Bersama al-Qur'an (45)
Bacalah (إقرأ)
"Membaca Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah".
Ayat Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Sedangkan Ayat Kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah swt. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini.
"Memperkuat Metodologi Pemikiran Islam dalam Memahami Nilai-Nilai Keislaman"
Teman-teman fb yang berbahagia. Dua nomor "Bersama al-Qur'an" yang lalu (42 dan 43) kita telah membaca dua kuliah umum, masing-masing disampaikan, pertama, oleh Staf Khusus Kementerian Riset dan Tehnologi dan Pendidikan Tinggi dan kedua, oleh Menteri Pemuda dan Olahraga.
Hari ini kita akan membaca "Kuliah Umum" yang ketiga yang disampaikan oleh Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA, Ph.D, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta masa bakti 2016-2020.
Tema : Memperkuat Metodologi Pemikiran Islam dalam Memahami Nilai-Nilai Keislaman"
Tempat : Aula Babullah IAIN Ternate, Kamis, 02 Maret 2017.
Tema : Memperkuat Metodologi Pemikiran Islam dalam Memahami Nilai-Nilai Keislaman"
Tempat : Aula Babullah IAIN Ternate, Kamis, 02 Maret 2017.
Selain kuliah umum, kita juga akan membaca biodata Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA, Ph.D (selanjutnya disebut Pak Prof) dan hasil diskusi ringan dengan beliau di ruangan Rektor bersama Rektor IAIN, para wakil rektor, direktur pasca, para dekan di lingkungan IAIN Ternate
Pak Prof lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, tahun 1960. Belajar di pondok pesantren Tremas Pacitan (1972-1978) dan al- Munawwir Krapyak Yogyakarta (1978-1979). Meraih gelar Bachelor of Art (BA),
Fakultas Filsafat UGM (1986) dan Doktorandus di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1982 dan 1987).
Fakultas Filsafat UGM (1986) dan Doktorandus di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1982 dan 1987).
Pak Prof. mengikuti Program Pembibitan Calon Dosen IAIN se-Indonesia (Semarang, 1988-1989). Meraih gelar Master of Art (MA) dari Islamic Studies di McGill University, Montreal, Kanada (1993), dan Ph.D tahun 2002.
Visiting Researcher/Scholar di Harvard Law School (2002-2004). Dosen Islamic Studies di Comparative Department, Tufts University, Massachussetts, USA (2004-2005). Anggota American Assosiation of University Professors (2005-2006).
Visiting Researcher/Scholar di Harvard Law School (2002-2004). Dosen Islamic Studies di Comparative Department, Tufts University, Massachussetts, USA (2004-2005). Anggota American Assosiation of University Professors (2005-2006).
Pak Prof. adalah penulis artikel yang produktif. Ketika ditanya bagaimana kiat bisa menulis banyak artikel, kuncinya kata beliau, "jihad ilmiah"
Maksudnya, setelah shalat tahajjud tidak langsung tidur. Tetapi, dilanjutkan dengan ijtihad atau kerja pikir, membaca buku. Kemudian, hasil membaca dituangkan dalam satu hingga dua lembar tulisan. Itu namanya jihad ilmiah. Kalau itu dilakukan setiap hari, dalam satu tahun akan diperoleh ratusan lembar tulisan artikel. Kalau ini dilakukan secara kontinyu, akan terjadi perubahan sejarah.
Selama ini kelemahan umat Islam memahami tahajjud hanya pada shalat. Tidak dilanjutkan dengan ijtihad dan jihad. Jihad itu ada bermacam-macam, ada jihad ekonomi, politik, lingkungan, dan lain-lain. Tetapi, yang saya lakukan yang saya suka, yaitu jihad ilmiah.
Maksudnya, setelah shalat tahajjud tidak langsung tidur. Tetapi, dilanjutkan dengan ijtihad atau kerja pikir, membaca buku. Kemudian, hasil membaca dituangkan dalam satu hingga dua lembar tulisan. Itu namanya jihad ilmiah. Kalau itu dilakukan setiap hari, dalam satu tahun akan diperoleh ratusan lembar tulisan artikel. Kalau ini dilakukan secara kontinyu, akan terjadi perubahan sejarah.
Selama ini kelemahan umat Islam memahami tahajjud hanya pada shalat. Tidak dilanjutkan dengan ijtihad dan jihad. Jihad itu ada bermacam-macam, ada jihad ekonomi, politik, lingkungan, dan lain-lain. Tetapi, yang saya lakukan yang saya suka, yaitu jihad ilmiah.
Kalau mau maju kata pak Prof, ummat Islam tidak boleh terpaku pada ilmu-ilmu sosial (social science) yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan sosialnya, metafisika, teologi yaitu studi atas Tuhan, agama dan spritual, tetapi ummat Islam harus belajar natural science atau ilmu pengetahuan alam, fisika, ilmu pasti dan cabang-cabangnya. Pak Prof menyebut satu kaidah ushul fiqhi berkaitan dengan perintah dan perantaranya (wasilah). Ada perintah yang tidak dapat terwujud tanpa adanya perbuatan-perbuatan lain yang mendahuluinya atau alat-alat tertentu untuk dapat melaksanakan perintah-perintah tersebut.
Perbuatan-perbuatan lain atau alat-alat tertentu disebut wasilah (perantara)
الأمر بالشيئ أمر بوسائله
“Memerintahkan sesuatu berarti memerintahkan pula seluruh wasilahnya”
Pak Prof menyebut ayat tentang perintah wajib melaksanakan haji :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ
Artinya : Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah.
Wasilah haji di antaranya adalah kendaraan berupa kendaraan roda empat dan pesawat. Artinya, perintah bagi ummat Islam untuk melaksanakan haji berarti juga perintah bagi ummat Islam untuk menggunakan dan menciptakan kendaraan, pesawat. Tetapi kenyataannya ilmu ini diambil dan dikuasai oleh Eropa, Amerika, Jepang. Inilah kelemahan ummat Islam yang menganakemaskan ilmu sosial.
Perbuatan-perbuatan lain atau alat-alat tertentu disebut wasilah (perantara)
الأمر بالشيئ أمر بوسائله
“Memerintahkan sesuatu berarti memerintahkan pula seluruh wasilahnya”
Pak Prof menyebut ayat tentang perintah wajib melaksanakan haji :
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ
Artinya : Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah.
Wasilah haji di antaranya adalah kendaraan berupa kendaraan roda empat dan pesawat. Artinya, perintah bagi ummat Islam untuk melaksanakan haji berarti juga perintah bagi ummat Islam untuk menggunakan dan menciptakan kendaraan, pesawat. Tetapi kenyataannya ilmu ini diambil dan dikuasai oleh Eropa, Amerika, Jepang. Inilah kelemahan ummat Islam yang menganakemaskan ilmu sosial.
Pak Prof lanjut menjelaskan, sarjana IAIN, sarjana Islam sebaiknya selain menjadi ahli agama, kyai, juga bisa ekonomi, teknik dan lain-lain. Pak Prof menganalogikan nabi Nuh dan sejatinya menjadi panutan, sebagai Kyai dan sarjana teknik perkapalan, demikian juga nabi Sulaiman, nabi Yusuf selain Kyai juga mempunyai keahlian masing-masing. Pak Prof menganalogikan IAIN menjadi satu dengan ITB atau menyatukan IAIN dengan ITB.
Terkait pesan al-Qur'an, Pak Prof menjelaskan dalam memahami ayat al-Qur'an kita boleh berbeda. Al-Qur'an terbuka untuk ditafsirkan. Namun dalam menafsirkan ayat harus didukung ilmu ushul fiqhi dan ilmu-ilmu bantu lainnya. Pak Prof yang menguasai bahasa Arab, Inggeris dan Prancis ini mencontohkan penafsiran terhadap surah al-Dhuha, ayat 4 :
وللآخرة خير لك من الاولى.
Artinya : Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
Tafsir-tafsir klasik seperti karya al-Thabary, Ibnu Katsir, Ibnu 'Asyur dan lain-lain memaknai kata الأخرة (al-Akhirah) dengan alam akhirat sedangkan kata الأولى (al-U-la) dengan alam dunia. Sedangkan menurut pak Prof, kedua kata itu dapat dimaknai dengan konteks dunia. Pak Prof mencontohkan gelar Doktor (al-Akhirah) adalah lebih baik dari sebelumnya yaitu gelar Magister (al-U-la). Guru Besar yang menjabat rektor lanjut Pak Prof, lebih baik dari Guru Besar yang tidak punya jabatan. Demikian seterusnya, sehingga konsep akhirat ini tidak pernah berhenti untuk diberi makna baru sesuai dengan kondidisinya.
وللآخرة خير لك من الاولى.
Artinya : Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
Tafsir-tafsir klasik seperti karya al-Thabary, Ibnu Katsir, Ibnu 'Asyur dan lain-lain memaknai kata الأخرة (al-Akhirah) dengan alam akhirat sedangkan kata الأولى (al-U-la) dengan alam dunia. Sedangkan menurut pak Prof, kedua kata itu dapat dimaknai dengan konteks dunia. Pak Prof mencontohkan gelar Doktor (al-Akhirah) adalah lebih baik dari sebelumnya yaitu gelar Magister (al-U-la). Guru Besar yang menjabat rektor lanjut Pak Prof, lebih baik dari Guru Besar yang tidak punya jabatan. Demikian seterusnya, sehingga konsep akhirat ini tidak pernah berhenti untuk diberi makna baru sesuai dengan kondidisinya.
Dari hasil bacaan ini mungkin kita dapat berkata :
1. Kalau kita menerima pendapat, pandangan pak Prof memaknai al-Qur'an surah al-Dhuha ayat 4, maka kita tentu berupaya melakukan sesuatu yang terbaik dalam kehidupan ini. Apa yang kita lakukan hari ini (akhirat) harus lebih baik dari hari kemarin, sebelumnya yang bisa kita sebut yang pertama atau permulaan (al-U-la). Kata akhirat dan al-U-la ini tidak akan pernah berhenti untuk dimaknai. Artinya dalam setiap kita beraktivitas selalu terkait denga al-Akhirat dan al-U-la. Dan al-Akhirat kita harus lebih baik dari al-U-la kita.
2. Istilah Pak Prof menyatukan IAIN dengan ITB (metafisika dan fisika) mungkin dapat juga dimaknai bahwa tidak ada ilmu yang dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, sebagai orangtua, guru, kakak, agar anak kita, murid kita, adik kita bisa kompetitif, mandiri hendaknya kita dorong mereka bahwa disiplin ilmu yang ditekuni hendaknya diboboti dengan ilmu lain yang mendukung. Tidak ada ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, ia berkaitan dengan ilmu lainnya.
1. Kalau kita menerima pendapat, pandangan pak Prof memaknai al-Qur'an surah al-Dhuha ayat 4, maka kita tentu berupaya melakukan sesuatu yang terbaik dalam kehidupan ini. Apa yang kita lakukan hari ini (akhirat) harus lebih baik dari hari kemarin, sebelumnya yang bisa kita sebut yang pertama atau permulaan (al-U-la). Kata akhirat dan al-U-la ini tidak akan pernah berhenti untuk dimaknai. Artinya dalam setiap kita beraktivitas selalu terkait denga al-Akhirat dan al-U-la. Dan al-Akhirat kita harus lebih baik dari al-U-la kita.
2. Istilah Pak Prof menyatukan IAIN dengan ITB (metafisika dan fisika) mungkin dapat juga dimaknai bahwa tidak ada ilmu yang dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, sebagai orangtua, guru, kakak, agar anak kita, murid kita, adik kita bisa kompetitif, mandiri hendaknya kita dorong mereka bahwa disiplin ilmu yang ditekuni hendaknya diboboti dengan ilmu lain yang mendukung. Tidak ada ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, ia berkaitan dengan ilmu lainnya.
Wallahu a'lam bi al-shawab
Ternate, 04 Maret 2017
Comments
Post a Comment