Bersama al-Qur'an (15)
اقرآ
Bacalah ADIA
Bacalah The 1st Annual International Symposium on Islam and Humanities
Bacalah The 1st Annual International Symposium on Islam and Humanities
Bacaan kita kali ini adalah bacaan tidak tertulis. Pada masa Rasul saw budaya hafal itu lebih kuat dari pada budaya tulis. Al-Qur'an yang diturunkan kepada nabi saw melalui malaikat Jibril secara bertahap dimaksudkan agar apa yang diterima Nabi itu mudah dihafal, mudah diajarkan, dijelaskan kepada sahabat-sahabat beliau kemudian pada gilirannya sahabat-sahabat Nabipun mudah menghafalnya. Itulah sebabnya maka kemudian lahir berbagai mushaf al-Qur'an berbagai versi berdasarkan penyusunnya. Para sahabat yang menghafal al-Qur'an masing-masing menyusun mushaf sesuai hafalannya. Pada akhirnya mushaf Usmanlah yang menjadi mushhaf Imam, mushaf yang disepakati sebagai representatif, bisa diterima semua kelompok untuk dijadikan mushaf al-Qur'an resmi karena mushaf-mushhaf lainnya banyak dipengaruhi dialek penulis/penyusunnya.
Pada kesempatan ini saya akan berusaha merekam yang sudah tersimpan di dalam memory saya berkaitan dengan sebuah kegiatan akademik berskala nasional bahkan internasional. Kegiatan dimaksud adalah kegiatan ADIA (Assosiasi Dosen Ilmu Adab dan Humaniora dan Forum Dekan Fakultas Adab dan Humaniora se-Indonesia dirangkaikan dengan The 1st Annual International Symposium on Islam and Humanities. Saya tidak akan merekam semuanya tetapi satu di antaranya, berkaitan bahasa Asing untuk sharing dengan teman-teman fb semoga bermanfaat.
Pentingnya bahasa Asing
Simposium ini menghadirkan nara sumber dari Belanda dan Malaysia. Dr. Nico. J.G. Kaptein dari Belanda menggunakan bahasa Inggris dan Prof. Dr. Munjid Mustafa dari Malaysia menggunakan bahasa Arab ditambah nara sumber tuan rumah, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry menggunakan bahasa Indonesia.
Simposium ini menghadirkan nara sumber dari Belanda dan Malaysia. Dr. Nico. J.G. Kaptein dari Belanda menggunakan bahasa Inggris dan Prof. Dr. Munjid Mustafa dari Malaysia menggunakan bahasa Arab ditambah nara sumber tuan rumah, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry menggunakan bahasa Indonesia.
Kesimpulan yang saya tangkap dari simposium ini bahwa ketika kita akan menghadiri sebuah simposium internasional bekal yang pertama yang dipersiapkan untuk dibawa adalah bahasa Inggris dan bahasa Arab termasuk bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kita salut dan sangat mendukung Kemenag yang sudah berusaha mengantisipasi dan mencari solusi terbaik mengatasi kekurangan dalam hal bahasa asing ini.
Kita salut dan sangat mendukung Kemenag yang sudah berusaha mengantisipasi dan mencari solusi terbaik mengatasi kekurangan dalam hal bahasa asing ini.
Salah satu program Kemenag adalah sebuah program yang untuk menyiapkan kemampuan berbahasa asing bagi para dosen, tenaga kependidikan, alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan alumni penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama yang memiliki minat untuk melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Luar Negeri (PT-LN) melalui Program 5000 Doktor. Kursus ini dilaksanakan secara intensif untuk meningkatkan kemampuan bahasa atau memperkuat kemampuan bahasa yang telah dimiliki oleh calon peserta. Tujuannya Meningkatkan kemampuan bahasa asing dan mempersiapkan calon/kandidat penerima beasiswa studi luar negeri.
Adapun sasarannya adalah dosen tetap pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI);
Dosen Tetap di Fakultas Agama Islam (FAI) pada Perguruan Tinggi Umum (PTU);
Tenaga Kependidikan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI);
Tenaga Kependidikan pada Unit Eselon I Kementerian Agama (Pusat);
Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan alumni penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama yang diproyeksikan sebagai calon dosen PTKI.
Dosen Tetap di Fakultas Agama Islam (FAI) pada Perguruan Tinggi Umum (PTU);
Tenaga Kependidikan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI);
Tenaga Kependidikan pada Unit Eselon I Kementerian Agama (Pusat);
Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan alumni penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama yang diproyeksikan sebagai calon dosen PTKI.
Jenis kursus antara lain, pertama, Kursus Intensif 3 Bulan. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing para Dosen dan Tenaga Kependidikan PTKI serta PNS pada Unit Eselon I Kementerian Agama pusat yang telah memiliki nilai tes bahasa asing minimal setara dengan TOEFL ITP 513-547, dan memiliki minat yang kuat untuk melanjutkan studi S3 ke luar negeri. Kedua, Kursus Intensif 6 Bulan; Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing para Dosen dan Tenaga Kependidikan PTKI serta PNS pada Unit Eselon I Kementerian Agama pusat yang telah memiliki nilai tes bahasa asing minimal setara dengan TOEFL ITP 477-510, dan memiliki minat yang kuat untuk melanjutkan studi S3 ke luar negeri. Ketiga, Pembibitan Calon Dosen; Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing para lulusan PTKI bukan dosen tetap yang telah memiliki nilai tes bahasa asing minimal setara dengan TOEFL ITP 477-510, dan memiliki minat yang kuat untuk melanjutkan studi ke luar negeri, serta memiliki komitmen untuk mengabdi ke PTKI setelah menyelesaikan studi. Keempat, Bantuan Sertifikasi Bahasa.
Program ini dimaksudkan untuk memperbaharui nilai tes (internasional) bahasa asing para dosen dan tenaga kependidikan PTKI serta PNS pada Unit Eselon I Kementerian Agama pusat yang telah siap melanjutkan belajar ke luar negeri dengan nilai sertifikat yang telah memenuh syarat menurut perguruan tinggi tujuan ( sumber Kemenag ).
Program ini dimaksudkan untuk memperbaharui nilai tes (internasional) bahasa asing para dosen dan tenaga kependidikan PTKI serta PNS pada Unit Eselon I Kementerian Agama pusat yang telah siap melanjutkan belajar ke luar negeri dengan nilai sertifikat yang telah memenuh syarat menurut perguruan tinggi tujuan ( sumber Kemenag ).
Relevan dengan program Kemenag tersebut yang masih terbatas untuk dosen-dosen tertentu, maka untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya, berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia melakukan terobosan dengan membuat MoU dengan berbagai perguruan tinggi di luar negeri dalam rangka memperkuat bahasa Asing (Arab dan Inggris). Ada juga perguruan tinggi lain yang mengirim dosennya untuk mengikuti kursus bahasa Arab dan Inggris di Pare Jawa Timur, yang lainnya mendisain untuk mendatangkan pakar bahasa ( teori dan praktek) dari perguruan tinggi lain.
Pentingnya bahasa Arab menurut al-Qur'an karena bahasa inilah yang digunakan oleh al-Qur'an. Kita dapat baca misalnya, dalam surat Yusuf : 2 ; Ar-Ra’du : 37; An-Nahl : 103; Thaha : 103; Asy-Syu’ara : 195; Az-Zumar : 28; Fushshilat : 3 & 44; Asy-Syura : 7; Az-Zukhruf : 3; Al-Ahqaf : 12; Surat Yusuf : 2
Al-Qur'an saat ini tidak hanya dikaji oleh orang Islam tetapi juga dikaji oleh orang di luar Islam. Pada masa yang lalu seorang orientalis berkebangsaan Jerman telah melakukan kajian terhadap al-Qur'an meskipun tujuannya mengkritik al-Qur'an. Atas dasar ini kita semakin dituntut untuk bersungguh-sungguh mempelajari dan memahami bahasa Arab agar kita tidak menjadi penonton dan mampu memberikan argumen rasional terhadap orientalis yang menguasai bahasa Arab semisal Noldeke.
Theodore Noldeke adalah seorang tokoh orientalis Jerman yang mempunyai reputasi besar dalam studi al Qur’an. Ia lahir pada tanggal 2 Maret 1837 di kota Hamburg, Jerman. Pendidikan tingginya ia tempuh di Universitas Gottingen dengan bekal penguasaan bahasa Latin dan Bahasa Semit. Ia belajar bahasa Semit kepada salah seorang sahabat ayahnya yang bernama H. Ewald dengan materi bahasa Arab, Persia beserta sastranya.
Studinya terhadap bahasa-bahasa semit ia lanjutkan dengan mempelajari bahasa Suryani kepada H. Ewald, dan bahasa Arami, yang ia gunakan dalam mengkaji kitab-kitab suci, kepada Bartheau. Kemudian ia juga mempelajari bahasa Sansekerta kepada Benfay dan ia teruskan saat menjadi Profesor di Universitas Kiel pada tahun 1864-1872.
Prestasi akademik pertamanya ia dapatkan sewaktu meraih sarjana tingkat pertamanya dengan skripsinya yang ia beri judul “Tarikh al Qur’an” ( sudah diterjemahkan ). Dan dengan karyanya ini dia mendapatkan penghargaan atas studi Qur’an dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1858 dari otoritas akademik Prancis dan memberikannya hadiah sebesar 1.333 Franc Prancis atas keberhasilannya dalam penelitian sejarah al Qur’an. Dua tahun setelah itu, tahun 1860, Noldeke dengan dibantu oleh muridnya Schwally, menerbitkan karangannya yang ditulis dalam bahasa Latin ke dalam bahasa Jerman, dengan beberapa tambahan yang sangat luas, yang diberi judul “Geschichte des Qorans”.[2]
Ia mempunyai motivasi tinggi terhadap studi al Qur’an. Hal ini terbukti dengan ia mengikuti perlombaan dalam penelitian mengenai sejarah al Qur’an. Ia berangkat dalam penelitiannya dengan asumsi bahwa al Qur’an bukanlah kitab suci yang orisinal bagi agama Islam. Al Qur’an hanyalah sebuah kitab hasil penduplikatan Muhammad dari kitab-kitab terdahulu dan menuduh Muhammad hanyalah seorang impostor dan bukan seorang nabi, seperti yang selama ini diyakini umat muslim.
Studinya terhadap bahasa-bahasa semit ia lanjutkan dengan mempelajari bahasa Suryani kepada H. Ewald, dan bahasa Arami, yang ia gunakan dalam mengkaji kitab-kitab suci, kepada Bartheau. Kemudian ia juga mempelajari bahasa Sansekerta kepada Benfay dan ia teruskan saat menjadi Profesor di Universitas Kiel pada tahun 1864-1872.
Prestasi akademik pertamanya ia dapatkan sewaktu meraih sarjana tingkat pertamanya dengan skripsinya yang ia beri judul “Tarikh al Qur’an” ( sudah diterjemahkan ). Dan dengan karyanya ini dia mendapatkan penghargaan atas studi Qur’an dua tahun kemudian yaitu pada tahun 1858 dari otoritas akademik Prancis dan memberikannya hadiah sebesar 1.333 Franc Prancis atas keberhasilannya dalam penelitian sejarah al Qur’an. Dua tahun setelah itu, tahun 1860, Noldeke dengan dibantu oleh muridnya Schwally, menerbitkan karangannya yang ditulis dalam bahasa Latin ke dalam bahasa Jerman, dengan beberapa tambahan yang sangat luas, yang diberi judul “Geschichte des Qorans”.[2]
Ia mempunyai motivasi tinggi terhadap studi al Qur’an. Hal ini terbukti dengan ia mengikuti perlombaan dalam penelitian mengenai sejarah al Qur’an. Ia berangkat dalam penelitiannya dengan asumsi bahwa al Qur’an bukanlah kitab suci yang orisinal bagi agama Islam. Al Qur’an hanyalah sebuah kitab hasil penduplikatan Muhammad dari kitab-kitab terdahulu dan menuduh Muhammad hanyalah seorang impostor dan bukan seorang nabi, seperti yang selama ini diyakini umat muslim.
Jika kita paham benar apa tujuan orientalis mempelajari al-Qur'an mungkin kita bisa berkata bahwa kita semakin dituntut untuk memahami bahasa Arab dan tentu saja bahasa Inggris yang juga banyak digunakan orientalis mengkaji al-Qur'an.
Menurut Prof. Dr. Shabur Sahin, guru besar Universitas al-Azhar Cairo bahwa kelebihan kajian orientalis adalah segi metodologinya dan kurang materinya, sedangkan kajian sarjana Muslim tentang al-Qur'an kelebihannya ada pada segi materinya tetapi kurang metodologinya.
Kesimpulan bacaan kita terhadap ADIA ( Assosiasi Ilmu Adab dan Humaniora ) bahwa :
1. Kita sejatinya berusaha mencintai bahasa Arab, memahami bahasa Arab dengan baik. Kita salut kepada bapak Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya salah seorang teman fb kita telah mensosialisasikan bagaimana pentingnya bahasa Arab, bagaimana mempelajarinya dan bagaimana mempraktikkannya. Pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab lewat face book ini sangat diminati teman teman fb termasuk dari negara tetangga, Timor Leste.
1. Kita sejatinya berusaha mencintai bahasa Arab, memahami bahasa Arab dengan baik. Kita salut kepada bapak Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya salah seorang teman fb kita telah mensosialisasikan bagaimana pentingnya bahasa Arab, bagaimana mempelajarinya dan bagaimana mempraktikkannya. Pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab lewat face book ini sangat diminati teman teman fb termasuk dari negara tetangga, Timor Leste.
2. Kita seharusnya mampu membaca al-Qur'an dengan fasih, baik dan benar, mampu menerjemahkannya, mampu memahaminya, dan mampu mengajarkannya.
Wallahu a'lam bi al-shawab
Banda Aceh, Senin, 16 Mei 2016
Comments
Post a Comment