Bersama al-Qur'an (28)
اقرأ
شهر العبادة
(Syahru al-'Ibadah)
(Syahru al-'Ibadah)
Bacalah "Bulan Ibadah" (Puasa Ramadhan Hari Keempat)
Memasuki hari keempat puasa hari ini, shaimin dan shaimat (kaum muslimin dan muslimat yang sedang berpuasa, laki-laki dan perempuan) masing-masing berusaha menjaga puasa dengan sebaik-baiknya. Kalau kita analogikan bulan puasa (bulan ramadhan) ini dengan tamu maka sangat wajar jika kita menyebutnya dengan "tamu agung" bukan tamu biasa. Kita sebut tamu agung, tamu terhormat karena ia datang bertamu mendatangi kaum muslim sekali dalam satu tahun dengan segala kehormatan yang disandangnya. Bacaan kita Bersama al-Qur'an (25) sudah dibicarakan bahwa keagungan ramadhan karena ia datang membawa malam kemuliaan (Lailat al-Qadr), ia membawa hadiah kebaikan berlipat ganda.
Tentu saja sebagai tuan rumah kurang etis kiranya kalau kita tidak menghormati tamu. Kita berusaha memperlakukan tamu ramadhan kita itu dengan sebaik-baiknya. Kita berusaha agar tamu agung ini merasa nyaman, senang berada bersama kita.
Sesuai nama yang disandangnya sebagai bulan ibadah, maka salah satu poin penting yang menjadi perhatian kita adalah menghormatinya dengan memperbanyak ibadah di bulan yang sangat terhormat dan sangat mulia ini. Ibadah yang kita maksudkan di sini adalah ketaatan kepada Allah dalam melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Kita memposisikan diri di hadapan Allah swt sebagai manusia yang lemah, butuh bantuan-Nya.
Ibadah meliputi :
1). Di dalam hati, kita hadirkan rasa cinta dan rasa hormat. Kita mencintai apa saja yang dianugerahkan Allah kepada kita. Kita mencintai karena Allah swt. Kita mencintai sesama manusia karena Allah, kita mencintai orang tua sebagai penghormatan kepadanya yang telah berjuang mempertaruhkan segalanya demi kelahiran kita ke dunia ini. Kita juga mencintai orang yang telah berjasa kepada kita. Kita mencintai sebagai rasa hormat kita kepada guru-guru di sekolah, guru-guru ngaji, guru-guru kursus/les dan guru-guru dan pembimbing lainnya yang turut berperan dalam membentuk kita sehingga kita bisa menjadi seperti yang kita rasakan dan alami saat ini, menjadi diri sendiri. Surat Luqman (31):14 :
1). Di dalam hati, kita hadirkan rasa cinta dan rasa hormat. Kita mencintai apa saja yang dianugerahkan Allah kepada kita. Kita mencintai karena Allah swt. Kita mencintai sesama manusia karena Allah, kita mencintai orang tua sebagai penghormatan kepadanya yang telah berjuang mempertaruhkan segalanya demi kelahiran kita ke dunia ini. Kita juga mencintai orang yang telah berjasa kepada kita. Kita mencintai sebagai rasa hormat kita kepada guru-guru di sekolah, guru-guru ngaji, guru-guru kursus/les dan guru-guru dan pembimbing lainnya yang turut berperan dalam membentuk kita sehingga kita bisa menjadi seperti yang kita rasakan dan alami saat ini, menjadi diri sendiri. Surat Luqman (31):14 :
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ ١٤
Artinya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (menghormati, berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Walaupun ayat tersebut hanya menyebut kedua orangtua, selain Allah yang harus disyukuri, dihormati namun ini bukan berarti bahwa selain mereka tidak boleh disyukuri. Ada sebuah riwayat yang artinya : “Siapa yang tidak mensyukuri ( berterima kasih ) kepada manusia, maka dia tidak mensyukuri Allah."
Walaupun ayat tersebut hanya menyebut kedua orangtua, selain Allah yang harus disyukuri, dihormati namun ini bukan berarti bahwa selain mereka tidak boleh disyukuri. Ada sebuah riwayat yang artinya : “Siapa yang tidak mensyukuri ( berterima kasih ) kepada manusia, maka dia tidak mensyukuri Allah."
Dalam QS.Al-Nisa': 36 menginformasikan dalam bentuk perintah bahwa bukan hanya orangtua yang berjasa yang kita harus hargai, perhatikan, tetapi kita juga harus mencintai karena Allah mereka yang lemah yang sedang membutuhkan bantuan.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya : "Beribadahlah kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."
2). Di dalam hati, kita juga hadirkan rasa syukur, merasa puas, merasa senang tanpa ada beban, merasa nyaman terhadap nikmat yang begitu banyak yang Allah berikan kepada kita. Nikmat Allah itu tidak pernah terputus sedetikpun selama hayat masih dikandung badan. QS.Al-Baqarah : 152 :
واشكروا لى ولا تكفرون
Artinya : Dan bersyukurlah kepada-aku, dan janganlah kamu mengingkari ((nikmatku)-Ku.
واشكروا لى ولا تكفرون
Artinya : Dan bersyukurlah kepada-aku, dan janganlah kamu mengingkari ((nikmatku)-Ku.
3). Selain yang telah dikemukakan, kita juga hadirkan dalam hati sebuah harapan dari apa yang kita kerjakan selama ini baik berupa tugas dan kewajiban kita kepada Allah maupun berupa tugas dan tanggung jawab kita kepada sesama manusia sebagai orangtua, sebagai pejabat negara, sebagai ASN, sebagai anggota TNI, POLRI dan sebagai apapun kita. Kita berharap agar semua yang telah kita kerjakan itu diterima oleh Allah swt. Bersamaan dengan itu, kita harus selalu merasa khawatir, takut jangan sampai apa yang sudah kita lakukan dengan mengorbankan waktu yang tidak sedikit sia-sia adanya, tidak diterima Allah swt. Rasa takut ini diharapkan mendorong untuk meningkatkan ibadah kepada Allah swt.
Selain ibadah hati sebagaimana telah dikemukakan, lisan juga harus digerakkan. Ibadah lisan dapat berbentuk dzikrullah (tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir). Kita banyak bertasbih mengagungkan Allah, Allah yang telah menciptakan, Allah yang telah menyempurnakan ciptaannya, Kita banyak memuji Allah swt, Allah yang membentangkan langit dan bumi dan segala isinya untuk kelangsungan hidup manusia. Kita esakan, kita tauhidkan Allah dalam semua aktifitas kita, dan kita besarkan Allah swt dalam seluruh hidup kita. Salah satu ayat yang dapat dikemukakan tentang perintah menyucikan Allah SWT. QS.Al-A'la: 1 :
سبح اسم ربك الاعلى
Artinya : "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."
Ayat ini mengandung pesan bahwa Allah swt Maha Suci, jauh dari segala sifat kekurangan. Allah Maha Sempurna. Ayat kedua berbunyi :
الذي خلق فسوى
Artinya : Yang menciptakan dan menyempurnakan. Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA bahwa Kesempurnaan ciptaan-Nya bukan hanya manusia tetapi juga makhluk lainnya. Allah menyempurnakan penciptaan masing-masing makhluk dari sisi kualitas dan kuantitasnya. Mungkin kita boleh berkata bahwa kualitas manusia berbeda dengan binatang. Manusia tugasnya beribadah, menjadi khalifah. Sedang binatang tidak memerlukan sama yang dibutuhkan oleh manusia. Binatang membutuhkan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan manusia membutuhkan lebih dari itu. Manusia membutuhkan akal dan perasaan. Inilah kebesaran Allah, keadilan Allah yang selalu harus harus direspon dengan menyucikan-Nya setiap saat.
سبح اسم ربك الاعلى
Artinya : "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."
Ayat ini mengandung pesan bahwa Allah swt Maha Suci, jauh dari segala sifat kekurangan. Allah Maha Sempurna. Ayat kedua berbunyi :
الذي خلق فسوى
Artinya : Yang menciptakan dan menyempurnakan. Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA bahwa Kesempurnaan ciptaan-Nya bukan hanya manusia tetapi juga makhluk lainnya. Allah menyempurnakan penciptaan masing-masing makhluk dari sisi kualitas dan kuantitasnya. Mungkin kita boleh berkata bahwa kualitas manusia berbeda dengan binatang. Manusia tugasnya beribadah, menjadi khalifah. Sedang binatang tidak memerlukan sama yang dibutuhkan oleh manusia. Binatang membutuhkan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan manusia membutuhkan lebih dari itu. Manusia membutuhkan akal dan perasaan. Inilah kebesaran Allah, keadilan Allah yang selalu harus harus direspon dengan menyucikan-Nya setiap saat.
Ibadah hati dan ibadah lisan hendaknya dibuktikan dengan bukti fisik, perbuatan nyata. Dzikir yang kita ucapkan baik tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir hendaknya menjadi kekuatan maha dahsyat menggerakkan tubuh yang disuppor oleh rasa cinta, hormat, syukur, harap dan rasa khawatir untuk membuktikan melalui perbuatan ibadah three in one (ibadah hati, ibadah lisan, dan ibadah perbuatan fisik) ini. Kita buktikan dengan salat wajib lima waktu, salat-salat sunnat, bacaan al-Qur'an dan tentu saja ibadah-ibadah sosial yang tidak terbatas meliputi semua aspek kehidupan.
Dari bacaan kita tentang "Bulan Ibadah" (Puasa Ramadhan Hari Keempat) hari ini mungkin kita boleh berkata bahwa kita sebaiknya menjaga dengan baik tamu ramadhan yang hari ini sedang bersama kita. Hari begitu cepat berjalan tanpa terasa hari ini puasa sudah memasuki hari keempat. Dan mungkin juga waktu tersisa ramadhan berada di tengah-tengah kita tidak banyak terasa sampai meninggalkan kita. Kita boleh berkata selama ramadhan berada bersama kita, kita pelihara dan kita tingkatkan ibadah hati, ibadah lisan, dan ibadah fisik kita ikhlas karena Allah swt.
Wallahu A'lam bi al-shawaab
Ternate, 09 Juni 2016/04 Ramadhan 1437 H
Ternate, 09 Juni 2016/04 Ramadhan 1437 H
Comments
Post a Comment