Skip to main content

Blog authors

My photo
M. Djidin
M. Djidin Dahlan lahir di Mandar, SULBAR, 02 Juni 1955. SD, PGAN 4 Th di Tinambung. SPIAIN, S1 dan S2 di Makassar, S3 di Jakarta. Di Makassar, kuliah di ABA (Bhs. Inggris ), mengajar di Lembaga Bhs IAIN, UMI, MAN, SMP, SMA Nahdiyat, SMP, SMA Trisakti, magang Wartawan Pedoman Rakyat. Juga, aktif ceramah dan khuthbah Jumat. Belajar tasauf di Majlis Ta'lim Habib Abubakar Hasan al-Attas. Bimbingan akhlak tasauf dari ARG. Prof. Dr. KH. Sahabuddin, mendampingi beliau bersafari dakwah ke jamaah Qadiriyah Mandar. Di Makassar, M. Djidin juga berguru kepada KH. Mustari, K. Mursalin Saleh, KH. Hafidz, KH. Muhammad Nur, KH. Abd. Qadir, MA. Mengikuti pengajian KH. Ali Ba'bud, KH. Sanusi Baco, KH. Muchtar Husain. Di Mandar, mengikuti pengajian dan dakwah keliling Annangguru KH. Muh. Saleh, belajar pd Annangguru Hafil, Annangguru Imam Sawang, Guru Ka'do, Pak Jurairi, M. Saleh, Sitti Awi, Pua Pasing. Pengalaman luar negeri, 2007, 4 bulan belajar tafsir di Mesir. 2011, Rajab - ramadhan belajar di Ummul Qura' University, Makkah. Pengalaman jabatan di IAIN Ternate, Ketua Prodi B. Arab, Kajur Tarbiyah, Kajur Adab, Dekan

Bersama al-Qur'an (21)
اقرأ
النور
(al-Nur), Cahaya

Tidak kurang dari empat puluh kali kata النور (al-Nur) disebut dalam al-Qur'an. Penyebutan yang cukup banyak itu mengisyaratkan bahwa kata ini syarat makna, pelajaran dan pengetahuan. Di antara penyebutan al-Nur, ia digandengkan dengan kata al-Zhulumat (kegelapan) QS al-Maidah (5):16, hudan (petunjuk) QS al-Maidah (5): 46, al-Qamar (bulan) QS. Yunus(10):5, dan ada yang dirangkaikan atau didahului oleh kata al-A'ma (buta) dan al-Bashir (melihat), serta diikuti kata al-Zhillu (keteduhan) dan al-Hurur (udara panas) QS. Fathir (35): 19-21. Selain kata Nur, al-Qur'an juga menggunakan kata dhiya' (bersinar) yang disandarkan kepada matahari. QS. Yunus(10):5 : Huwa lladzi ja'ala al-sysyamsa dhiyaan wa al-qamara nuran (Dialah yang menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya). Namun demikian dapat juga dipahami bahwa sinar juga mengandung cahaya. Kalau matahari mengeluarkan cahaya dari dirinya sedangkan cahaya bulan adalah pantulan dari matahari. Namun semua cahaya itu bersumber dari Allah SWT.
Jika kita menyimak ayat-ayat tersebut, ayat-ayat tentang cahaya, kita dapat berkata bahwa cahaya (al-Nur) dalam al-Qur'an dapat dipilah menjadi, pertama, cahaya yang dapat dilihat oleh Indra mata, yang bersifat material dan cahaya yang tidak dapat dijangkau oleh mata kepala, tetapi hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh mata hati. Cahaya yang bersifat material di antaranya dapat disebutkan seperti cahaya bulan, cahaya lampu dan lain-lain. Sedangkan cahaya yang bersifat immaterial seperti cahaya iman, cahaya agama, cahaya ilmu dan lain-lain. Cahaya ini dimaknai terang dan menerangi, berfungsi untuk menghilangkan kegelapan baik yang bersifat material maupun yang bersifat immateril.
Cahaya yang Allah berikan kepada manusia ini banyak manfaatnya. Di antaranya, berfungsi sebagai penerang yang menerangi manusia dan makhluk-makhluk lainnya. Yang bersifat material misalnya, pertama, cahaya matahari. Dengan cahaya matahari kita dapat mengeringkan pakaian yang kita cuci, mengeringkan bahan-bahan makanan yang basah termasuk kerupuk, ikan dan lain-lain. Sebuah sumber menyebutkan bahwa cahaya matahari juga membantu proses terbentuknya awan dengan menguapkan permukaan yang berair sehingga air tersebut menguap dan mengkristal membentuk awan. Setelah awan terbentuk, matahari terus menyinarinya dan membuatnya kembali mencair menjadi peristiwa alam yang kita sebut hujan. Manfaat lain cahaya matahari bagi kehidupan yang lainnya adalah membantu membakar lemak. Lemak yang dimaksud tidak hanya lemak yang berada di bawah jaringan kulit, tetapi juga lemak yang pada akhirnya akan berujung pada penyakit jantung dan kolesterol. Matahari juga merupakan sumber energi paling besar bagi alam semesta/ tata surya, terutama bagi bumi. Seluruh makhluk yang ada di bumi tidak akan dapat hidup tanpa matahari. Matahari merupakan sumber energi yang paling besar. Matahari juga merupakan sumber utama bagi setiap tumbuhan. Tanpa matahari maka tumbuhan akan mati karena tidak dapat memasak untuk kebutuhan dirinya. Jika tidak ada tumbuhan maka manusia juga tidak akan bertahan karena tidak ada oksigen yang dihasilkan di bumi. Siklus hidup manusia dan semua makhluk hidup sangat bergantung pada sinar matahari. Kedua, cahaya bulan. Meskipun cahaya ini adalah pantulan, namun tetap saja kita menyebutnya sebagai cahaya bulan (wa al-Qamara nuran). Cahaya bulan sebagai penerang di malam hari. Perahu-perahu layar berlayar dengan baik dan lancar di malam hari dengan cahaya bulan yang terang benderang.
Cahaya yang bersifat immaterial yaitu cahaya yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala tetapi dapat dilihat oleh mata hati. Cahaya yang termasuk dalam kategori ini adalah cahaya agama, cahaya kebenaran, cahaya iman, cahaya ilmu. Dalam al-Qur'an surah al-Hadid (57):28 : و يجعل لكم نورا تمشون به (wa yaj'alakum nuran tamsyuna bihi). Arti ayat ini : dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan. Kata Nur dalam ayat ini ditafsirkan sebagai hidayah agama. Ayat ini didahului oleh perintah atau panggilan kepada orang beriman agar bertakwa kepada Allah dan beriman kepada rasul-Nya. Artinya, orang yang bertakwa, beriman akan selalu bersama hidayah agama. Jika kita analogikan manusia beriman itu sama dengan kendaraan maka pengemudinya adalah Nur (petunjuk agama). Artinya ia akan berjalan di jalan yang terang benderang. Nur ( hidayah agama ) akan selalu menerangi dengan cahaya kebenaran sehingga kendaraan yang sedang dikemudikan tidak akan tergelincir ke pinggir atau ke jurang (kegelapan/al-zhulumat). Demikian juga cahaya ilmu berfungsi menerangi (kegelapan/kebodohan). Kebodohan identik dengan berada dalam kegelapan, tidak bisa melihat, tidak dapat memahami sesuatu. Dengan ilmu masalah yang tidak jelas, tertutup oleh kebodohan menjadi jelas, terang dengan cahaya ilmu.
Bacaan kita tentang Nur (cahaya) mengandung pesan bahwa cahaya yang diberikan Allah sebagai pemilik cahaya langit dan bumi (Allahu Nur al-samawati wa al-ardh) sarat dengan makna dan pengetahuan. Cahaya tersebut akan memberikan manfaat yang besar jika kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Tetapi apabila kita tidak memanfaatkannya boleh jadi cahaya tersebut akan menjauh dari kita. Ketika kita belum memahami sesuatu dan tidak ada keinginan untuk mengetahuinya berarti kita sedang dalam kegelapan, kita telah ditinggalkan cahaya ilmu, cahaya kebenaran.
Al-Qur'an sebagai cahaya yang menerangi hati, mencerahkan pikiran, memotivasi untuk berbuat baik, tetapi apabila kita tidak berusaha mempepelajari maknanya, pesan yang dikandungnya, atau hanya melagukannya tanpa mentadabburinya, maka boleh jadi Allah SWT akan mencabut cahaya itu dari kita. Hal ini digambarkan al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 17-18 :
{مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ (17) صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ (18) }
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta; maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
Mungkin kita sependapat bahwa kita sebaiknya selalu bersama cahaya, baik cahaya yang terjangkau oleh mata Indra, maupun cahaya yang hanya terjangkau oleh mata hati. Kita ingin menutup kegelapan yang mungkin masih ada dalam diri kita, apakah itu kegelapan dalam hal nilai-nilai kebenaran, atau kegelapan hati untuk suatu kebaikan. Kita saling mengingatkan untuk memanfaatkan cahaya itu secara optimal sehingga cahaya-cahaya itu selalu terang dan menerangi kehidupan kita, menerangi aktifitas yang sedang kita jalani.
Wallahu a'lam bi al-shawab
Ternate, 30 Mei 2016

Comments

Popular posts from this blog

Bersama al-Qur'an (164) ‎(إقرأ) M. Djidin IAIN Ternate Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Ayat kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini. Bacaan kita hari ini : Permohonan Maaf dan Ucapan Doa Selamat Sejak pagi tadi, Sabtu, 10 Agustus 2019 medsos banyak diisi ucapan permohonan maaf. Permohonan maaf disampaikan kepada sahabat, teman kerja, kawan sekampung, sahabat fb menjelang hari raya Idul Adha. Ucapan selamat juga disampaikan dengan momen yang sama menyambut tibanya hari raya haji yang biasa juga disebut hari raya korban. Mengapa permohonan maaf. Permohonan maaf adalah upaya merekatkan persahabatan, pertemanan yang sudah dijalin sebelumnya. Ada ungkapan lidah tak bertulang. Artinya, boleh jadi selama terjalinnya persah...
Bersama al-Qur'an (148) ‎(إقرأ) M. Djidin IAIN Ternate Membaca ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Ayat kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah SWT. Ayat kauniyah adalah ayat dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan lainnya yang ada di sekitar kita, di alam ini. Bacaan kita hari ini : Dua Hari di Yogya : Inspirasi dan Motivasi Bagai Dua Sisi Mata Uang yang Harus Selalu Bersama. Inspirasi dan motivasi dalam tulisan ini  juga terinspirasi dari sebuah tulisan Bapak Ngainun Naim, Ketua LP2M IAIN Tulungagung Dalam sebuah tulisan Bersama al-Qur'an nomor 146 yang saya publish saat semalam berada di Yogya, 15 Juli 2019, seorang mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga menulis di kolom komentar. "Assalamu Alaikum ustadz. Apa kita bisa ketemu di Yogya?" tanya Sakti Garwan kepada saya. Anak sulung dari beberapa bersaudara ini adalah sangat dekat ...
Bersama al-Qur'an (57) Bacalah (إقرأ) "Membaca Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah". Ayat Qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam al-Qur’an. Sedangkan Ayat Kauniyah adalah ayat atau tanda yang tampak di sekeliling yang diciptakan oleh Sang Khaliq, Allah swt. Ayat-ayat kauniyah bisa dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan ciptaan Allah SWT lainnya yang ada di dalam alam ini. "Wisuda Magister" Waktu berjalan tiada henti. Dua puluh tahun terasa begitu cepat. Saat itu, 1997 usai acara wisuda Pasca Sarjana IAIN Alauddin (UINAM), saya larut dalam suasana gembira, senang, dan bahagia bersama para keponakan yang lucu-lucu. Kegembiraan itu saya wujudkan dalam foto bersama mereka. Hari ini 2018, kenangan foto itu masih kuat dalam memori saya. Melalui tulisan ini, bersama al-Qur'an, saya ingin berbagi dengan teman-teman fb. Sebagaimana yang tampak, saya berfoto bersama empat keponakan. Mereka saat itu masih usia dini, TK dan ...