengeraman :
1. Telur-telur yang akan dierami diletakkan, diatur sebelum didekami,
diduduki (perencanaan yang baik)
2. Saat ayam mulai mengerami, duduk mendekami untuk memanasi
telurnya, Ia mulai mengurangi gerakan (disiplin)
3. Ayam sangat disiplin memanaskan telurnya. Ia tidak meninggalkan
telur-telur itu membuatnya tidak punya banyak kesempatan mencari
makan sehingga berat badannya berkurang (pengorbanan).
4. Telur-telur yang dierami dibolak-balik hingga panasnya merata (adil,
tidak diskriminatif).
5. Selama 3 minggu sekitar 21 hari, ayam mengerami telurnya dengan
penuh kesabaran (kesabaran)
6. Meninggalkan telur busuk yang tidak jadi dan merawat anak-
anak ayam yang sudah jadi walaupun hanya satu atau dua ekor (arif,
sadar dan realistis)
7. Si induk ayam melindungi anak-anaknya yang baru lahir. Jika ada
seseorang yang berusaha mendekati atau menyentuhnya, si induk
ayam akan melawannya (melindungi).
8. Induk ayam menyatukan anak-anaknya ke manapun ia pergi. Jika
ada salah satu dari anak ayam itu keluar dari barisan, si induk ayam
akan memanggil dan mencarinya (persatuan).
9. Si induk ayam tidak akan melepaskan, meninggalkan anak-anaknya
sebelum mereka bisa mandiri, mencari makan sendiri, bisa
melindungi dirinya sendiri (Bimbingan).
Apa kata al-Qur'an berkaitan pelalajaran, informasi yang tidak tertulis dari seekor ayam yang sedang mengerami telurnya.
Pertama, perencanaan yang baik. Al-Qur'an merekomendasikan kepada orang yang beriman bahwa hendaknya mereka membuat perencanaan yang baik sebelum melaksanakan suatu kegiatan. QS. al-Hasyr ayat 18 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Sebahagian ahli tafsir menafsirkan bahwa ayat tersebut berbicara mengenai perencanaan. Kata “waltandzur nafsun maa qaddamat lighad" mempunyai arti bahwa manusia harus memikirkan terhadap dirinya dan merencanakan dari segala apa yang menyertai perbuatan selama hidupnya, sehingga ia akan memperoleh kenikmatan dalam kehidupan ini.
Kedua, disiplin. QS. al-Fajri, al-Dhuha, al-'Ashr
Islam mengajarkan kita agar benar-benar memperhatikan dan mengaplikasikan nilai-nilai kedisplinan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun kualitas kehidupan pribadi, sosial yang lebih baik.
Islam mengajarkan kita agar benar-benar memperhatikan dan mengaplikasikan nilai-nilai kedisplinan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun kualitas kehidupan pribadi, sosial yang lebih baik.
Dalam banyak ayat, Allah bersumpah dengan waktu. Lihat misalnya, Wal-fajri (demi waktu Subuh), wadh-dhuhâ (demi waktu pagi), wal-‘ashr (demi waktu sore), atau wal-lail (demi waktu malam). Ayat-ayat ini mengandung makna perintah untuk memperhatikan dan menggunakan waktu sebaik-baiknya.
Ketiga, pengorbanan, QS. al-An'am : 162 :
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya : Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Ayat tersebut dapat dimaknai bahwa pengorbanan adalah esensi keimanan. Artinya, setiap orang beriman harus siap secara total untuk menyerahkan dan mengorbankan segala ”milik” nya untuk Allah semata.
Ayat tersebut dapat dimaknai bahwa pengorbanan adalah esensi keimanan. Artinya, setiap orang beriman harus siap secara total untuk menyerahkan dan mengorbankan segala ”milik” nya untuk Allah semata.
Keempat, adil, tidak diskriminatif, QS. al-Maidah : 8 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Kelima, kesabaran, QS. al-Anfal : 46 :
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya : Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
QS. al-Baqarah : 156 :
QS. al-Baqarah : 156 :
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا ِللهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya : Orang sabar itu adalah orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun".
QS. al-Insan : 24 :
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Artinya : Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.
QS. Thaha : 132 :
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
Artinya : Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberi rizki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakqwa.
Keenam, arif, bijaksana, QS. al-Nahl : 125 :
] ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ketujuh, melindungi, QS. al-Tahrim : 6 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Ayat tersebut dapat dimaknai bahwa melindungi anak sebagaimana yang dicontohkan ayam yang mengeram, amatlah penting. Sebagai orangtua, guru berkewajiban memberikan pendidikan, pengajaran yang baik terhadap anak-anak dan murid-murid mereka. Pendidikan ini sekaligus menjadikan si anak menjadi anak yang berpengetahuan, berakhlak sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang tercelah. Al-Thabary memaknai ayat itu bahwa orangtua mengajari dirinya dan keluarganya tentang perbuatan baik, amal ketaatan, sehingga jauh dari neraka (yang menjauhkan diri dari neraka)
Ayat tersebut dapat dimaknai bahwa melindungi anak sebagaimana yang dicontohkan ayam yang mengeram, amatlah penting. Sebagai orangtua, guru berkewajiban memberikan pendidikan, pengajaran yang baik terhadap anak-anak dan murid-murid mereka. Pendidikan ini sekaligus menjadikan si anak menjadi anak yang berpengetahuan, berakhlak sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang tercelah. Al-Thabary memaknai ayat itu bahwa orangtua mengajari dirinya dan keluarganya tentang perbuatan baik, amal ketaatan, sehingga jauh dari neraka (yang menjauhkan diri dari neraka)
Kedelapan, persatuan, QS. al-Hujurat : 13 :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Dari ayat tersebut dapat dimaknai bahwa untuk membina persatuan dan kesatuan modalnya adalah harus saling mengenal, saling menghargai, dan bertoleransi di antara sesama. Bukan saling menutup diri, melecehkan, menghina, membangga-banggakan diri, menganggap diri yang paling benar. Ketika orang sudah saling menghargai maka akan terjalin komunikasi yang harmoni dan saling menebarkan cinta dan kasih sayang.
Kesembilan, bimbingan.
Al-Qur'an menggambarkan manusia memiliki berbagai macam sifat kekurangan. Sifat-sifat tersebut membutuhkan bimbingan agar manusia tidak tersesat.
Pertama, manusia itu lemah, QS. al-Nisa : 28
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Artinya : Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.
Kedua, manusia itu gampang terperdaya. QS. al-Infithar : 6
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ
Artinya : Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.
Ketiga, manusia itu lalai, QS. al-Takatsur : 1
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Artinya : Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
Artinya : Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
Keempat, manusia itu penakut, QS. al-Baqaran : 155 :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Kelima, manusia itu tergesa-gesa, QS. al-Isra : 11
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
Artinya : Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.
Keenam, manusia itu suka membantah,QS. al-Nahl : 4
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ
Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.
Ketujuh, manusia itu suka berlebih-lebihan, QS. Yunus : 12
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya : Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.
QS. al-'Alaq : 6
QS. al-'Alaq : 6
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ
Artinya : Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
Artinya : Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
Kedelapan, manusia itu pelupa,QS. al-Zumar : 8
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْل
Artinya : Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu.
Kesembilan, manusia itu suka berkeluh-kesah, QS. al-Ma'arij : 20
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Artinya : Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.
Kesepuluh, manusia itu kikir, QS. al-Isra : 100
قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا
قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا
Artinya : Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir.
Kesebelas, manusia itu suka kufur nikmat, QS. al-Zukhruf : 15
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ
Artinya : Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).
Keduabelas, manusia itu zalim dan bodoh,QS. al-Ahzab : 72
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,
Mengakhiri tulisan ini, penulis ingin menegaskan bahwa di sekitar kita tentu banyak guru yang tidak berbicara dengan berkata-kata yang memberikan kita pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya adalah ayam yang sedang mengerami telurnya. Ia mengajarkan kepada kita pentingnya sebuah perencanaan, kedisiplinan, pengorbanan, keadilan, kesabaran, kearifan, kebutuhan terhadap bimbingan
Pembelajaran itu adalah pengajaran bersumber dari Allah swt. Allahlah yang menciptakan segala sesuatu untuk kita tadabburi, kita ambil hikmahnya dan kita berusaha mengimplementasikan dalam kehidupan kita. Sebenarnya pembelajaran yang lebih awal adalah pembelajaran bagi Qabil.
Ketika Qabil (putra nabi Adam as) kebingungan, kesulitan bagaimana cara menguburkan saudaranya, Habil, lalu Allah mengirim burung untuk mengajarinya. Ini digambarkan Allah dalam al-Qur'an. Surah al-Maidah : 31
Ketika Qabil (putra nabi Adam as) kebingungan, kesulitan bagaimana cara menguburkan saudaranya, Habil, lalu Allah mengirim burung untuk mengajarinya. Ini digambarkan Allah dalam al-Qur'an. Surah al-Maidah : 31
فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ
Artinya : Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.
Tulisan ini diilhami sebuah status singkat berbahasa Inggeris dari seorang teman fb dari Kano, Nigeria. Isi status itu kami ramu dengan uraiaian ayat-ayat al-Qur'an. Dan terbukti, ayat kauniyah bermunasabah dengan ayat qauliyah.
Moga bermanfaat bagi pembaca budiman.
Wallahu a'lam bi al-shawab
Ternate, 08 Maret 2017
Comments
Post a Comment