Bersama al-Qur'an (3)
اقرأ
اقرأ
Bacalah Hati
Bacalah Uttaran
Perintah membaca, menelaah yang direkomendasikan ayat pertama surah al'Alaq yang diawali kata Iqra' sebagaimana penjelasan (Bersama al-Qur'an (1) obyeknya boleh tertulis dan tidak tertulis. Artinya, kita juga diperintahkan membaca hati dan membaca hasil karya seseorang yang kemudian bisa dibaca melalui dialog dan gambar ditayangkan oleh stasiun TV.
Hati
Al-Qur'an (Surah Yunus: 57) menyebutkan bahwa al-Qur'an adalah obat yang terdapat dalam dada (hati). Ayat ini dapat dimaknai bahwa wahyu Allah (al-Qur'an) berfungsi menyembuhkan penyakit-penyakit dengki, sombong dan lain-lain termasuk dendam. M.Quraish Shihab menyebutkan bahwa hati adalah wadah yang menampung rasa cinta dan benci, berkehendak dan menolak. Hati juga mampu melahirkan ketenangan dan kegelisahan.
Al-Qur'an (Surah Yunus: 57) menyebutkan bahwa al-Qur'an adalah obat yang terdapat dalam dada (hati). Ayat ini dapat dimaknai bahwa wahyu Allah (al-Qur'an) berfungsi menyembuhkan penyakit-penyakit dengki, sombong dan lain-lain termasuk dendam. M.Quraish Shihab menyebutkan bahwa hati adalah wadah yang menampung rasa cinta dan benci, berkehendak dan menolak. Hati juga mampu melahirkan ketenangan dan kegelisahan.
Kita mungkin dapat berkata bahwa hati adalah sesuatu yang sangat penting yang ada pada diri manusia. Mengapa? Jawabannya kalau diibaratkan manusia adalah kendaraan maka (driver) pengemudinya adalah hati. Keselamatan penumpang dan kendaraan berhasil sampai ke tujuan tidak terlepas dari peran seorang driver. Salah satu hadis Nabi yang artinya apabila hati baik maka semua amal akan menjadi baik dan sebaliknya apabila hati rusak maka semua amal menjadi rusak.
Uttaran
Salah satu serial Bollywood (Uttaran) yang disiarkan oleh Salah satu TV Nasional sudah menjadi tontonan sebahagian masyarakat Indonesia. Serial India ini debatable. Sebahagian kalangan menganggap bahwa serial ini tidak boleh ditonton dan sebahagian lainnya membolehkan. Saya tidak akan membicarakan tentang perdebatan itu. Yang ingin saya sampaikan di sini bahwa peran yang dilakoni oleh tokoh-tokoh di serial Uttaran perlu dibaca, ditelaah bersama al-Qur'an agar kita memperoleh rahmat-Nya.
Salah satu serial Bollywood (Uttaran) yang disiarkan oleh Salah satu TV Nasional sudah menjadi tontonan sebahagian masyarakat Indonesia. Serial India ini debatable. Sebahagian kalangan menganggap bahwa serial ini tidak boleh ditonton dan sebahagian lainnya membolehkan. Saya tidak akan membicarakan tentang perdebatan itu. Yang ingin saya sampaikan di sini bahwa peran yang dilakoni oleh tokoh-tokoh di serial Uttaran perlu dibaca, ditelaah bersama al-Qur'an agar kita memperoleh rahmat-Nya.
Sumitra Devi
Nenek Tapasya (Pratima Kazmi)
Saya tidak akan mengomentari semua tokoh Uttaran. Saya hanya ingin membaca, menelaah prilaku, sifat nenek Tapasya yang sangat jahat.
Si nenek tua ini sangat pendendam. Ketika bergabung dengan Tuan Thakur (pengusaha),Sumitra Devi, nenek yang selalu merasa benar ini membenci pembantu tuan Thakur, Damini dan anaknya Ichcha. Kebencian nenek terhadap Ichcha semakin besar ketika Ichcha akan dikawini oleh Veer. Nenek tidak setuju kalau seorang anak pembantu/pelayan kawin dengan orang kaya. Nenek berniat jahat dan berusaha menggagalkan rencana pernikahan Ichcha dengan Veer. Si nenek (Sumitra Devi) menginginkan cucunyalah (Tapasya putri tuan Thakur) yang pantas bersanding dengan Veer. Usaha ini berhasil tetapi karena pernikahan ini tidak didasari oleh cinta dan kasih sayang akhirnya Veer bercerai dengan Tapasya dan kawin dengan Ichcha. Dendam si nenek tua yang jahat dan selalu membawa-bawa nama Tuhannya itu semakin menjadi-jadi. Sampai kapanpun saya akan menghancurkan hidup si pelayan dan anaknya yang tidak tahu diri itu, kata nenek Tapasya berkali-kali. Nenek Tapasya kemudian mencuri anak Veer Ichcha. Nenek Tapasya juga melaporkan Ichcha ke polisi membuat Ichcha masuk penjara tidak kurang dari 14 tahun. Karena sifat dendam nenek Tapasya, Ichcha menderita berkepanjangan dan harus berpisah dengan suaminya (Veer) yang sangat dihormati dan dicintainya. Suatu ketika Tuan Thakur tidak bisa lagi melanjutkan usahanya karena alasan kesehatan, maka management ekonomi rumah tangga tuan Thakur dikendalikan oleh anak Sumitra Devi. Nenek Tapasya menjadi nyonya besar. Dendam, penyakit hati yang sudah mendarah daging dalam diri nenek Tapasya membuatnya sangat sulit melihat kebaikan orang. Ketika kepemilikan rumah tuan Thakur diambil alih oleh Rentenir akibat anak si nenek tua yang tidak mampu membayar hutangnya, Damini ibu Ichcha (yang memiliki prinsip untuk berubah akhirnya menjadi pengusaha kaya) datang sebagai penyelamat dan rumah itu kembali dimiliki oleh tuan Thakur. Pengorbanan Damini tersebut oleh si nyonya besar tidak berarti apa-apa. Bahkan nenek tua Tapasya menuduh Damini ingin berkuasa.
Nenek Tapasya (Pratima Kazmi)
Saya tidak akan mengomentari semua tokoh Uttaran. Saya hanya ingin membaca, menelaah prilaku, sifat nenek Tapasya yang sangat jahat.
Si nenek tua ini sangat pendendam. Ketika bergabung dengan Tuan Thakur (pengusaha),Sumitra Devi, nenek yang selalu merasa benar ini membenci pembantu tuan Thakur, Damini dan anaknya Ichcha. Kebencian nenek terhadap Ichcha semakin besar ketika Ichcha akan dikawini oleh Veer. Nenek tidak setuju kalau seorang anak pembantu/pelayan kawin dengan orang kaya. Nenek berniat jahat dan berusaha menggagalkan rencana pernikahan Ichcha dengan Veer. Si nenek (Sumitra Devi) menginginkan cucunyalah (Tapasya putri tuan Thakur) yang pantas bersanding dengan Veer. Usaha ini berhasil tetapi karena pernikahan ini tidak didasari oleh cinta dan kasih sayang akhirnya Veer bercerai dengan Tapasya dan kawin dengan Ichcha. Dendam si nenek tua yang jahat dan selalu membawa-bawa nama Tuhannya itu semakin menjadi-jadi. Sampai kapanpun saya akan menghancurkan hidup si pelayan dan anaknya yang tidak tahu diri itu, kata nenek Tapasya berkali-kali. Nenek Tapasya kemudian mencuri anak Veer Ichcha. Nenek Tapasya juga melaporkan Ichcha ke polisi membuat Ichcha masuk penjara tidak kurang dari 14 tahun. Karena sifat dendam nenek Tapasya, Ichcha menderita berkepanjangan dan harus berpisah dengan suaminya (Veer) yang sangat dihormati dan dicintainya. Suatu ketika Tuan Thakur tidak bisa lagi melanjutkan usahanya karena alasan kesehatan, maka management ekonomi rumah tangga tuan Thakur dikendalikan oleh anak Sumitra Devi. Nenek Tapasya menjadi nyonya besar. Dendam, penyakit hati yang sudah mendarah daging dalam diri nenek Tapasya membuatnya sangat sulit melihat kebaikan orang. Ketika kepemilikan rumah tuan Thakur diambil alih oleh Rentenir akibat anak si nenek tua yang tidak mampu membayar hutangnya, Damini ibu Ichcha (yang memiliki prinsip untuk berubah akhirnya menjadi pengusaha kaya) datang sebagai penyelamat dan rumah itu kembali dimiliki oleh tuan Thakur. Pengorbanan Damini tersebut oleh si nyonya besar tidak berarti apa-apa. Bahkan nenek tua Tapasya menuduh Damini ingin berkuasa.
Bagaimana hasil bacaan dan telaah kita terhadap nenek Tapasya. Yang jelas bahwa Sumitra Devi sedang sakit berat. Dia sakit ruhani, dendam. Mungkin kita pernah mengenal atau menyaksikan, atau boleh jadi ada di sekitar kita sifat yang dimiliki oleh Sumitra Devi, nenek Tapasya si nyonya besar. Penyakit ini harus diobati agar pertemanan, persaudaraan antar sesama dapat dipelihara.
Al-Qur'an merekomendasikan resep untuk mengobati penyakit hati. Al-Qur'an memerintahkan untuk membaca, memahami mengamalkan firman Allah surah al-Hujurat (49) : 11-12. Kandungan ayat ini antara lain : 1. Janganlah mengolok-olok
2. Janganlah mencelah
3. Janganlah memanggil dengan sebutan atau gelar yang buruk, tidak pantas.
4. Jauhilah prasangka
5. Jangan mencari kesalahan orang
6. Jangan menggunjing
Dan sejatinya kita berusaha untuk berbuat baik, berakhlak mulia, silaturrahim dan amal-amal kebajikan lainnya, lihat Surah al-Hajj (22) : 77
2. Janganlah mencelah
3. Janganlah memanggil dengan sebutan atau gelar yang buruk, tidak pantas.
4. Jauhilah prasangka
5. Jangan mencari kesalahan orang
6. Jangan menggunjing
Dan sejatinya kita berusaha untuk berbuat baik, berakhlak mulia, silaturrahim dan amal-amal kebajikan lainnya, lihat Surah al-Hajj (22) : 77
Wallahu A'lam bishshawab
Ternate, Sabtu, 30 April 2016
Comments
Post a Comment