Bersama al-Qur'an (22)
اقرأ
Bacalah "Selfie"
Selfie secara harfiah seringkali diartikan sebagai aktivitas memotret diri sendiri. 'Selfie’ juga dapat dimaknai sebagai “sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui hand phone (HP) yang kemudian diunggah ke media sosial.” Saat ini selfie begitu populer di kalangan masyarakat. Karena begitu populernya, selfie kini telah menjadi sebuah kebiasaan tersendiri untuk berfoto selfie di tempat-tempat yang disukai. Bahkan mungkin kita semua sudah sering selfie ketika kita ingin mengungkapkan sesuatu, ingin mengekspresikan diri sebagai informasi yang ingin disampaikan kepada orang lain.
Kalau kita simak foto-foto selfie baik yang dilakukan oleh teman-teman fb maupun yang kita lakukan sendiri maka mungkin kita bisa berkata bahwa selfie itu mengandung pesan. Pesan itu begitu cepat tersebar dan dibaca oleh orang banyak tanpa dibatasi ruang dan waktu. Bahkan ketika kita ingin menyampaikan informasi kepada teman, selfie adalah media komunikasi yang sangat efektif. Seorang kepala Sekolah yang sedang melakukan perjalanan dinas keluar kota misalnya, dan belum sempat menyampaikan kepada stafnya, tetapi dengan munculnya selfie di Bandara Sukarno Hatta maka serentak banyak orang tahu. Bukan hanya stafnya, tetapi semua sejawatnya bahkan yang tidak dikenalnyapun mengetahui bahwa sang kepala Sekolah sedang berada di BandaraSukarno Hatta. Serentak berbagai doa dan jempol ditujukan kepada foto selfie kepala sekolah. Selfie itu menyenangkan. Selain kita bisa berkomunikasi dengan teman, kita juga didoakan dan balik mendoakan. Sesuai firman Allah SWT, QS. Muhammad, 47: 19 :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.”
Selfie sarat informasi sesuai pesan yang ingin disampaikan. Selfie sebuah keluarga misalnya. Seorang bapak selfie bersama keluarganya dengan latar belakang perpustakaan mungkin dapat dimaknai bahwa keluarga ini menyukai buku, menyukai pengetahuan atau ingin menginformasikan bahwa buku, ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan ini. Ada yang selfie dengan jamaahnya di depan ka'bah. Mereka mengenakan pakaian seragam dengan kalung di leher bertuliskan dari Indonesia. Kita sudah bisa menebak bahwa selfie ini sedang menginformasikan bahwa mereka sedang melaksanakan ibadah umrah. Ada selfie sedang membaca buku. Mungkin informasi yang ingin disampaikan bahwa membaca itu penting. Oleh karena itu, baginya tiada hari tanpa membaca. Ada juga selfie bersama isteri dan anak-anaknya dengan latar belakang sedang mencicipi makanan kebun (istilah Ternate) yang terdiri atas ubi kayu rebus, ubi jalar rebus, pisang rebus dilengkapi lauknya yang beragam. ada ikan kuahnya, ikan bakar, sambal dan lain-lain. Mungkin kita berkata bahwa keluarga ini sedang menginformasikan bahwa makanan kebun itu adalah makanan sehat dan murah meriah.
Meskipun kita bisa menduga berbagai informasi yang dikandung oleh foto melalui selfie, tetapi yang paling mengetahui tujuan selfie dan pesan yang ingin disampaikan adalah pemilik foto atau yang berselfie itu sendiri.
Di sisi lain kita juga bisa melihat selfie Presiden, selfie menteri, selfie tokoh politik, selfie akademisi, selfie pengusaha dan lain-lain. Selfie-selfie seperti ini multi tafsir. Ada yang menafsirkannya secara positif dan ada juga yang menafsirkannya secara negatif. Tulisan ini tidak bermaksud mempertentangkan antara selfie positif dan selfie yang bisa dinilai negatif. Saya ingin berbagi ide dengan teman-teman fb bahwa kita sejatinya harus selalu dapat mengambil manfaat dari apa yang kita lihat dan yang kita alami atau lakukan. Kali ini kita berusaha mengambil manfaat dari selfie positif. Selfie positif yang dimaksudkan di sini adalah selfie yang memberi informasi edukatif, informasi pencerahan yang memberi motivasi untuk meraih kesuksesan.
Kita mungkin bisa menyebut selfie positif antara lain selfie yang mengandung pesan nilai-nilai pendidikan. Contohnya selfie perjalanan karir kawan saya yang telah berhasil menjadi Dekan. Ketika beliau berlibur ke kampung, tempat dimana beliau dilahirkan, ia merekam riwayat hidupnya dari awal pertama menginjakkan kakinya ke sekolah. Selfie dimulai foto bersama dengan guru-guru SR dan Stanawiyah/PGA nya. Selfie ini mungkin menginformasikan bahwa ia pernah sekolah di SD. Mungkin juga ingin menginformasikan bahwa keberhasilan yang dicapainya tidak dapat dilepaskan dari jasa guru-gurunya di SD dan PGA/Stanawiyah. Mungkin juga dapat dimaknai sebagai wujud terimakasih yang ia sampaikan kepada guru-gurunya yang banyak memberi ilmu pengetahuan dan hikmah. Selfie berikutnya foto bersama teman-temannya yang turut berjasa melambungkan kariernya. Selfie-selfie lainnya adalah foto-foto perjalanan kariernya, selfie tentang berbagai kegiatan akademik termasuk foto-foto selfie bersama keluarga ketika berlibur di Ambon. Namun selfie tidak bisa lagi dilanjutkan karena beliau dipanggil Allah SWT untuk menghadap kepada-Nya (Allahu yarham). Ada juga selfie dengan latar belakang bayi mungil, usia kanak-kanak, remaja dan dewasa. Mungkin pesan yang ingin ditonjolkan pada selfie ini bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan. Tetapi saya ingin menambahkan penafsiran bahwa selfie yang sudah disebutkan saya memaknainya bahwa perjalanan yang sedang kita jalani suatu saat akan berhenti. Kita memang bisa selfie kapan saja sesuai selera masing-masing, namun kalau sudah sampai saatnya kita tidak bisa lagi melanjutkan selfie itu seperti yang dialami oleh kawan saya yang sudah diceritrakan.
Kita juga mungkin berkata bahwa selfie-selfie tersebut adalah selfie edukatif. Pesan yang terbaca dari selfie-selfie itu adalah bahwa untuk mencapai hasil yang optimal dari sebuah pekerjaan harus dimulai dari awal, butuh perjuangan tanpa melupakan jasa orang-orang yang telah berjasa sampai mencapai keberhasilan itu. Al-Qur'an mengingatkan bahwa hendaknya kita tidak melupakan kebaikan atau jasa yang pernah kita terima dari orang lain. QS. Surah al-Baqarah (2) : 371 :
ولا تنسوا الفضل بينكم
(Wala tansawu al-Fadhla bainakum). Artinya: Dan janganlah kamu melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian. Adh-Dhahhak, Qatadah dan Abu Wail menafsirkan kata al-fadhl (kemuliaan) dengan budi baik. Dengan demikian ayat tersebut dimaknai "Janganlah kalian melupakan budi baik di antara kalian".
ولا تنسوا الفضل بينكم
(Wala tansawu al-Fadhla bainakum). Artinya: Dan janganlah kamu melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian. Adh-Dhahhak, Qatadah dan Abu Wail menafsirkan kata al-fadhl (kemuliaan) dengan budi baik. Dengan demikian ayat tersebut dimaknai "Janganlah kalian melupakan budi baik di antara kalian".
Selfie yang sudah dikemukakan mungkin dapat juga dimaknai bahwa hidup ini bersifat sementara. Setiap orang melewati masa kanak-kanak, remaja, dewasa sampai tua dan meninggal dunia.
Al-Qur'an menggambarkan tahapan perjalanan hidup manusia, QS (57): 20.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
( I'lamu annama al-hayatu al-dunya la'ibun wa lahwun wa zinatun wa tafakhurun bainakum wa takatsurun fi al-amwali wa al-awladi kamatsali ghaitsin a'jaba al-kuffara nabatuhu tsumma yahiju fatarahu mushfarran tsumma yakunu huthaman wa fi al-akhirati 'adzabun syadidun wa maghfiratun min Allahi wa ridhwanun wa ma al-hayatu al-dunya Illa mata'u al-ghurur ).
Artinya : "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, serta perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang harta dan anak-anak, ibarat hujan yang mengagumkan para petani tanam-tanamannya kemudian ia menjadi kering, lalu engkau lihat dia menguning kemudian ia menjadi hancur di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah kesenangan yang menipu."
Rasyid Ridha menggambarkan ayat 20 surah al-Hadid itu sebagai awal perkembangan manusia hingga mencapai kedewasaan dan kematangan. Ada beberapa kata kunci yang terkandung dalam ayat, pertama, Al-la'ib (permainan), digambarkan sebagai keadaan bayi. Permainan itu terasa lezat walau si bayi melakukannya tanpa tujuan apa-apa kecuali bermain saja. Kedua, allahwu (kelengahan). Ini melambangkan masa kanak-kanak yang banyak lengah. Pada masa ini lebih banyak mainnya dari pada melakukan yang lebih bermanfaat. Ketiga, al-zinah (perhiasan). Ini melambangkan masa remaja yang suka berhias. Keempat, tafakhur (berbangga-bangga). Ini menyimbolkan masa pemuda karena sifat pemuda adalah suka berbangga-bangga. Kelima takatsur fi al-amwal (memperbanyak harta dan anak). Ini menggambarkan masa dewasa/orang tua yang sifatnya suka memperbanyak harta dan anak.
Di sisi lain ayat yang sudah disebutkan mengandung makna kehidupan di dunia dan di akhirat. Penyebutan maghfirah (ampunan) dan azab (siksa) adalah gambaran dua wajah akhirat. Maksudnya agar kita berhati-hati menentukan pilihan dan sejatinya kita memilih maghfirah ( ampunan) dan ridha bukan siksa.
Dari bacaan kita tentang "selfie" mungkin kita dapat berkata bahwa selfie edukatif, selfie inspiratif, selfie informatif, dan selfie silaturrahim perlu kita pelihara, kita kembangkan untuk mempererat persaudaraan di antara kita, persaudaraan Insaniyah, persaudaraan basyariyah. persaudaraan Islamiyah.
Wallahu a'lam bi al-shawab
Ternate, 31 Mei 2016
Comments
Post a Comment