Bersama al-Qur'an (38)
اقرأ
"Bergembira"
Beberapa hari lalu, 06 Juli 2016 ummat Islam di berbagai penjuru dunia termasuk di Indonesia merayakan hari Raya Ied al-Fithri. Hari raya ini menunjukkan berakhirnya bulan ramadhan 1437 H. Hari Raya Ied al-Fithri adalah hari bergembira bagi kaum muslim Kegembiraan itu dirasakan mulai dari golongan anak-anak sampai orang dewasa. Ada yang bergembira dengan makanan, ada yang bergembira dengan minuman, ada yang bergembira dengan pakaian baru. Kegembiraan dalam bentuk ini terutama ditampakkan oleh golongan anak-anak (kegembiraan tingkat anak-anak). Kegembiraan seperti itu tidak dilarang agama selama ia tidak berlebihan.
QS. Al-A'raf : 31-32 :
QS. Al-A'raf : 31-32 :
۞ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
Artinya : "Wahai anak-anak Adam! Pakailah pakaian kamu yang indah berhias pada tiap-tiap kali kamu ke tempat ibadah (atau mengerjakan salat) dan makanlah serta minumlah, dan jangan pula kamu melampaui sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
Ada juga yang bergembira dengan amal-amal agung dan ada yang bergembira dengar ridha Allah swt serta ada yang bergembira karena berada di jalan kebahagiaan telah berhasil melaksanakan puasa dengan baik. Ini berarti bahwa kegembiraan itu bermacam-macam sekaligus menunjukkan bahwa Allah memberikan kenikmatan dan keberkahan kepada hamba-hamba-Nya di hari raya Ied al- Fithri.
Di kampung tempat kelahiran saya, Tinambung Kab Polman Propinsi Sulawesi Barat dan tentu juga di berbagai pelosok nusantara, selain kegembiraan yang disebutkan, kegembiraan lain yang dirasakan pada hari raya Ied al-Fithri adalah kegembiraan silaturrahim, ketemu dengan orangtua, keluarga dekat, sanak famili, teman- teman SMA/SPIAIN, PGA/SMP, teman-teman SD dan teman-teman sepermainan. Boleh jadi dengan silaturrahim inilah tradisi mudik di Tanah Air setiap tahunnya semakin semarak.
Rasa haru bercampur gembira dan tangis saat ketemu dengan orangtua atau saudara kandung orangtua yang melanjutkan posisi orangtua yang sudah meninggal. Rasa haru, gembira yang disertai tetesan air mata keikhlasan itu muncul instan ketika bertemu dengan orang yang sangat dihormati, orang yang sangat berjasa dalam hidup kita, memberi kesan dan menginspirasi masa depan kita setelah setahun, dua tahun bahkan ada yang lebih baru sempat ketemu secara fisik dengan mereka.
Rasa gembira itu meningkat menjadi sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang dimaksud di sini adalah rasa nikmat dan rasa senang. Kenikmatan dan kesenangan sangat terasa di hati. Hati menjadi tenang, hati senang, hati merasa puas telah mengungkapkan semua isi hati tentang pengalaman masa lalu, masa kanak-kanak, masa usia sekolah, masa bermain, masa berbakti kepada orangtua, kepada guru ngaji.Semuanya dapat diungkapkan secara langsung kepada keluarga, teman, kerabat yang diajak bicara. Selain itu, kebahagiaan itu juga sangat terasa ketika kita dapat menyampaikan keinginan dan harapan dan mendengar keinginan dan harapan yang sama dari mitra bicara kita, ketika kita sharing pengetahuan dan pengalaman, Subhanallah Maha Suci Allah yang membahagiakan hati ini, yang menenteramkan hati ini. Silaturrahim yang dibangun dengan sebuah penghormatan, dengan rasa syukur, dengan semangat persaudaraan adalah bahagian dari dzikrullah, mengingat Allah swt.
QS. Al-Ra'du : 28 :
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya : "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."
Sejatinya kegembiraan dan kebahagiaan itu hendaknya dipelihara, dipagari dengan dzkrullah, dengan meningkatkan kualitas ibadah. Memelihara kegembiraan dan kebahagiaan itu adalah suatu keharusan. Alasannya karena manusia itu sifatnya lemah, mengeluh dan berkeluh kesah.
QS. Al-Ma'arij : 19-21 :
إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١)
19. Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh
20. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah
21. dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir
QS. Al-Nisa' : 28
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
Artinya : "Dan manusia dijadikan bersifat lemah."
QS. Al-Isra' : 11 :
وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا
Artinya : "Dan manusia bersifat tergesa-gesa."
Kelemahan manusia yang digambarkan al-Qur'an itu mengandung makna bahwa perasaan dan predikat apapun yang disandang manusia termasuk gembira dan bahagia, sifatnya tidak abadi, tetapi bersifat sementara.
Oleh karena itu jika kita ingin selalu gembira dan merasa senang dan nikmat dalam bersilaturrahim, maka kita dalam setiap saatnya harus selalu bersama Allah swt. Kita selalu mengingat-Nya dengan meningkatkan kualitas ibadah kita.
Semoga kegembiraan dan rasa bahagia yang dirasakan di hari raya Ied al-Fithri 06 Juli 2016 yang lalu dapat pula kita rasakan pada hari ini dan pada hari-hari berikutnya. Kegembiraan itu tidak pada tingkat kegembiraan anak-anak yang sebatas makan dan minum yang baik dan halal, bukan juga pada tingkat pakaian baru, tetapi kegembiraan dengan merasa senang dan nikmat dalam ketaatan kepada Allah swt.
Wallahu A'lam bi al-Shawaab
Tinambung Polman dan Graha Lestari Makassar,
Jum'at, 03 Syawal 1437 H/08 Juli 2016 M
Jum'at, 03 Syawal 1437 H/08 Juli 2016 M
Comments
Post a Comment