Bersama al-Qur'an (31)
اقرأ
"Muhammad Ali"
Bacaan kita kali ini adalah bacaan yang tidak tertulis. Kita akan membaca seseorang yang dikenal dengan sebutan "yang paling besar." Mungkin paling besar yang dimaksudkan di sini adalah paling besar di dunia tinju karena dia adalah petinju yang kuat. Dia adalah Muhammad Ali "The Greatest." Yang menarik karena julukan yang paling besar itu justru dia tidak peroleh dari masyarakat yang selalu setia menonton ketika ia bertinju di atas ring. Julukan "the greatest" datang dari dirinya sendiri. Muhammad Alilah yang memproklamirkan dirinya sebagai petinju yang paling besar di dunia. Julukan "the greatest" kemudian betul-betul menjadi miliknya. Dunia telah mengakuinya setelah ia berhasil menjadi juara tinju dunia kelas berat tiga kali.
Sisi lainnya yang menarik dari sosok Muhammad Ali, sejak lama selama bertahun-tahun di dalam dirinya ada sesuatu yang mengganjal. Hatinya bergejolak. Rasanya ingin memberontak, ingin beraksi sebagai protes, namun dipendamnya, ia tidak berdaya.
Pertama, ketika masih usia remaja. Ia menyaksikan kehidupan masyarakat di sekitarnya bertentangan dengan hati nuraninya. Ada ketidak-adilan. Orang yang berkulit hitam, cokelat dipinggirkan sedang orang yang berkulit putih dihormati. Melihat kenyataan itu ia khawatir kelak akan mendapatkan perlakuan lebih tidak adil dari komunitas yang merendahkan orang yang berkulit hitam. Muhammad Ali (12) kemudian memutuskan terjun ke dunia tinju. Ia berharap dengan tinju kelak ia menjadi orang terhormat yang tidak mudah dilecehkan dan mengangkat derajat komunitas kulit hitam yang selalu tidak berdaya. Muhammad Ali belajar tinju dari seorang polisi bernama Joe Martin. Di tangan Joe Martinlah Muhammad Ali menemukan jati dirinya yang kemudian menjadi terkenal.
Kedua, hatinya meronta, tidak setuju ketika direkomendasikan untuk wajib militer dan harus bergabung dengan pemuda lainnya bersama pasukan Amerika melawan tentara Vietnam. Boleh jadi penolakannya disebabkan karena pada perang itu akan berdampak penderitaan orang-orang yang lemah, tidak berdaya yaitu masyarakat sipil Vietnam. Akibat penolakan itu, Muhammad Ali tidak boleh bertanding, izin bertandingnya dicabut. Konsekuensinya, Muhammad Ali tidak bisa naik ke ring tinju selama empat tahun dari tahun 1967 sampai 1970. Waktu yang cukup lama. Muhammad Ali kembali tidak berdaya.
Ketiga, gejolak hatinya berkaitan dengan keyakinan. Muhammad Ali merasakan hatinya hampa, kosong dari ketuhanan. Ia mencari dan mencari Tuhan. Akhirnya saat Muhammad Ali berusia dua puluh tahun lebih ia mendapat hidayah. Ia mengucapkan syahadat dan resmi menjadi seorang muslim. Pada saat itulah nama baptisnya (Cassius Marcellus Clay Junior) tidak digunakan lagi dan diganti dengan nama Islam "Muhammad Ali."
Ketika ditanya apa yang membuatnya tertarik menjadi muslim. Muhammad Ali menjawab “Aku belum pernah melihat begitu banyak cinta. Saling memeluk dan saling menghargai di antara mereka. Mereka mengerjakan salat 5 waktu dalam sehari. Wanita memakai pakaian yang panjang. Mereka makan dengan cara yang baik. Mereka bisa pergi ke negara manapun dengan menyapa ‘assalamu’alaikum dan dijawab wa’alikumussalam. Mereka saling mendoakan. Tidak ada diskriminasi. Mereka antara satu dengan yang lain seperti saudara sendiri. Masyarakat yang saya lihat ini adalah masyarakat Islam.
Muhammad Ali melanjutkan kesannya dan ketertarikannya kepada Islam. Ia berkata : "Dalam Islam, saya merasakan kebaikan, saya merasa nyaman, dan menikmati kebebasan. Dengan Islam saya bisa ke Arab Saudi dan beberapa negara lainnya termasuk Indonesia.
Di setiap negara yang saya kunjungi saya disambut dan diperlakukan sebagai saudara."
Di setiap negara yang saya kunjungi saya disambut dan diperlakukan sebagai saudara."
Sebagai seorang muslim, Muhammad Ali tampil sebagai sosok yang sederhana, dermawan dan memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi. Ketika ditanya tentang body guard yang akan mendampinginya, ia menjawab body guard saya tidak bisa dilihat oleh indera mata, tetapi Dialah Yang Paling Kuat. Yang dimaksudkan Muhammad Ali adalah Allah swt. Muhammad Ali tidak akan pernah takut kepada siapapun karena yang menjaganya adalah yang paling terbesar dari yang terbesar, yaitu Allah swt. Pada saat yang bersamaan "the greatest" yang disandangnya hilang seketika saat kehadiran Allah bersamanya.
Pada tahun 2005 Muhammad Ali mendirikan Muhammad Ali Center di kampung halamannya, Louisville. Tempat ini berfungsi sebaga pusat dakwah. Tempat ini juga beroperasi sebagai organisasi non-profit untuk menyebarkan ide-ide perdamaian, kesejahteraan sosial, membantu orang yang membutuhkan.
Sejak aktif di dunia sosial, Muhammad Ali telah mengunjungi banyak negara untuk membantu program kesehatan anak dan orang-orang miskin. Di antara negara yang telah ia kunjungi adalah Maroko, Pantai Gading, Indonesia, Meksiko, dll. Ia juga memperhatikan masyarakat bawah di Amerika Seirka, terutama kalangan Afrika Amerika yang sering mengalami diskriminasi.
Kini Muhammad Ali telah tiada dan dia sudah meninggalkan kita untuk selamanya.
اللهم اغفر له اللهم ثبته
Setelah membaca Muhammad Ali ada beberapa catatan yang mungkin bisa menjadi perhatian kita adalah sebagai berikut :
1. Muhammad Ali adalah seorang muslim yang baik.
2. Sebagai seorang muslim yang baik, beliau telah mengamalkan nilai-nilai Islam, nilai-nilai al-Qur'an. Dengan kesederhanaannya, keberhasilannya ia terjun ke masyarakat, berperan aktif membantu orang yang butuh bantuan sebagai bukti kepedulian, kepekaan sosial yang dimilikinya.
3. Muhammad Ali sangat memahami Islam. Sebagai juru dakwah, ia mendakwahkan Islam dengan dakwah sosial, dakwah bil hal, dakwah prilaku. Ia membantu orang banyak bukan hanya yang ada di negaranya tetapi juga membantu warga negara lain. Muhammad Ali mensosialisasikan Islam sebagai agama persaudaraan yang saling mencintai, saling menghormati.
1. Muhammad Ali adalah seorang muslim yang baik.
2. Sebagai seorang muslim yang baik, beliau telah mengamalkan nilai-nilai Islam, nilai-nilai al-Qur'an. Dengan kesederhanaannya, keberhasilannya ia terjun ke masyarakat, berperan aktif membantu orang yang butuh bantuan sebagai bukti kepedulian, kepekaan sosial yang dimilikinya.
3. Muhammad Ali sangat memahami Islam. Sebagai juru dakwah, ia mendakwahkan Islam dengan dakwah sosial, dakwah bil hal, dakwah prilaku. Ia membantu orang banyak bukan hanya yang ada di negaranya tetapi juga membantu warga negara lain. Muhammad Ali mensosialisasikan Islam sebagai agama persaudaraan yang saling mencintai, saling menghormati.
Hasil bacaan kita tentang Muhammad Ali mungkin kita boleh berkata bahwa sebagai seorang muslim siapapun kita memang sejatinya menjadi muslim yang baik, muslim yang dermawan, muslim yang memiliki kepekaan sosial dan mendakwahkan Islam sebagai agama yang sejuk, agama yang menjunjung tinggi persaudaraan, menjunjung tinggi saling menghormati.
Muslim yang baik adalah muslim yang selalu berbuat baik kepada sesama, QS. Al-Qashash : 77 :
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya : "Dan berbuat baiklah kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Muslim yang baik juga menjunjung tinggi persaudaraan, QS. Al-Hujurat : 10 :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."
Sebagai orang Islam kita menjunjung tinggi akhlak mulia sebagai pondasi dasar dalam beragama. Kita harus hindari caci-mencaci, memaki, mencemooh. Menganggap diri yang paling benar dan menganggap orang lain salah. QS. Al-Hujurat : 11-12 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zdalim."
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."
(Diolah dari berbagai sumber)
Wallahu A'lam bi al-shawab
Ternate, 14 Juni 2016 / 09 Ramadhan 1437 H
Ternate, 14 Juni 2016 / 09 Ramadhan 1437 H
Comments
Post a Comment