Bersama al-Qur'am (13)
سيروا فى الارض
ثم انطروا
سيروا فى الارض ثم انظروا. Siiruu fi al-ardh stummandzuruu (Berjalanlah kamu di muka bumi lalu perhatikanlah. Perintah berjalan di muka bumi dalam al-Qur'an, S. al-Imran (3:137); S. al-An'am (6:11); S. al-' Ankabut (29:20) ini adalah perjalanan yang memiliki tujuan yang baik disertai dengan renungan dan pikiran (lihat bersama al-Qur'an 2). Perjalanan dimaksud boleh jadi termasuk juga di dalamnya mengikuti seminar, simposium baik nasional maupun internasional.
Beberapa waktu lalu saya menerima undangan dari panitia the 1th Annual International symposium on Islam and Humanities Forum Dekan dan Assosiasi Dosen Ilmu Adab dan Humaniora (ADIA) se - Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.
Undangan yang sama sudah dua kali diterima tetapi belum dapat dipenuhi. Oleh karena itu undangan kali ini tidak boleh dilewatkan dan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengikuti kegiatan tersebut segera dipersiapkan. Untuk ke Banda Aceh saya akan menggunakan dua pesawat yang berbeda. Pesawat dari Ternate ke Jakarta dan pesawat dari Jakarta ke Banda Aceh.Tanggal pemberangkatan saya dari Ternate ke Jakarta sesuai yang terbaca di Boarding Pass sebagai berikut : Flight (penerbangan) No. GA. 649, Gates 3, Boarding 07.55 from (dari) Ternate to(ke) Jakart, Seat 34. A. Pintu ditutup 15 menit sebelum berangkat.
Saya berusaha mengatur waktu dengan baik. Satu minggu sebelum keberangkatan surat tugas saya yang ditandangani Rektor sudah selesai. Sedangkan tiket dan SPPD diselesaikan satu hari sebelum berangkat. Tugas berikutnya yang harus dipersiapkan adalah barang bawaan dan alhamdulillah sudah diselesaikan oleh ibu dari tiga anak saya yang sangat setia dengan penuh kesabaran bersama saya mengemudikan perahu kecil, rumah tangga kami. Tugas yang terakhir sebelum berangkat, dan ini saya anggap sangat penting adalah mendampingi anak ketiga saya si bungsu berlatih sebagai persiapan menghadapi debat antar Sekolah Menengah Pertama menggunakan bahasa Indonesia mewakili Madarasah Stanawiah Negeri Ternate. Doa saya menyertai nanda Ariqah Mumtazah, semoga lancar dan sukses.
Jam 08.15 waktu Ternate pesawat GA 649 take off. Jarak tempuh Ternate - Jakarta memakan waktu 3 jam dan jam 11. 35 ( 09.35 waktu Jakarta) pesawatnya tiba di Bandara Sukarno Hatta. Jam 11.45 waktu Jakarta calon penumpang tujuan Jakarta - Banda Aceh dipersilahkan naik pesawat GA 146 . Jam. 12.35 Take off dan sekitar 2, 26 jam sepanjang penerbangan sehingga akhirnya sekitar 03.15 tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Karena hujan deras cukup lama, saya tiba di Grand Nanggroe Hotel Banda Aceh sekitar jam 17.00 waktu Banda Aceh (WIB).
Perjalanan ini sedikit terganggu namun secara umum lancar dan menyenangkan. Terganggu karena baik dari Ternate ke Jakarta maupun dari Jakarta ke Banda Aceh beberapa menit cuaca kurang bagus. Kebetulan saya duduk di pinggir jendela, No kursi saya di pesawat pertama 34 A dan di pesawat kedua, nomor 37 A. Awan tampak berlari sangat kencang dari arah depan pesawat, gelap. Pada saat yang bersamaan terdengar suara pramugari meminta kepada penumpang yang meninggalkan tempat segera ke tempat duduk dan memasang seat belt. Sementara seorang bapak dan seorang ibu di depan saya tampak gelisah membuat bapak (Pak Ihya pegawai BKKBN di Banda Aceh) di samping saya yang sedang mendengar musik terganggu karena video yang terletak di depannya menempel dengan kursi ibu yang gelisah tadi.
Hasil perhatian, pengamatan, bacaan saya dari keadaan yang saya amati bahwa ketika kita berada di pesawat kita mungkin merasa gelisah, takut ketika cuaca buruk. Hal yang sama mungkin akan dirasakan oleh pejabat, pengusaha, PNS , TNI POLRI dan siapapun kita. Karena sifat menyesal, marah, gelisah dan lain-lain semacamnya adalah milik manusia. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kebahagiaan, kenyamanan, kesenangan yang dirasakan ketika masih hidup adalah bersifat sementara.
Al-Qur'an memberi petunjuk bahwa kebahagiaan, kesejahteraan sesungguhnya hanya ada di dalam surga. Prof.Dr. M.Quraish Shihab pada suatu ketika 2003 menjelaskan bahwa kalau kita mau mencari konsep kebahagiaan dalam al-Qur'an maka kata yang paling mendekati adalah kata faza ( beruntung/bahagia). Kata ini dalam berbagai bentuknya selalu bergandengan dengan kata surga ( jannah). Surga adalah tempat menikmati kebahagiaan yang abadi. Misalnya pada surah berikut :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. 3:185)
Pada ayat ini ada kata udkhila al-jannah (dimasukkan ke dalam surga). Lalu diikuti kata faza (beruntung).
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. 3:185)
Pada ayat ini ada kata udkhila al-jannah (dimasukkan ke dalam surga). Lalu diikuti kata faza (beruntung).
Kita juga dapat menemukan dalam banyak ayat kata faza dalam berbagai bentuknya digandengkan dengan kata surga ( jannah). Contoh lainnya seperti pada surah al-Taubah ayat 72. Dalam ayat ini disebutkan orang mukmin dijanjikan oleh Allah surga ( jannatin) lalu diakhiri dengan kata dzalika huwa al-fauzu al-'adzim (demikian itu adalah orang-orang yang berbahagia/beruntung). Pada surah al-Jatsiyah ayat 30 dijelaskan oleh Allah SWT bahwa orang yang beriman dan beramal saleh, Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Kata yang digunakan di sini adalah rahmatihi (surganya) dan bergandengan kata dzalika huwa al-fauzul-mubin (demikian itu orang yang berbahagia).
Kesimpulan dari perjalanan untuk mengikuti the 1th Annual Internatoonal symposium on Islam and Humanities ini adalah pertama, bahwa kita dalam menjalani pekerjaan/tugas yang ditekuni atau kita boleh berkata bahwa selama kita di dunia ini jangan pernah membayangkan akan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu tidak pernah merasa khawatir, tidak pernah gelisah, tidak pernah mengeluh dan seterusnya. Karena kondisi yang demikian baru akan dirasakan di surga. Artinya kalau mau bahagia yang sebenarnya syaratnya adalah kita mati terlebih dahulu. Kedua, jika kita merenung , memikirkan tentang kebahagiaan yang hakiki, tampaknya sebagai orang yang beragama kita sudah seharusnya mempersiapkan diri untuk mendapatkannya. Persiapan itu boleh jadi kita menjadi lebih bijaksana dalam kehidupan ini, memilih sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak berfaedah. Kita sejatinya berusaha menjadi rahmat bagi siapa dan apa yang ada di sekitar kita.
Wallahu a'lam bi al-shawab
Grand Nanggroe Hotel Banda Aceh
13 Mei 2016
Grand Nanggroe Hotel Banda Aceh
13 Mei 2016
Comments
Post a Comment