Bersama al-Qur'an (33)
اقرأ
الشكر
(Syukur)
.
Syukur dapat dimaknai sebagai pengakuan lisan seorang hamba terhadap karunia Allah, dengan penuh ketulusan, ketundukan oleh hati dengan rasa cinta dan diamalkan oleh anggota tubuh. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa syukur bukan sekedar amalan lisan dan hati tetapi juga amalan anggota tubuh. Hati mewujudkan ketulusan, ketundukan dan kecintaan kepada Allah, lisan melakukan pengakuan dan pujian kepada Allah. Sementara anggota tubuh melaksanakan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah dalam bentuk nyata, kongkrit.
(Syukur)
.
Syukur dapat dimaknai sebagai pengakuan lisan seorang hamba terhadap karunia Allah, dengan penuh ketulusan, ketundukan oleh hati dengan rasa cinta dan diamalkan oleh anggota tubuh. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa syukur bukan sekedar amalan lisan dan hati tetapi juga amalan anggota tubuh. Hati mewujudkan ketulusan, ketundukan dan kecintaan kepada Allah, lisan melakukan pengakuan dan pujian kepada Allah. Sementara anggota tubuh melaksanakan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah dalam bentuk nyata, kongkrit.
Ketulusan, keikhlasan hati adalah merupakan pondasi sekaligus menjadi kekuatan pendorong yang selalu harus bersinergi dengan lisan yang selalu memuji dengan amalan anggota tubuh untuk memproduksi amal-amal saleh. Ketika amalan hati, ikhlas, rasa cinta dan amalan lisan berupa pujian kepada Allah swt berpadu satu dengan amalan anggota tubuh maka akan menghasilkan amal-amal yang berkualitas, amal-amal yang semata-mata dikerjakan karena Allah swt.
Amalan hati tersebut dan amalan anggota tubuh inilah yang menjadi sasaran penilaian Allah swt. Salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Muslim :
«إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم
Hadis ini mengandung pesan bahwa Allah tidak menilai bentuk tubuh seseorang, apakah ia cantik atau jelek, besar atau kecil, sehat atau sakit. Allah juga tidak menilai harta benda. Yang dinilai Allah adalah hati dan amal-amal perbuatan manusia.
«إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم
Hadis ini mengandung pesan bahwa Allah tidak menilai bentuk tubuh seseorang, apakah ia cantik atau jelek, besar atau kecil, sehat atau sakit. Allah juga tidak menilai harta benda. Yang dinilai Allah adalah hati dan amal-amal perbuatan manusia.
Ayat-ayat al-Qur'an yang menunjukkan bahwa syukur adalah tindakan nyata, amalan fisik seperti firman Allah pada QS. Al-Baqarah : 172 :
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami rezekikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah."
Ayat yang lain QS. Al-Zumar : 66 :w
بل الله فاعبد وكن من الشاكرين
Artinya : "Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur."
Ayat pertama tentang perintah makan yang baik-baik dikaitkan dengan ibadah sebagai bentuk nyata dari syukur. Sedangkan ayat kedua mengandung pesan jika kita termasuk orang bersyukur hendaklah kita melakukan sebuah tindakan nyata yaitu menyembah Allah.
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami rezekikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah."
Ayat yang lain QS. Al-Zumar : 66 :w
بل الله فاعبد وكن من الشاكرين
Artinya : "Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur."
Ayat pertama tentang perintah makan yang baik-baik dikaitkan dengan ibadah sebagai bentuk nyata dari syukur. Sedangkan ayat kedua mengandung pesan jika kita termasuk orang bersyukur hendaklah kita melakukan sebuah tindakan nyata yaitu menyembah Allah.
Syukur berkaitan dengan sesuatu. Misalnya kita bersyukur kepada Allah swt atas berbagai nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita, di antaranya berupa nikmat kesehatan. Kesyukuran itu bisa dalam berbagai bentuk. Dalam bentuk ibadah langsung kepada Allah seperti mengerjakan salat, berpuasa. Boleh dalam bentuk ibadah sosial misalnya membantu anak yatim membiayai sekolahnya atau membantu tetangga yang sedang memperbaiki pagarnya. Ini semua dilakukan sebagai wujud terimakasih dan kepatuhan kepada Allah yang telah memberi nikmat kesehatan. Nikmat kesehatan itu difungsikan ke jalan yang benar, ke jalan yang bermanfaat. Dari sisi ini setiap orang sejatinya selalu bersyukur kepada Allah swt yang tiada henti memberi nikmat kepada manusia.
Ketika kita bersyukur kepada Allah manfaatnya bukan untuk orang lain tetapi kembali kepada diri kita sendiri. Dengan bersyukur kita akan terjaga dari kegelisahan. Ketika kita bersyukur kita menerima pemberian Allah dan menikmati pemberian itu sambil melakukan amalan-amamalan terpuji. Pada saat yang sama kita tidak akan memaksakan diri berangan-angan terhadap sesuatu yang belum diterima. Kita tulus menerima itu semua sebagai wujud kepatuhan kepada Allah
Selain itu, dengan syukur kita akan memperoleh tambahan nikmat, boleh dalam bentuk zdahir. Seorang dosen yang pandai bersyukur misalnya, ia selalu ikhlas mengajarkan ilmunya dan sebagai tambahan nikmat yang diperolehnya, ia menjadi nara sumber pada berbagai seminar dan menerima imbalan materi yang tidak sedikit dari pihak penyelenggara. Boleh juga dalam bentuk yang lain. Ketika kita bersyukur hati menjadi semakin tenang dan tenteram, keluarga hidup semakin rukun dan damai, anak-anak selalu berprestasi.
Selain itu, dengan syukur kita akan memperoleh tambahan nikmat, boleh dalam bentuk zdahir. Seorang dosen yang pandai bersyukur misalnya, ia selalu ikhlas mengajarkan ilmunya dan sebagai tambahan nikmat yang diperolehnya, ia menjadi nara sumber pada berbagai seminar dan menerima imbalan materi yang tidak sedikit dari pihak penyelenggara. Boleh juga dalam bentuk yang lain. Ketika kita bersyukur hati menjadi semakin tenang dan tenteram, keluarga hidup semakin rukun dan damai, anak-anak selalu berprestasi.
Dari bacaan kita tentang syukur mungkin kita dapat berkata bahwa sebagai orang mukmin sejatinya kita menjadi orang yang pandai bersyukur. Kita mensyukuri nikmat yang begitu banyak dianugerahkan Allah kepada kita. Kita bersyukur dengan amal-amal yang nyata. Baik amal yang bersifat vertikal yang ditujukan kepada Allah seperti salat dan puasa yang kita sedang laksanakan. Maupun amal yang bersifat horisontal yang ditujukan kepada sesama manusia di antaranya memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan keluarga dan masyarakat. Kita berperan dan terlibat antara lain dalam kegiatan sosial, pendidikan, dakwah, pembinaan anak-anak remaja. Bagi orang kaya misalnya, dapat menjadi sang penolong menjembatani kesenjangan sosial dalam masyarakat dengan gerakan sadaqah. Masih banyak kegiatan sosial lainnya sesuai peran yang bisa dimainkan dan relevan dengan kapasitas keilmuan dan kemampuan yang dimiliki. Kegiatan sosial tersebut boleh dilakukan melalui media sosial, facebook dan lebih efektifnya mungkin dianjurkan ketemu langsung dengan masyarakat.
Semua amalan yang kita kerjakan hendaknya lahir dari hati yang tulus ikhlas yang dirangkai dengan cinta, cinta kepada Allah, cinta kepada sesama manusia karena Allah. Rasa cinta akan merekatkan yang renggang, mendekatkan yang jauh, memudahkan yang sulit dan dengan cinta kita akan selalu saling mengasihi dan saling menyayangi karena Allah swt.
Wallahu A'lam bi al-shawaab
Ternate, 17 Juni 2016/12 Ramadhan 1437 H
Ternate, 17 Juni 2016/12 Ramadhan 1437 H
Comments
Post a Comment